Review: Cipta Hotel Pancoran

Sebenarnya acara Arisan Film yang biasanya dibikin untuk kumpul teman-teman blog Multiply awalnya tanggal 17 Januari, dan saya sudah mengosongkan jadwal untuk ke Jakarta dan ikut ngumpul. Tapi karena satu dan lain hal diundur jadi tanggal 30 Januari. Sempat ngambek beberapa hari karena tanggal segitu saya ada jadwal jaga. Dan harus me-refund hotel yang sudah terlanjur dipesan.

Selama beberapa hari saya tidak memikirkan AF karena sudah terlanjur jengkel.

Seminggu sebelum AF, setelah saya sudah reda, saya berusaha mencari pengganti jaga tanggal 30, ketika senior dapat menggantikan saya sehari setelahnya saya membooking kereta dan penginapan selama di Jakarta.

Jumat, 29 Januari 2016

Saya sampai di stasiun Jatinegara jam 13, menggunakan gojek menuju hotel pertama Cipta Hotel di Jl. Pasar Minggu, tepat di sebelah Amaris Hotel.

DSCF0057

‘Maaf boleh check in awal?’ karena saya nyampe hotel jam 13.30.

‘Sudah reservasi sebelumnya, Pak? Atas nama siapa?’

‘Sudah, atas nama Teguh.’ lalu dibantu resepsionis laki-laki, ‘Bapak special request double bed ya, berarti kasurnya dua.’

‘Iya, saya pesan double bed. Tapi kalo double bed itu kasurnya queen size kalo twin bed baru dua.’ lalu malah si resepsionis laki-laki ini ngotot, dan sepertinya sudah jengkel.

Kemudian resepsionis perempuan mengulurkan brosur, yang intinya tipe kamar yang saya pesan memang twin bed tidak bisa diganti untuk double bed. Coba dari awal bilang begitu, nggak perlu ada yang merasa dibodohi, tersinggung.

DSCF0060

‘Kami memang fokusnya untuk corporate, Pak!’ ya, kan tapi…

Sampai kamar kesannya sempit, pemandangan dari kamar terhalang oleh Amaris Hotel, dan bantal kecil yang ada di kedua kasur ada bercak-bercak kehitaman, dan seperti bekas iler yang mengeras. Ada karpet, ketel pemanas air dan cuma tersedia teh.

DSCF0059

Besok paginya saya turun ke lantai dua untuk sarapan, variasi makanan kurang, tapi rasa makanannya lumayan. Setelah kelar makan saya masuk ke lift langsung pengin ke kamar, tapi apa yang terjadi? kartu yang saya pakai macet, tidak bisa digunakan. Jadilah saya turun ke lantai satu untuk komplain.

Mas resepsionisnya memasukin kartu ke alas, meng-klik komputer beberapa kali dan setelah dia yakin dia memberi kartunya kembali ke saya. Saya yakin saja kalo kartunya sudah berfungsi dengan baik.

Masuk lift, pintu lift sudah tertutup. Saya menempelkan kartu saya, tapi tidak berespon. Saya membolak-balikkan kartu tetap tidak ada respon. Saya panik karena lift kan tempat sempit dan saya tidak begitu menyukai tempat sempit. Sempat berpikir untuk membunyikan alarm, tapi saya melihat celah di lift. Saya pun membuka paksa lift tersebut kemudian saya kabur ke resepsionis untuk kembali komplen. Setelah resepsionisnya bolak-balik lift-komputer baru bisa digunakan kartunya.

Saya pun naik ke atas, lalu saat di depan kamar saya menempelkan kartu saya di depan sensor untuk membuka pintu. Tapi kartu saya ditolak mentah-mentah. Saya coba bolak-balik mencoba tapi hasilnya nihil. Saya dengan jengkel turun kembali dari lantai sembilan ke lantai dasar, untuk komplen.

Tapi yang saya baru sadari, tidak ada kata maaf dari resepsionisnya, cuma membenarkan, padahal apa yang dialami seorang pelanggan murni kesalahan hotel. Bahkan saat untuk check-out pun saya merasa dijutekin sama resepsionis, tidak ada senyum, bahkan ucapan terima kasih pun tidak ikhlas.

‘Mbak mau check-out,

‘Kamar berapa, Pak?’

‘918.’

‘Oh dari Traveloka. Terima Kasih.’ Tanpa melihat orang yang dihadapinya.

Balik lagi ke Cipta Hotel Pancoran? Tentu tidak.

Catatan Kecil

Dari kecil saya termasuk dalam golongan drama king, merasa hidupnya paling menderita. Kalau lagi bertengkar sama kakak, lalu Ibu dan Bapak malah belain kakak, nangislah saya tersedu-sedu. Bahkan pernah terlintas dalam pemikiran saya ketika masih SD, pengin hidup saya berakhir saja, biar hidup orang tua dan kakak lebih bahagia.

Kalau senang, terlalu berlebihan, dan begitupun kalau sedih, rasanya dunia menangis untuk saya (duh!)

Ketika Bapak meninggal tahun 2002, rasanya iri sama orang yang punya keluarga utuh, punya Bapak dan Ibu lengkap, tanpa kekurangan apapun. Kayaknya paling senang melihat keatas, ngeliat hal-hal yang kita nggak punya dibanding apa yang kita punya saat ini.

Beberapa hari lalu sekitar jam 03.30 Ibu sudah bangun dan pengin sesuatu, dan saya nggak segera beranjak untuk ngelakuin permintaannya. Ibu bukannya marah tapi ngeluh, katanya karena dia nggak bisa jalan, jadi permintaan dia nggak bisa segera dilaksanain.

Dan ada keluarga jauh yang meninggal, dia berceletuk, ‘Kalau orang lain meninggal mudah, tapi kalau saya kok lama ya.’

Pagi itu saya agak mengomel ke Ibu, kalo Ibu harusnya bersyukur  dia masih bisa jalan meski dibantu, masih bisa keluar, dibanding orang yang tiap hari di tempat tidur. Paling mudah memang ngomong, padahal melakukan sesuatu sesederhana itupun saya terkadang masih belum bisa melakukannya, masih sering mengeluh.

Kemarin saya bertemu teman, sebelumnya cuma kenalan dari dunia maya. Selama beberapa bulan, kemudian dia ke Cirebon karena adiknya akan menikah dan mendapatkan calon orang Cirebon, jadilah dia ke sini. Katanya untuk merapatkan pernikahan, dan tetek bengeknya.

Singkat cerita dia bilang orang tuanya, Bapak dan Ibunya sudah nggak ada, cuma berselang satu tahun saat akhir SMA dan mulai kuliah. Dan dia cuma berdua dengan adiknya yang akan menikah.

‘Aku bakal bertugas jadi Bapak untuk pernikahan adikku, pas ngunduh mantu-pun, aku yang harus maju,’

Apa ada nada getir dari nadanya? Surprisingly nggak ada, bahkan dari obrolan yang mengalir dia sepertinya sudah menerima takdir yang akhirnya menjadikannya sepi hanya dia dan adiknya. Gimanapun tugas yang nggak mudah untuk jadi kepala rumah tangga, mengambil alih kewajiban untuk bimbing seorang adik.

Saya enak masih punya banyak kakak, waktu Bapak nggak ada, Ibu masih bekerja, membiayai sekolah saya, hidup saya. Dan ketika Ibu sudah tidak bekerja, ada kakak saya yang mau membiayai saya.

Hidup orang lain tampak lebih membahagiakan, tapi kita nggak pernah tahu gimana cara menggapainya. Tapi masih banyak orang yang bisa jadi nggak sebahagia kita saat ini.

Alhamdulillah..

Kapan (?)

Udah berapa kali dengar kalimat,

‘Kapan nikah?’ dan akan terus berlanjut dengan pertanyaan kapan punya anak, adik untuk anak (kita), cucu, dan seterusnya.

Satu jawaban kepada satu orang nggak akan cukup untuk menuntaskan dahaga mereka untuk pertanyaan yang kadang bikin lelah.

Ada hal-hal yang nggak mungkin dijabarkan kenapa kita belum menikah, punya anak dan apapun itu. Pasti ada alasan kenapa kita memilih untuk dalam kondisi ini.

Cukup sekali bertanya, tidak perlu berulang.

Karena akan menjadi beban untuk yang ditanya, mungkin ada yang easy going, dan bersikap masa bodoh. Tapi nggak sedikit yang mengganjal di hati, jadi momok stress tersendiri.

Biarkan mereka pada pilihan dan takdir mereka. Mereka (saya) akan menemukan waktu mereka sendiri. Waktu untuk memenuhi takdir selanjutnya.

Asalkan tidak mengganggu hidup anda, maka biarkanlah.

**random malam hari setelah ditanya kapan nikah kesekian kalinya. Dan untuk pertama kali dalam beberapa bulan buka laptop.

Belajar Berjalan

Bayi nggak cuma sekali terjatuh saat dia belajar berjalan. Jatuh, dia akan menangis, kemudian bangun kembali dan melangkahkan kakinya perlahan, tak terburu. Dia jatuh kembali, kini dia cuma sedikit kecewa, mengapa harus jatuh dalam kondisi yang sama, tapi tidak ada kata menyerah dia bangkit lagi dan mulai belajar berjalan.

Jalanku memang tidak bisa secepat orang lain, mungkin sambil tertatih, belum berlari mengejar yang lain. Tapi aku maju ke depan, aku menangis saat aku terjatuh, cukup keras dan mungkin membuatku malu ketika aku mengingatnya waktu itu. Kemudian aku (pun) terjatuh kembali, yah aku kecewa aku ingin seperti yang lain bisa menikmati bagaimana indahnya berjalan meraih apa yang kita inginkan.

Berulang kali orang tidak melihat siapa kita, kadang membuat kita (aku) apakah mungkin aku setidak berharga itu untuk sekedar diperjuangkan, atau membalas apa yang ada di otak, pikiran, dan hatiku. Tapi setiap hal yang tidak secara tulus diberikan atau sekedar berharap orang (itu) menyadari bahwa kita melakukan itu untuk mereka, akan kembali seperti gaung, bersuara tapi tak bisa tergenggam hanya seperti harapan kosong.

Aku belajar untuk berjalan, darimu, dari mereka. Sabarlah.

#randomthought

Mengunjungi Wakatobi

IMG_0193Berawal dari sapaan iseng ke teman yang sedang ada di Makassar, tiba-tiba dia mengajak untuk traveling bareng. Tadinya tempat yang akan dikunjungi nggak cuma satu tempat, selain Wakatobi juga tadinya akan ke Labengki. Tapi, jika ingin menginjakkan kaki ke Labengki harus mengumpulkan banyak orang untuk menghemat pengeluaran terutama penyebrangan. Sedangkan saat itu yang akan menyebrang cuma saya dan teman, jadilah Labengki harus ditunda terlebih dahulu. Next trip InsyaAllah.

Jumat pagi saya ke Jakarta menggunakan kereta, sampai di Jakarta langsung ke Bandara, Kendari tempat ketemu teman. Karena dia harus kondangan teman SMAnya, sehingga saya pun ke Kendari. Di Kendari menginap satu malam, sebelum menyebrang ke Bau-Bau.

Sabtu pagi jam sepuluh sebenarnya ada kapal langsung menuju Wangi-Wangi (sebagian orang masih mengenalnya dengan Wanci) tapi karena tadinya masih mengharapkan kepastian ke Labengki, melewatkan kapal langsung. Akhirnya menggunakan kapal cepat menuju Bau-Bau jam satu siang. Lima jam di kapal menuju Bau-Bau, sempat hampir turun di Raha, untung saja sempat bertanya ke Ibu-Ibu. Pada akhirnya harus menunggu satu setengah jam lagi menuju Bau-Bau.

Pengeluaran sementara:

Kereta Cirebon – Jakarta (bisnis) : 100.000

Bus Damri Gambir – CGK : 40.000

Makan siang di Bandara : 50.000

Pesawat Jakarta – Kendari : 900.000

Kapal Cepat Kendari – Bau-Bau : 185.000

Total sementara : 1.275.000

Di Pelabuhan Bau-Bau

Di Pelabuhan Bau-Bau

Kapal sampai di Bau-Bau jam 6 sore, ketemu temen. Bertanya ke dia, bagaimana rute yang baik jika ingin ke Wakatobi. Karena bagaimanapun dia pernah ke Wakatobi dan asli Bau-Bau akan sangat membantu. Sambil menikmati kasuami (makanan khas Bau-Bau, Wakatobi, dsk, yang terbuat dari ubi) dan ikan bakar kami mengobrol ringan.

Kasuami dan Ikan Bakar

Kasuami dan Ikan Bakar

Sebenarnya paling enak tujuan pertama adalah pulau terluar, sebenarnya pulau terluar itu Binongko, tapi Binongko kurang peminat dan dikenal sebagai pulau pandai besi, sampai kami terpengaruh. Sehingga pulau pertama itu Tomia, baru kemudian ke Kaledupa, Pulau Hoga, baru terakhir di Wangi-Wangi.

IMG_0142

Tempat Tidur di Kapal

Tadinya kami mencari kapal yang langsung menuju ke Tomia, tapi kapal dari Bau-Bau ke Tomia, ternyata tidak setiap hari ada, dan dalam waktu-waktu tertentu saja. Akhirnya kami memutuskan ke Wangi-Wangi terlebih dahulu, memakai kapal kayu yang menempuh waktu 9 jam perjalanan. Jam sepuluh malam kapal berlayar, jam tujuh pagi sudah tiba di Pelabuhan Wangi-Wangi.

IMG_0198Kami dijemput supir teman, karena teman kami sedang berada di Kendari. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Puncak Tindoi, untuk berfoto latar tulisan ‘Wakatobi’. Baru kemudian ke Pemandian Goa Kontamale, air di sini seperti terisolasi, dan rasanya tawar dan sangat jernih. Digunakan orang sekitar untuk mandi,dan mencuci pakaian. Sayangnya sampah banyak ditemukan, bahkan baju koyak yang menggantung. Selepasnya kami ke rumah teman, untuk mandi dan sarapan, jam sepuluh kami menyebrang ke Tomia.

Kapal Tomia - Wangi-Wangi

Kapal Tomia – Wangi-Wangi

Kapal dari Wangi-Wangi menuju Tomia itu memakan waktu tiga jam perjalanan. Di kapal, teman mengobrol dengan orang-orang yang juga menyebrang, mungkin keberuntungan sedang menyapa, orang yang kami ajak mengobrol ternyata juga bisa menjadi guide di sana. Karena kami tidak tahu seperti apa di Tomia, kami mengiyakan. Namanya Bapak Alimudin, Kepala Desa Temoane, jadi bisa memilih untuk tinggal di guest house, atau di penginapan. Jika di guest house tarif yang ditetapkan 50rb perorang tanpa makan, jika dengan makan menjadi 75rb, sedangan di penginapan rata-rata tarifnya 80rb tanpa makan. Untuk motor dapat disewa perharinya 60rb, kami menyewa motor untuk dua hari. Setelah beristirahat sebentar Pak Ali mengajak kami ke Benteng Patua, hampir sejam kami berkeliling di tempat ini, sambil Pak Ali menceritakan tentang Benteng ini, tempat-tempat yang dikunjungi. Setelah puas berkeliling, kami diajak ke Puncak Tomia untuk menunggu matahari terbenam.

IMG_0296Di Puncak Tomia, ternyata sudah banyak yang juga menunggu senja turun perlahan, banyak muda-mudi, sambil bercengkrama. Ada yang berjualan jagung bakar dan semacamnya tapi kami kebetulan tidak berminat. Bagaimanapun sore itu indah, warna-warna yang ditampilkan di langitpun indah.

IMG_0318Setelahnya kami dibawa ke pasar malam, banyak makanan kecil, manis-asin, juga kasuami pp (kasuami yang dapat bertahan seminggu tanpa bahan pengawet), dan beberapa makanan lainnya. DI Tomia, listrik menyala dari jam lima sore hingga pagi hari, sementara pagi hingga sore beberapa kecamatan bergiliran untuk mati dan nyala.

IMG_0287Sampai ke rumah, kami kelelahan dan tertidur pulas.

Pengeluaran Sementara:

Kasuami + Ikan Bakar + Teh Botol : 40.000

Kapal Bau-Bau — Wangi-Wangi 160.000

Transport di Wangi-Wangi : gratis

Sarapan : gratis

Kapal Wangi-Wangi — Tomia : 150.000

Total Sementara : 350.000

Esok paginya kami menuju tempat sunrise di bukit Temoane, tapi ternyata terhalang bukit dan tidak bagus, lalu lanjut ke tempat yang menyediakan fasilitas diving, dari teman kami, dia menyarankan untuk menghubungi Mas Budianto, pemilik Tandiono Dive Centre. Kami mengobrol masalah harga dan waktu berangkat ke laut, spot untuk diving. Menurut Mas Budi, baru bisa ke spot jam sebelas siang, dan untuk biaya disetujui 500rb perorang, untuk yang tidak memiliki lisensi diving, jika punya akan lebih murah, dan spot yang akan dikunjungi adalah Mari Mabuk.

IMG_0396Maka untuk menunggu diving, kami meminta Pak Ali untuk ke spot snorkling. Maka Pak Ali meminjam alat snorkling ke kantor taman nasional Tomia, biaya peminjaman alat snorkling 25rb perorang. Kami dibawa ke Pantai Hondue, dengan Pak Basri dari Taman Nasional yang menemani. Well, di Pantai Hondue ini banyak sampah di Pantai, katanya karena angin Barat (atau timur ya?) maka ngebawa sampah ke Pantai. Bisa juga karena kebiasaan orang-orang di kapal yang buang sampah sembarangan, hasilnya sampah-sampah mereka sampai di pantai mereka sendiri.

IMG_0358Waktu snorkling airnya sedang surut. airnya jernih, karangnya sudah ada dekat pantai. Kami harus naik perahu kayu hingga ke perpindahan laut dangkal hingga dalam. Dan karangnya berwarna-warni, ikannya banyak, dan kami snorkling puas di Hondue.

Setelah selesai, kami bergegas ke tempat Mas Budi, namun singgah terlebih dahulu untuk makan siang di penjual bakso yang ternyata orang solo. Harga bakso telur di sini 20rb, sementara bakso spesial 25rb. Makan sekarang untuk tenaga diving.

Jam satu, kami baru ke laut, saat Mas Budi mem-briefing saya cuma berusaha menghafal jika saya panik, menggerakkan telapak tangan seperti ombak laut. Karena ini bakal jadi pengalaman diving pertama saya. Saya tidak terlalu pandai berenang. Dan saya takut saya panik, dan semua keindahan bawah laut Wakatobi akan jadi kenangan semata.

This slideshow requires JavaScript.

Teman saya (Kery) turun duluan diving, sementara saya mengobrol sama pengemudi kapal. Katanya dulu spot ini belum memiliki nama, kemudian orang barat yang menamainya mari mabuk. Tidak berasa 45-50 menit berlalu, dan Kery muncul dari dasar laut, jantung saya berdenyut lebih kencang. Mas Budi beristirahat sejenak sebelum akhirnya memasangkan tabung oksigen ke badan saya, mengikat pemberat di perut, saya berusaha membiasakan diri dengan pernafasan mulut, telapak tangan saya basah, jantung mungkin sudah irama ireguler. Dan akhirnya saya masuk ke dalam laut.

IMG_0428Baru beberapa meter masuk ke dalam, telinga saya sungguh kesakitan, saya berusaha melakukan manuver untuk mengurangi rasa sakit, tapi beberapa manuver dan tindakan masih menyisakan rasa sakit. Saya berusaha menepuk Mas Budi, memberikan tanda di telinga, dan dia dengan sabar menunggu. Dan saya merasakan perbedaan tekanan ini beberapa kali, dan Mas Budi sabar sekali.

Kami turun perlahan, dan pemandangan laut Tomia sungguh indah, banyak terumbu karang, koral berwarna-warni, ikan bergerombol kesana-kemari, warna-warni. Saya belum pernah diving ke tempat lain jadi saya tidak bisa membandingkan dengan tempat lain, tapi kata teman saya, Tomia lebih indah dari Bali, Raja Ampat, Karimun.

Untuk diver pemula dan tanpa lisensi biasanya pemandu tidak akan berani melewati angka kedalaman 10 meter, dan kebanyakan 8 meter, tapi Mas Budi membawa saya sampai ke kedalaman 13 meter, dan dia dengan tanggap meminta berpose di bawah laut, untuk diabadikan, dan dia tidak asal memotret.

Dan kata Kery, dia pemandu terbaik, setelah dia tiga kali sebelumnya diving di tiga tempat berbeda Bali, Raja Ampat, dan Karimun Jawa. Terima Kasih Mas Budi.

IMG_0486Sorenya setelah kami kembali ke Puncak Temoane untuk melihat sunset, mataharinya bulat, namun ketika turun, warnanya tidak semenarik kemarin. Malamnya kami disuguhi makanan Tihe, atau bulu babi, bulu babinya disiram dengan air panas, setelah itu, bulu babi dibuka, dibersihkan dan dimakan. Malamnya kami packing untuk besok pagi kembali ke Wangi-Wangi.

Rencana awal adalah kami ke Kaledupa, kemudian ke Pulau Hoga, tapi rencana tinggal rencana karena keterbatasan waktu, kami tidak jadi ke dua tempat itu, dan langsung ke Wangi-Wangi.

Sebelum subuh kami dibawa ke Pantai Huntete, untuk melihat matahari terbit, lagi-lagi pantai ini penuh sampah, perjalanan yang dibutuhkan dari Temoane ke Huntete setengah jam menggunakan sepeda motor, dan jalananannya berliku. Sebelumnya hujan mengguyur Tomia, sehingga matahari malu-malu untuk bersinar. Kami menikmati sejenak matahari, sebelum kembali pulang dan dibawa ke Pelabuhan untuk menyebrang ke Wangi-Wangi.

Pengeluaran Sementara:

Pak Ali mengeluarkan kuitansi biaya yang dihabiskan

Biaya 2 hari 2 malam guest house, motor, makan, peminjaman alat snorkling, guide : 385.000 perorang

Diving : 500.000

Kapal Tomia — Wangi-Wangi : 150.000

total sementara : 1.035.000

DI Wangi-Wangi kami dijamu teman kami, Yasin, kami diajak memutar Wangi-Wangi, lalu ke resort yang dimiliki Bupati Wakatobi, tadinya kami hendak diving di Wangi-Wangi, tapi orang yang memiliki tempat dan lisensi tidak dapat dihubungi, jadilah kami cuma snorkling di Sombu, meminjam alat snorkling di dekat pantai Nirwana, 50rb/orang lalu langsung nyebur ke Sombu. Karangnya banyak yang mati, harus agak jauh dulu, atau ke perbatasan dalam dan dangkal baru lumayan. Tapi suasananya menyenangkan. Dan hujanpun turun deras.

Malamnya sebelum pulang kami dijamu makanan khas Wakatobi, namanya Perangi, ikan karang segar yang dicacah halus, kemudian dicampur dengan jeruk nipis dan bawang. Rasanya jangan ditanya karena sungguh enak, segar, tidak menemukan amis di sana, dan manis sekali. Bikin ketagihan!

IMG_0629Malamnya kami menyebrang ke Bau-Bau, saat naik ke kapal sebenarnya kami ditawari untuk membeli nasi bambu bakar Wakatobi, tapi apadaya perut sudah penuh, dan kami menolaknya. Dan di kapal kami tidur nyenyak sampai Bau-Bau.

IMG_0590Di Bau-Bau kami dijemput teman kami, Syawal. Lalu diajak berkeliling Bau-Bau, di Benteng yang katanya terpanjang di dunia, Benteng Keraton Buton, lalu lanjut di tiang bendera yang terkenal, sebelum langsung ke air terjun Tirta Rimba, dalam waktu singkat, karena saya harus segera berangkat ke Jakarta jam 11.50 WITA. Sebelum ke Bandara kami makan Kambewe, makanan dari jagung yang dihaluskan dan dikukus dengan dicampur gula merah. Lumayan mengganjal perut.IMG_0623Jam 10.50 saya sudah ada di Bandara Bau-Bau, untuk menunggu pesawat ke Jakarta, dengan satu kali transit di Makassar. Jam 15.00 saya sudah sampai di Jakarta, kemudian saya langsung ke Gambir untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Cirebon.

Pengeluaran:

Pinjam alat snorkling : 50.000

Kapal Wangi-Wangi — Bau-Bau : 160.000

Kambewe : 5.000

Tiket Pesawat Bau-Bau — Jakarta : 1.100.000

Makan siang : 50.000

Damri CGK – Gambir : 40.000

Kereta Jakarta – Cirebon (Eksekutif) : 125.000

Total sebagian : 1.530.000

Total: 1.275.000 + 350.000 + 1.035.000 + 1.530.000 = 4.190.000

Untuk lebih menghemat bisa memakai pesawat langsung dari Jakarta menuju ke Wangi-Wangi, harga pesawat berkisar di angka 1,1 – 1, 2 juta untuk rate yang murah. Tapi kalau ingin merasakan lebih lama di laut bisa dicoba. Untuk urusan telekomunikasi, sinyal yang paling bagus tetap Telkomsel, terutama untuk internet. Indosat cuma bisa digunakan untuk sms dan telpon di Wakatobi, sedangkan XL benar-benar hilang sinyal.

Bawalah kamera yang layak pakai, seperti kamera pocket, DSLR, karena akan merasa menyesal seperti saya. Jika ada waktu lebih lama, seminggu kayaknya akan lebih puas menjelajah Wakatobi.

Nomor Penting :

Pak Alimudin (Tomia) : 082193811741 — silakan menghubungi Pak Ali, rencanakan tempat yang mau dikunjungi, dan tempat tinggal di Tomia.

Mas Budianto Tandiano : 085241592923.

Arisan Film 08 : The More The Merrier

AF pertama, bangun jam 04.30, mandi langsung ke stasiun. Nyampe Kalcit jam 9 pagi, nunggu dua jam sebelum Ayay datang menyusul Mas Ancha, baru yang lain tiba. I am having fun that day! Mari berjumpa lagi!

Kacamata's Story

Tidak terasa event yang awalnya dilakukan iseng-iseng justru menjadi kegiatan rutin para blogger ex Multiply. Bahkan di pertemuan ke delapan ini, pesertanya makin banyak dan tentunya makin rame.

Awalnya acara ini rencananya akan diadakan pertengahan Desember. Tapi ternyata ada teman dari luar Jabodetabek ingin bergabung. Fiken dari Pekanbaru, Teguh dari Cirebon, dan Reny dari Jogya. Akhirnya, tanggal acara di susun ulang, dan setuju AF08 ini dilaksanakan hari Minggu kemarin, 10 Januari 2015. Perdebatan sempat terjadi mengenai lokasi. Banyak yang mengusulkan untuk pindah lokasi. Sebagai informasi, 7 AF sebelumnya, 6 di antaranya kita adakan di Kalibata City, dan hanya AF04 yang kita adakan di Pasaraya Blok M. Setelah mengajukan lokasi dengan pertimbangan colokan listrik dan spot yang nyaman untuk meriung rame-rame, maka keputusan lokasi kembali ke Food Court – Kalibata City. Hahaha… we really cant move on. Tapi kalo dipikir-pikir sih, emang Kalcit itu sudah paling nyaman deh. Kita kumpul dari…

View original post 240 more words

Mimpi yang Nyata.

Saya menangis sesenggukan. Dalam tidur.

Hari itu saya memimpikan Ibu yang meninggalkan kami anak-anaknya untuk bertemu Sang Pencipta, hati saya kelu, dulu ketika Bapak pergi, saya tidak menangis selayaknya kakak pertama yang histeris. Tapi entah kenapa saya menangis sesenggukan.

Sebelumnya saya pernah berpikir jika kehidupan ini sungguh membuat Ibu menderita, maka berikanlah hal terbaik untuk Ibu, saya tidak tega melihat Ibu menahan sakit, berusaha terhuyung untuk sekedar berjalan. Berkali-kali jatuh, bekas jahitan dimana-mana.

Tapi di sisi lain, saya belum siap harus berpisah dengan Ibu. Karena tinggal dia yang saya sayangi, dia orang yang sama yang mengandung saya selama sembilan bulan, menemani saya tidur hingga remaja. Kurang tidur saat saya tidak bisa tidur, setia mengganti kompres yang telah kering.

Malam itu saya sesenggukan, mata saya basah, bengkak. Tahu, kalau saya rindu Ibu.

Lima

Hari ini saya merapikan meja saya yang berantakan, membuangnya ke kotak sampah. Begitupun dengan kardus yang saya letakkan di bawah meja, tadinya berharap kardus itu suatu saat akan menjadi wadah kado sempurna entah untuk siapa.

Setahun lebih saya menjadi bagian cuci darah, setiap hari bertemu orang-orang yang sama, pasien yang rutin menyambangi ranjang-ranjang dingin mereka. Sering kali mendengar keluh mereka, tidak hanya mengenai sakit yang mereka tengah derita, tapi bagaimana hidup, bagaimana anak-ayah-ibu-pasangan mereka. Bahkan ketika ada yang bertikai, beberapa malah bercerita kepada saya.

Akhirnya saya dipindahtugaskan ke bagian lain RS, meninggalkan tempat yang nyaman untuk bercerita, dan memupuk berat badan karena selalu saja ada keluarga pasien yang datang membawa makanan.

Ada hal-hal yang bisa saya terima, dan ada hal-hal yang sulit untuk saya cerna. Alasan (katanya) kepindahan saya.

‘Direktur memberikan nilai kinerjamu dengan angka 5,’ ujar wakil direktur pelayanan medis. ‘Penilaian diberikan ketika PORDA tahun lalu.’

Bagaimana kinerja ditentukan bukan di tempat kerja. Saya hanya bertemu dengan Direktur saat PORDA beberapa jam. Saya mungkin bukan tipe yang mau susah payah menjilat kaki seseorang, bermanis ria pada orang yang memiliki pemikiran berbeda. Dan dia tidak melihat saya bekerja. Jika ingin menilai kinerja seseorang, silakan tanya kepada pasien yang saya tangani tiap harinya, atau perawat-perawat yang mendampingi, baik perawat cuci darah, ICU, ICCU, NICU, bangsal.

Jangan mengambinghitamkan kinerja, untuk sebuah arogansi untuk dihormati. Bahkan pada saat PORDA saya tidak dibayar sama sekali, untuk kerja saya selama 10 hari.

Mari kita menata meja yang baru, kali saja ini doa supaya saya disegerakan untuk sekolah (lagi). Aamiin.

In Memoriam

‘Dok, bisa kasih komentar buku baru saya?’ Ujarnya suatu hari. Beberapa kali kami mengobrol tentang dunia tulis menulis, bagaimana beliau menembus penerbitan mayor, dan berusaha memberikan informasi tentang cuci darah kepada pasien yang lain.

Namanya Lien Auliya, usianya lebih dari 35 tahun. Matanya masih memancarkan semangat yang tidak padam, meski sudah delapan hampir sembilan tahun seminggu dua kali melakukan cuci darah. Sudah ratusan, mungkin ribuan tusukan jarum yang keluar masuk kulitnya. Dia tidak mengeluh. Bahkan berusaha membagikan semangatnya melalui tulisannya.

Saya ingat dalam buku terakhirnya yang belum terbit, satu hal yang belum dapat ia raih dalam kehidupannya adalah menikah. Bagaimana susahnya mencari seorang suami ketika calon istri mereka sakit menahun, setiap minggunya harus merelakan tangannya bercinta dengan jarum besar, kondisi tubuh yang kadang lemah.

Banyak yang mundur, tapi mengendurkan doanya untuk bertemu jodohnya.

Dan Allah menjawab semua itu, beberapa bulan lalu dia dilamar oleh seorang pria yang juga menderita gagal ginjal stadium akhir, (juga) melaksanakan cuci darah rutin. Mereka saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mbak Lien tampak cantik berbalut baju penganting berwarna putih.

Dan ketika semua yang telah diinginkannya tercapai, Allah ternyata lebih mencintainya. Selamat jalan, Mbak Lien Auliya, semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, dan engkau tinggal memetik buah kesabaranmu.

Terima kasih atas semua yang sudah pernah kita bicarakan, ilmu yang tiada habis, dan kebaikan yang tak pernah padam.

Pekan Olahraga Jawa Barat 2014

16logopordacopy1

Pekan olahraga daerah Jawa Barat udah selesai beberapa minggu lalu, Kota Cirebon ditempatkan di posisi ke sepuluh dari seluruh peserta dengan perolehan 18 mendali emas. Sesuai dengan target sepuluh besar dengan 18 emas atau lebih. Dan tuan rumah Kabupaten Bekasi menjadi juara umum.

Kebetulan aku ditunjuk menjadi tim kesehatan untuk kontingen Kota Cirebon, bukan itu masalahnya tapi suatu kali perawat bilang.

‘Itu kan atlet bon-bonan,‘ tadinya aku tidak mengerti istilah ini. Tapi kemudian mengerti, jika dalam pekan olahraga entah daerah, kota, PON, akan tetap ada atlet yang sebenarnya bukan atlet dari daerah yang diwakili, namun disewa untuk membawa nama suatu daerah.

Alasan yang dibawa macam-macam, karena daerah tersebut tidak memiliki atlet di cabang tertentu, atau suatu daerah tidak mau kehilangan gengsi untuk memenangi suatu pergelaran. Hampir banyak daerah melakukannya, alih-alih membina potensi pemuda yang memang berdomisili di daerah itu, tapi lebih memilih mengeluarkan uang untuk menyewa.

Pergelaran ini tidak hanya dilakukan sekali seumur hidup, tapi berkelanjutan, harusnya pemerintah daerah dalam hal ini KONI daerah masing-masing punya tanggung jawab untuk membina putra-putri daerah untuk menjadi atlet. Memang kendala lain adalah fasilitas yang menunjang untuk latihan juga harus terpenuhi. Karena selama ini hanya terpusat di area tertentu saja.

Sehingga, banyak atlet harus berlatih di daerah yang memiliki fasilitas.

Jika untuk pendanaan kontingen saja tiap daerah berani untuk mengeluarkan dana bermilyar dari dana APBD, harusnya berpikiran kedepan untuk membangun fasilitas, dan mulai membina atlet-atlet dari putra daerah sendiri.

Sehingga, ketika mencapai suatu prestasi akan lebih membanggakan. Percuma menjadi juara umum, atau mendapatkan mendali emas, tapi bukan dihasilkan oleh atlet daerah sendiri.