Marah kemudian Menangis…

Kematian mungkin adalah hal yang biasa dihadapi oleh seorang dokter, karena ada saja pasien yang dalam kondisi jelek, kemudian memburuk dan akhirnya meninggal dunia.

Saya tidak menyalahkan Tuhan untuk setiap pasien yang meninggal, karena setiap manusia memiliki waktunya tersendiri untuk hidup, tertawa menyapa ‘Selamat pagi, dok!’ dan terkadang mereka juga menangis ketika rasa sakit mendera mereka.

Tidak ada yang salah dengan mati, karena mati pada hakikatnya adalah bertemu dengan penentu kematian, pemberi kebahagiaan dan cobaan. Dan menjadikannya abadi, tapi apa tabungan kita telah cukup untuk menjadikannya uang saku untuk sebuah perjalanan panjang (?)

Hanya diri kita sendiri yang dapat menjawab pertanyaan ini.

Pagi ini saya marah, dan kemudian akhirnya menangis. Saat seorang pasien (pasien ketiga minggu ini) yang akhirnya berada di akhir cerita kehidupannya. Saya bukan menangis akan kematiannya, tapi saya merasa frustasi sebagai seorang dokter.

Apa berlebihan permintaan seorang dokter untuk rumah sakit, atau kepala ruangan untuk menyediakan meja emergensi. Tidak lagi harus menyebutkan satu persatu alat untuk dibawa ketika ada pasien gawat.

Saya frustasi, ketika pasien seperti ini dibiarkan tanpa infus yang terpasang. Tidak ada adrenaline, endotracheal tube, ambu bag yang layak, tersedia di ruangan. Bukan berusaha mencari alat-alat itu, mengapa elektrokardiografi menjadi alat utama yang dicari?

Ketika perintah seorang dokter tidak diindahkan, rasanya frustasi sendiri, apa mereka dibekali setidaknya basic life support, pada pasien gawat. Sementara adik perawat cuma bisa melihat tontonan menarik di depan mereka.

Pada akhirnya saya menyerah untuk membiarkan pasien ini bertemu sang Pencipta, mungkin ini jalan paling baik dari semua ini. Dan saya juga menyerah untuk kemudian menangis tersedu-sedu.

Saya marah, saya lelah, namun saya merasa tidak berguna.

Advertisements