Dunia Gue

‘Emangnya boleh ya dokter cerita tentang pasiennya?’ tanya seorang teman.

‘Kan gak nyebutin namanya, kali aja ada yang ngambil hikmahnya.’

Kemudian tiba-tiba ada yang nyamber dari obrolan dua orang ini.

‘Ya emang gak papa, tapi kan nggak etis, nanti deh aku baca buku kuliahku’ terus dia nulis ulang, ‘rekam medis kan milik pasien, kalo aku jadi pasiennya aku akan nuntut.’

Gue speechless. Beneran. Serius.

Bukan karena kalo dia pasien dia akan nuntut. Tapi, somehow its rude in my think! Gue nggak nyebut nama, dan kadang gue pikir, dia nggak pernah ada di posisi gue saat ini.

Memang nggak semuanya patut diomongin, digosipin, apalagi kalo nggak ada yang bisa diambil hikmahnya. Tapi dokter juga manusia, you know?

Mereka bukan dewa, yang tiap harinya harus berurusan sama nyawa orang. Dan kadang gue seperti salah ambil langkah untuk menempuh hidup sebagai seorang dokter.

Menghadapi keluarga yang menangis di samping jenazah pasien, tangis mereka tak mudah, dan dokter tidak dapat berbuat apa-apa kala itu tiba saatnya. Bukan satu kali tapi beberapa kali.

Dan yang paling membuat saya muak adalah ketika keluarga mementingkan urusan mereka dibandingkan kesehatan pasien itu sendiri. Hey, are you giving up with their life? they even yet die…

Membenci keluarga pasien yang sudah menyerah sebelum melakukan usaha terbaiknya. ‘Keluarga memutuskan menolak dilakukan pijat jantung luar, karena pasiennya sakit’ atau, ‘keluarga memutuskan tidak mau merujuknya, dan ingin membawa pulang pasiennya’

Damn.