Mimpi

Mari berbicara tentang mimpi denganku, atau setidaknya ajak aku menjelajahi alam mimpimu. Kenalkan aku pada seseorang yang telah kamu namai bunga mimpi.

Mimpi. Bunga Mimpi.

Aku bermimpi tentang masa lalu, masa kini, dan kemudian berkelana ke masa depan. Aku bermimpi tentang kamu, aku, dan kita.

Aku melihat wajahmu bercahaya, memberikan warna bahagia orang disekitarmu. Aku juga melihat kita tersanding di sana, berdua-bertiga, saling memberi tapi juga saling menerima.

Aku memimpikan masa depan. Tidak ada lagi aku dan kamu, dan kemudian yang kutemukan cuma kita.

[Lombok] Air Terjun Benang Stokel dan Kelambu

Libur bersama mungkin hal yang paling ditunggu dalam satu bulan. Karena biasanya kami terpisah karena mengikuti alur shift. Tidak pernah libur dalam waktu yang sama tidak memungkinkan untuk berlibur bersama. Padahal bisa dibilang jika libur bersama itu lebih menyenangkan dibandingkan … Continue reading

Pawai Ogoh-Ogoh!

Pawai Ogoh-Ogoh di Lombok dipusatkan di Mataram, karena umat Hindu lebih banyak yang tinggal di Mataram, kalau merunut dari Sejarah Lombok. Dimulai dari Lapangan Sangkareang hingga Taman Mayura. Ogoh-ogoh diarak oleh pemuda-pemudi dari penjuru lombok dengan identitas sendiri-sendiri, warna rambut … Continue reading

–Suka quote-nya! 🙂

_matahari terbit_

“Kerinduan para penuntut ilmu terhadap ilmu itu lebih besar daripada kerinduan seseorang terhadap kekasihnya. Kebanyakan mereka tidak terpesona dgn keelokan fisik manusia.” -Ibnul Qoyyim-

“Barang siapa yg ketika membeli buku tidak merasa nikmat melebihi nikmatnya membelanjakan harta untuk orang yang dicintai, atau untuk mendirikan bangunan, berarti dia belum mencintai ilmu.” -Al Jahidh dlm Kitab Al Hayawan-

ahay inget quote ini..

#memori qn MP

View original post

Gili Nanggu

This slideshow requires JavaScript.

Gili Nanggu merupakan jajaran Gili yang ada di Lombok, NTB. Mungkin bagi sebagian banyak orang belum cukup mengenalnya dibandingkan dengan Gili T atau Trawangan.

Tidak heran, jika dibandingkan dengan jajaran Trawangan, wisatawan baik domestik maupun wisatawan luar tidak begitu banyak. Pun fasilitas yang disediakan, minim sekali. Lihat saya penginapan yang tersedia di sini cuma ada satu, kemudian tidak adanya penjaja makanan.

Ada untungnya juga sih, karena kita bisa fokus untuk melihat pemandangan, bersnorkling ria. Tapi akan menjadi masalah kalau kita kelaparan, karena harus menyebrang dulu ke Gili Sudak untuk menikmati santap makanan sederhana (Bukan dari segi harga sih) yang tentu saja nggak jauh-jauh dari seafood.

Dan boleh dibilang lebih menyenangkan bagi orang yang lebih menginginkan ketenangan, kesunyian. Tapi jika lebih suka hingar bingar, pesta mungkin pilihan paling tepat ya Gili Trawangan.

Lebih mengasyikkan lagi adalah peminjaman alat-alat snorkling bisa dibilang lebih murah, biasanya sudah ditawarkan pada saat kita hendak menyebrang.

Mengenai tempat snorkling, kalo bagi saya pribadi tidak kalah dengan Gili Trawangan, dan dengan lokasi yang tidak jauh dari pantai memudahkan kita untuk menjelajahi.

Jika Gili Trawangan kita perlu menyewa kapal lagi, maka Gili Nanggu tidak perlu. Kecuali kalo  mau snorkling di Gili Kedis.

Gili Nanggu, surga lain yang ada di Lombok. (Kayaknya Surga lebih apik sih!)

Marah kemudian Menangis…

Kematian mungkin adalah hal yang biasa dihadapi oleh seorang dokter, karena ada saja pasien yang dalam kondisi jelek, kemudian memburuk dan akhirnya meninggal dunia.

Saya tidak menyalahkan Tuhan untuk setiap pasien yang meninggal, karena setiap manusia memiliki waktunya tersendiri untuk hidup, tertawa menyapa ‘Selamat pagi, dok!’ dan terkadang mereka juga menangis ketika rasa sakit mendera mereka.

Tidak ada yang salah dengan mati, karena mati pada hakikatnya adalah bertemu dengan penentu kematian, pemberi kebahagiaan dan cobaan. Dan menjadikannya abadi, tapi apa tabungan kita telah cukup untuk menjadikannya uang saku untuk sebuah perjalanan panjang (?)

Hanya diri kita sendiri yang dapat menjawab pertanyaan ini.

Pagi ini saya marah, dan kemudian akhirnya menangis. Saat seorang pasien (pasien ketiga minggu ini) yang akhirnya berada di akhir cerita kehidupannya. Saya bukan menangis akan kematiannya, tapi saya merasa frustasi sebagai seorang dokter.

Apa berlebihan permintaan seorang dokter untuk rumah sakit, atau kepala ruangan untuk menyediakan meja emergensi. Tidak lagi harus menyebutkan satu persatu alat untuk dibawa ketika ada pasien gawat.

Saya frustasi, ketika pasien seperti ini dibiarkan tanpa infus yang terpasang. Tidak ada adrenaline, endotracheal tube, ambu bag yang layak, tersedia di ruangan. Bukan berusaha mencari alat-alat itu, mengapa elektrokardiografi menjadi alat utama yang dicari?

Ketika perintah seorang dokter tidak diindahkan, rasanya frustasi sendiri, apa mereka dibekali setidaknya basic life support, pada pasien gawat. Sementara adik perawat cuma bisa melihat tontonan menarik di depan mereka.

Pada akhirnya saya menyerah untuk membiarkan pasien ini bertemu sang Pencipta, mungkin ini jalan paling baik dari semua ini. Dan saya juga menyerah untuk kemudian menangis tersedu-sedu.

Saya marah, saya lelah, namun saya merasa tidak berguna.

Lagu Sunyi

Ini bukan tentang lagu, yang disenandungkan disaat gundahmu, atau kala senangmu, diiringi musik yang membuatmu lupa akan apa yang sedang dan akan kamu hadapi.

Ini tentang betapa sunyinya hidup, ketika tidak ada yang memelukmu untuk sekedar berkata, ‘Kamu baik dalam hal itu!’

Kesunyian itu pula yang terkadang membuatku iri akan hingar bingar kehidupanmu.

Dan dia sunyi, yang terselip pada gelapnya malam. Kemudian membuatmu dingin, terkadang hingga membutuhkan hangat. Namun tetap saja sunyi, saat ini, meski berharap esok mentari pagi terbit membuatku tenang.

Semoga.

Aku dan Blackberry suka Laut! #BBBaru

Blackberry pertama kali dikenalkan pada tahun 1999 oleh perusahaan RIM (Research in Motion) yang berpusat di Kanada, tapi tahukah jika modal yang untuk membangun perusahaan RIM, Lazardis mendapatkan pinjaman uang dari orang tua temannya setelah dia dikeluarkan oleh Universitas Waterloo, di tempat itu dia belajar Teknik Elektro.

RIM didirikan pada tahun 1984, pada tahun pertamanya RIM mendapatkan penghasilan satu juta dollar dengan 12 orang karyawan (Berryndo.com). Singkat cerita Blackberry masuk kawasan Indonesia pada tahun 2004, pertama kali oleh perusahaan Indosat dan kemudian dua perusahaan besar lainnya salah satunya excelcom (Wikipedia.com). Sejak mulai saat itulah Blackberry menjadi salah satu perangkat elektronik yang memiliki pesona sendiri, terutama dengan kemampuan BBM (BlackBerry Messenger).

*****

‘Guh, beli BB gih, supaya komunikasi antara kita lancar!’ Ujar seorang teman yang mengeluhkan saya tidak memiliki perangkat ini. Karena biasanya mereka ngomongin kemana mereka akan jalan-makan lewat grup BBM.

Dan tebak, saya lebih memilih untuk cara tradisional yaitu sms-ria. Dan saya tidak ada masalah dengan itu, karena menurut saya sms lebih merekatkan, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa kasih (prett).

Pada tahun 2011, setelah saya kelar koass, dan kampus mengharuskan magang pasca koass, tiba-tiba kakak menelpon.

‘Kamu mau BB, gak?’

‘Ya, kalo gratisan siapa sih yang nggak mau?’

Akhirnya dimulailah petualangan per-BlackBerry-an saya. Awal punya, saya pake Storm 2, karena entah kenapa saya sangat suka jenis BB ini. Ada perasaan puas saat mengetik pesan, ber-BBM-an, ada bunyi yang akan selalu saya rindukan.

Rasanya semenjak punya hape ada yang berbeda dari hidup saya, meskipun nggak jauh beda sih. Tiap bangun bukan lagi melihat jam berapa, tapi apakah ada BBM, atau mention-an twitter yang nyangkut, ya selain jam juga sih.

Saya bukan orang yang terpaku sama gadget sih sebenarnya, jadi gak tiap detik ngeliat layar, tapi memang agak berbeda, karena sekarang bisa browsing, chatting, nge-twittfacebook-an dari satu gadget (dulu hape pegangan saya gak berwarna cuy! Apalagi berinternet! haha).

And i do love so much this phone! Apalagi kualitas kamera yang baik, meskipun batre yang sungguh boros karena sehari bisa untuk tiga kali charging. Dan waktu itu ada promo-promo murah dong dari setiap provider tapi memang yang paling murah adalah program 100rb/3bulan yang dikeluarin XL!

Hidup tampak lebih mudah dengan pengontrol dalam genggaman kita. Jika butuh informasi penyakit, obat-obatan tinggal searching! Maklum katrok karena ini adalah hape tercanggih pertama yang saya miliki selama hidup saya (lebay!).

Dan saat pengundian tempat internship ternyata nasib menempatkan saya di Lombok, pulau surga yang dikelilingi oleh alam yang indah, laut yang biru terang, terumbu karang yang terasa menggoda untuk dijamah (Jangan dijamah! nanti rusak!).

Saya mencintai pulau ini, karena keindahannya, kemahsyurannya. Pada minggu pertama saya di Lombok saya dan teman-teman langsung pergi berlibur ke Gili Trawangan!

Ya, Gili Trawangan yang terkenal itu! Meskipun tetap saja tidak akan ramai seperti Bali. Tapi saya sungguh menyukai suasana yang ada di sini. Mengelilingi pulau dengan bersepeda, menanti turunnya senja di bagian barat, atau dengan sabar menunggu terbitnya mentari pagi.

Image

Mentari Pagi di Gili Trawangan (Dok. Pribadi)

 

Saat matahari tepat diatas kepala, mungkin saat yang tepat untuk bersnorkling ria, untuk bercumbu ria dengan ikan, mensyukuri keindahan bawah laut, dan yang terpenting adalah belajar berenang! haha…

Dan, saat nyemplung di Gili Air, saya tanpa sadar tidak memeriksa ulang barang-barang yang masih saya kantongi, mungkin karena terlalu bersemangat jadinya lupa kalo BB masih ada di kantong celana pendek.

Image

saat si Bebe ada dikantong celana, sebelum mata berkaca-kaca (Dok. Pribadi)

Saat keluar dari air, langsung saya keluarkan, coba keringkan, dan menitipkan ke teman sebelum nyemplung lagi di area snorkling berikutnya, meskipun rasa sedih terasa.

‘Udah kaya ya, Guh, BB ikutan snorkling!’

Dan ternyata BB tercinta tidak kembali ROSC (Return of Spontaneus Circulation) hingga saya kirim ke kakak untuk dicoba untuk dibetulkan di Jawa. Hasilnya nihil, sedih rasanya harus kembali menjadi orang yang gaptek kembali, tidak bisa memantau perkembangan twitter, mencari informasi baru, ngeblog. Ah, kenangan lama!

Image

#BBBaru dan Hape lama tercinta (Dok. Pribadi)

Tapi kemudian kakak menawarkan BlackBerry baru yang lebih murah, tidak bisa saya cintai seperti BB yang lama, tapi Stormy memberikan saya pelajaran berarti, jika engkau hendak snorkling, coba lagi cek di kantong celanamu, apakah ada barang yang tertinggal atau tidak.

Karena sesal selalu berada diakhir cerita dan itu semua tidak ada artinya. Dan semoga mengambil hikmah ceritanya ya teman-teman! 🙂