Kamu

Tahukah kamu, aku merindukanmu. Entah saat ini, esok, atau nanti.

–Teguh Rasyid

Advertisements

[Lombok] Gili Trawangan, Serpihan Surga di Indonesia!

TrawanganSebenarnya jika menceritakan tentang Gili Trawangan, maka kita harus mengulang rentetan cerita yang sudah lama berlalu. Karena Gili Trawangan adalah tempat kedua yang didatangi setelah Senggigi beberapa hari kami menetap di Lombok.

Tanggal 22 Mei 2012 kami mendarat di pulau yang dinamakan seperti bumbu dapur yang membuat bibir panas, mungkin karena orang sini sangat menyukai semua masakan yang berbumbu pedas.

Empat hari kemudian kami memutuskan ke Gili yang paling terkenal dibandingan dengan gili-gili lain yang tersebar di seluruh pulau Lombok. Dengan menyewa dua mobil, kami ingin berplesiran.

Masalah pertama langsung muncul, satu dari dua mobil tidak bisa dipakai, karena tiba-tiba dari pihak penyedia jasa entah kenapa dengan mudah mengatakan mobilnya masih jauh. Kami harus menunggu beberapa jam lagi, padahal dia saja sudah telat. Kami tidak berkenan, akhirnya dia menyewa angkutan umum, kami tetap membayar harga yang sama. (Pyuh!)

Ada dua jalan menuju penyebrangan Bangsal, melalui Senggigi, menelusuri jalur pantai, atau melewati bukit pusuk yang penuh dengan monyet liar.

Dua mobil, menempuh jalan yang berbeda. Kebetulan saya memakai angkutan umum mengambil jalur Pusuk. Perjalanan dari Gerung ditempuh sekitar satu jam setengah hingga dua jam.

Bangsal

Ada perahu massal yang bisa digunakan. Tetapi juga jika ingin menggunakan penyewaan boat ada juga sih, tapi hati-hati banyak calo, dan jika menggunakan sesuatu yang tidak resmi jatuhnya akan lebih mahal.

Untuk public transport cukup membayar sepuluh ribu, kita tinggal menunggu kapal penuh untuk kemudian membawa kita menyebrangi pulau yang kita tuju.

Sebenarnya ada beberapa Gili yang bisa dipilih dari Bangsal Trawangan, Air, Meno, harganya gak terlalu berbeda sih.

Perjalanan menggunakan perahu ke Gili Trawangan hanya setengah jam, hal pertama yang dilakukan adalah mencari penginapan. Rate penginapan di sini bermacam-macam, tergantung musim juga.

Tapi berkisar 150 ribu hingga 600 ribu, tergantung bagaimana ruangan dan fasilitasnya juga. Sebenarnya satu kamar, jika ingin berhemat bisa digunakan untuk tiga orang. Haha…

Setelah menaruh barang dikamar, sholat, kami pun berjalan-jalan mencari makanan. Kebetulan malam itu malam minggu, jadinya Trawangan penuh hingar bingar. Banyak bule yang berkeliaran kesana-kemari berjalan kaki, menggunakan sepeda, atau cidomo.

Trawangan adalah pulau yang tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor, dan saya mendukung sih! Karena dengan kebijakan ini, polusi bisa dihindari dan lebih menyenangkan mengitari Trawangan menggunakan sepeda.

Sebenarnya Trawangan kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam, karena pulaunya cukup kecil jadi kita bisa menikmatinya dalam satu hari saja. Karena kami terlambat, jadinya tidak bisa menikmati sunset. ūüė¶

Malam di Trawangan seperti pesta itu sendiri. Ada kafe yang menyediakan pemutaran film, musik hingar bingar. Hingga pagi hari. Tapi kalau saya sih tidak mencari suasana itu sih, tapi kelip lampu, angin pantai yang berhembus itu sungguh menyenangkan.

Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menunggu matahari mulai menyapa bumi, dan bagi yang tidak bisa bangun terlalu pagi sebenarnya sih menguntungkan di wilayah Indonesia Tengah, karena subuh jam lima pagi, dan matahari baru bersinar sekitar jam enam pagi.

Dan tentu saja setelahnya mengelilingi Trawangan menggunakan sepeda adalah hal yang harus dilakukan. Untuk penyewaan sepeda seharian cukup mengeluarkan uang 50 ribu rupiah.

Menikmati pagi, menghirup udara segar, birunya pantai, keheningannya sungguh melarutkan kebahagiaan menjadikannya sebuah kelegaan.

Snorkling hal selanjutnya yang perlu dilakukan, untuk menyewa alatnya sebenarnya pintar-pintar kita menawar, biasanya untuk alat snorkling perorang lima puluh ribu, kebanyakan lebih mahal sih, dan bergantung alat-alat apa saja yang dipinjam.

Belum kita harus menyewa perahu, untuk memutari tiga gili : Trawangan, Air, dan Meno. Karena tempat snorklingnya tersebar di tiga Gili ini. Menyenangkan melihat ikan-ikan yang bergerombol, mengelilingi terumbu karang. ūüôā

Hal yang tidak boleh terlewatkan adalah merasakan Jagung Bakar dan Gelato di Gili Trawangan karena kata teman-teman saya jagung bakarnya istimewa, pun begitu juga dengan Gelatonya. Selamat liburan!

Kami akan ke sana kembali sebelum pulang ke Jawa dua minggu lagi. InsyaAllah. Ada yang mau bergabung?

Pulang Paksa

Ada satu istilah dalam Rumah Sakit di mana pasien atau dalam hal ini orang yang bertanggung jawab atas diri pasien menghendaki pulang meskipun dokter belum memperbolehkan pasien untuk kembali ke rumah karena kondisi yang belum memungkinkan.

Pulang paksa merupakan bentuk lepasnya tanggung jawab Rumah Sakit atas apa yang akan terjadi jika pasien pulang, meskipun Rumah Sakit dalam hal ini dokter tidak bisa menjamin kesembuhan pasien. Karena memang seorang dokter tidak boleh memberikan janji yang tidak bisa dipenuhi yakni kesembuhan, yang ada hanya usaha terbaik yang bisa diberikan.

Namun sebagai seorang dokter, rasanya menyedihkan ketika pasien menghentikan pengobatan, kemudian pasrah atau beberapa yang lain mencoba pengobatan alternatif yang beberapa kerabatnya anjurkan katanya manjur.

Karena biasanya pasien akan kembali ke Rumah Sakit dalam kondisi yang semakin buruk, setelah dia mencoba pengobatan tradisional itu.

‘Dok, Bapak saya bawa pulang ya?’

‘Kenapa, Buk?’

‘Apa dokter bisa menjamin Bapak bisa sembuh jika dirawat di sini?’

‘Saya tidak bisa menjamin, Buk. Tapi kondisi Bapak sedang tidak baik, jika dibawa pulang kemungkinan besar akan semakin buruk dan hal paling buruk yang terjadi adalah Bapak meninggal.’

‘Setidaknya Bapak meninggal di rumah, dok, ada keluarganya.’

Miris memang. Sebenarnya kondisi, situasi ini pernah saya alami tahun 2002, saat saya masih SMP, dan saya tidak memunyai hak atas Ayah saya. Namuan hampir seluruh kakak saya menyetujui untuk membawa pulang Ayah, dengan alasan yang sama.

‘Supaya Ayah meninggal di rumah. Dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.’

Saat ini saya baru menyadarinya, bahwa sepertinya kami belum mengoptimalkan usaha, meskipun kemudian yang tersisa tinggal tawakal saja. Seperti itulah saya saat harus menghadapi pasien-pasien yang memilih untuk pulang paksa.

‘Bu, kita kan belum berusaha maksimal, blabla’

‘Tapi dok, kami mau bawa Bapak/Ibu ke pengobatan sasak,’

Sebagai seorang dokter, kami hanya menyerahkan semuanya kembali ke pasien dan keluarganya. Karena merupakan hak mereka untuk mendapatkan atau memilih menghentikan pengobatan yang diberikan.

Pulang paksa. Mungkin satu dari beberapa istilah dalam rumah sakit yang tidak saya sukai. Karena terkadang pasien harus mengalah kepada keperluan, kepentingan keluarga.

‘Nggak ada yang bisa nemenin di sini, dok’

‘Dok, jauh dari rumah. Nanti keluarga susah dibawa ke sini, blabla…’

Mungkin alasan yang terkadang menyayat hati adalah,

‘Tidak ada uang lagi dok, untuk melanjutkan rawat inap di sini.’

Kembali lagi bahwa kemiskinan, tidak meratanya, atau salah sasaran dalam jaminan kesehatan menjadikannya semakin menyedihkan.

Pulang paksa. Apakah kepentingan pasien yang diutamakan, atau hanya untuk keperluan keluarga?

Jaminan Kesehatan Masyarakat

jamkesmas_2013

Datang seorang ibu-ibu usia lima puluhan datang ke IGD sebuah rumah sakit, dia mengenakan gelang emas berapa puluh gram. Dia menggunakan mobil pribadi, dan telepon seluler yang cukup mewah.

‘Dok, saya mau berobat,’ Ucapnya perlahan sambil mengeluarkan kartu berwarna hijau yang tertera di depannya ‘Jamkesmas – Jaminan Kesehatan Masyarakat.’

Lain cerita.

‘Pak, Bapak belum boleh pulang ya, Hb bapak masih dibawah delapan, kemungkinan masih memerlukan transfusi darah. Pun angka trombosit bapak dibawah normal, …’

‘Saya mau pulang aja dok, kalo nambah hari lagi untuk rawat inap apalagi transfusi saya sudah tidak ada biaya lagi.’

Dan dia dipulangkan karena indikasi tidak ada biaya.

Dua cerita yang berbeda, yang menunjukkan dua hal yang sebenarnya berhubungan dengan jaminan kesehatan untuk masyarakat. Seharusnya program ini ditujukan untuk orang-orang yang tidak mampu, dimana untuk makan saja mereka harus membanting tulang, memeras keringat, meneteskan jutaan bulir air mata.

Tapi nyatanya tidak semua orang membutuhkan mendapatkan ini, berbeda lagi dengan kasus yang pertama dimana orang yang berpunya dengan bangganya menunjukkan dia menggunakan fasilitas negara yang seharusnya tidak dia pakai.

Sementara orang lain menangis, dia tertawa.

Jamkesmas, saya sebenarnya mendukung akan program yang dijalankan pemerintah saat ini dengan berbagai hal yang harus digarisbawahi.

Tepat sasaran. Entah kenapa saya sering sekali mendapati orang yang berpunya memegang kartu ini, mungkin sudah menjadi proyek para pemegang kuasa untuk tidak menyampaikan kepada yang berhak. Huh.

Pengklaiman. Ini adalah masalah Rumah Sakit sebenarnya, karena pengklaiman biasanya lama, membuat Rumah Sakit menumpuk hutang banyak, harus menekan pembiayaan. Sementara peserta Jamkesmas sangat banyak. Pun aturan-aturan pengklaiman yang sungguh ajib.

Kesejahteraan Petugas Kesehatan. Sebenarnya petugas kesehatan tidak akan mengeluh jumlah pasien, jika tunjangan mereka mencukupi dan sesuai dengan beban kerja mereka.

Rasanya sakit jika Jokowi berkomentar jangan banding-bandingkan dokter dengan sopir trans, jelas-jelas beban kerja dokter lebih besar, risiko tertular, nyawa menjadi taruhan tiap harinya.

Bahkan ada yang berkomentar, jika tidak semua orang berobat ke dokter, sementara semua orang memakai angkutan umum. Silakan saja jika anda ingin berobat ke sopir trans, akan saya hargai.

Dan entah berapa hal lagi yang harus diperbaiki. Jadi dokter itu ujian, karena berapa ribu jiwa telah ditolong tidak akan dilihat, sementara satu kasus yang entah benar-tidaknya orang sudah menjustifikasi profesi seorang dokter. *flat face*

Buku Ruang Imajinasi

DSC_0002

Waktu rasanya cepat sekali berjalan. Sudah hampir setahun berada di pulau sebelah timur Jawa ini. Masih ingat rasanya agak berat meninggalkan pulau tempat tumbuh, di sisi lain rasanya menyenangkan untuk menjalani kehidupan baru ditempat baru yang belum pernah di singgahi.

Jalan-jalan untuk membunuh kebosanan, rasa lelah ketika harus menghadapi berbagai macam tipe pasien dan keluarganya. Tapi di sisi lain, jalan-jalan tidak bisa selalu dilakukan karena waktu terutama lagi kantong yang nggak selalu terisi penuh.

Kalo jalan-jalan itu, harus memikirkan dana yang harus keluar, mencoba mereka-reka mau ngapain aja selama travelling, nggak begitu kita menemui buku bacaan.

Saya bukan tipe yang terlalu favorit membaca buku teks kedokteran, kecuali pada saat harus, ingin belajar, dan harus lebih memilih buku dengan tata bahasa yang bisa diikuti. Bahkan untuk masalah ilmu medis, saya lebih sering mengandalkan koneksi internet. Alasan utamanya si simpel, ilmu kedokteran juga ilmu yang nggak berhenti di satu tempat, tapi selalu berubah.

Jika kamu punya buku medis, maka buku itu harusnya hanya berusia lima tahun, kecuali ilmu dasar medis yang nggak akan berubah, pun jika berubah tidak akan begitu signifikan.

Saya suka membaca novel, tapi bukan pelahap segala genre, lebih spesifik ke petualangan, imajinatif, detektif. Karena untuk menunjang imajinasi yang sering berkelana entah kemana.

Dulu. Pas masih kuliah, saya terlalu membatasi membeli buku, karena uang bulanan yang bisa dibilang pas-pasan, untuk makan saja sulit apalagi untuk membeli buku bacaan. Pun jika sangat ingin membeli, harus buku yang benar-benar saya tertarik.

Mulai bekerja, mulai punya uang meskipun sedikit. Dan mulai membeli novel-novel yang menarik hati. Nah, selama di Lombok ini buku ini lumayan juga, kalo dibandingin dulu paling punya satu-dua.

Sebulan setidaknya beli satu-dua buku. Dan sekarang sedang menyelesaikan bukunya Agustinus Wibowo ‘Titik Nol’.

Mari membaca. :’)

[Lombok] Menilik Taman Suranadi

Pura Suranadi

Setelah Sembahyang di Pura

Jalan-jalan kali ini adalah dadakan, sebenarnya saya mengusulkan mengunjungi Taman Narmada. Tapi kata seorang teman kalau Narmada ‘cuma begitu saja’. Jadilah saya mengunjungi Taman Suranadi.

Sebenarnya saya mengenal Taman Suranadi adalah tempat untuk berenang. Beberapa kali dokter senior berenang di sini. Pun dikenal dengan Sate Bulayak-nya.

Namun Taman ini ternyata mempunyai sejarahnya sendiri.

Konon sejarah Taman Suranadi ini merujuk ke seorang Pendeta Hindu asal India Dang Hyang Nirarta. Pendeta ini memiliki tongkat sakti. Pendeta ini mengunjungi Pulau Jawa, Bali, kemudian Lombok pada Abad ke 13-14 dengan berjalan kaki.

Ketika berada di Lingsar, dia dan rombongannya beristirahat kemudian menancapkan tongkatnya empat (sumber lain mengatakan lima) di setiap tempat yang berbeda. Setiap kali dia menancapkan tongkatnya bekasnya mengeluarkan air jernih yang kemudia diyakini oleh orang Hindu memiliki fungsi masing-masing.

Air pertama Air Suci Pembersih, Pengentas, Pelukatan, dan keempat disebut Air Suci Petirta. Sumber lain yang menyebutkan ada lima mata air yaitu Mata Air Toya Tabah, Mata Air Toya Pabersihan, Mata Air Toya Panglukatan, Mata Air Tirta, dan Mata Air Pangentas.

Mungkin ada yang bisa membantu menjawab ini?

Tempat ini kemudian dilihat sebagai tempat wisata, juga ada beberapa pura yang berdiri tegak disini. Untuk masuk ke tempat wisata kita perlu mengeluarkan uang 10ribu. Jika ke Taman Suranadi saya hampir membandingkan dengan Taman Sari, Yogyakarta.

Karena lingkungan Hindu, maka bau yang memenuhi udara lebih seperti dupa yang dibakar. Di daerah ini konon katanya ada beberapa binatang yang berkeliaran diantaranya kera abu-abu, kera hitam, musang air, jelarang, burung elang, ular, burung madu, biawak, dan sebagainya.

Saat kesana saya hanya menemukan kera abu-abu, kera hitam, dan anjing-entah anjing peliharaan atau liar.

Hal yang menyenangkan dari Taman Suranadi adalah suasanya yang dingin, dan sate Bulayak yang lebih enak dibandingkan ketika kita membelinya ditempat lain.

Oia, kayaknya saya harus memeriksakan mata saya, karena tiap kali mengambil gambar ¬†rasa-rasanya miring. Dan thankies untuk orang-orang yang ada di foto-foto ini. ūüôā

[Lombok] Menengok Indahnya Pantai Seger dan Batu Payung

Pantai Seger Luar

Pantai Seger Luar

Minggu kemarin (31 April 2013) mungkin sudah waktunya lagi untuk melihat dunia luar, karena biasanya hanya terpaku dengan rutinitas itu-itu saja. Meskipun banyak waktu luang, tanpa hari libur karena senin hingga sabtu tetap masuk pagi. Tapi rasanya malas meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum dijamah oleh kami.

Dengan lima orang yang lain, kami pun menekadkan hati untuk melihat Batu Payung, menurut info yang diberikan akun twitter @infolombok laut menyurut memungkinkan kita bisa menjangkau Batu Payung dengan berjalan kaki.

Dan awalnya mengira Batu Payung terletak di Pantai Seger, jadilah kami menetapkan tempat pertama yang dikunjungi adalah Pantai Seger (untung ke tempat ini, karena saya belum pernah ke sini).

Perjalanan ditempuh kira-kira satu jam dari Gerung. Memang ya, sebenarnya kalau wisata Pantai itu seperti berjudi. Untung-untungan. Mengapa saya sebut untung-untungan? Karena keindahan pantai akan berlipat jika gugusan awan tersusun indah diatas biru langit yang memukau.

Kita nggak akan tahu keindahan tempat itu ketika mendung, atau indahnya akan dibawah standard jika kita tidak menemukan rangkaian awan yang seakan menyambut kita.

Makanya mungkin pantai ini akan lebih indah jika langit lebih semarak dengan banyaknya awan putih. Tapi tetap saja pantai di Lombok tidak ada yang jelek. Pasir putih, langit biru (jika tidak mendung) laut hijau biru yang berpadu padan dengan harmoni.

Selama beberapa saat kami menikmati pantai yang masih terasa kurang pengunjung. Meskipun bagi saya, sedikitnya pengunjung adalah surga bagi yang ingin menikmati pantai dalam keheningan.

Kami memikirkan bagaimana ke Batu Payung, karena tidak ada jalan, bahkan perahu yang bersandar dan (biasanya) menawarkan untuk menyeberang. Dan akhirnya mengecheck ulang, apakah benar letak Batu Payung di Pantai Seger. Tanjung Aan adalah tempat yang seharusnya kami tuju, karena Batu Layar letaknya sebelah timur pantai ini.

Ada jasa penyebrangan menggunakan perahu sebenarnya. Tapi jika keuangan terbatas, atau lebih menyukai berjalan kaki akan lebih menyenangkan soalnya. Bisa parkir di bukit setelah Tanjung Aan. Meskipun tempat itu tidak pantai disebut tempat parkir.

Menuju

Jalanan menuju tempat itu cukup licin, ini karena pantai yang menyusut, bebatuan masih dipenuhi dengan lumut kehijauan. Sehingga menyebabkan sedikit licin untuk ditapaki makanya harus sedikit berhati-hati.

Menapaki Bebatuan

Ada keraguan sebenarnya kenapa tidak sampai-sampai juga, apa benar Batu Payung terletak dibelakang bukit itu? Bahkan ada yang sempat berkomentar apa @infolombok telah menipu kami.

Batu Payung

Kekhawatiran itu seketika lenyap, ketika pada akhirnya kami menemukan batu yang berdiri kokoh sendirian, jika kita lihat dari sisi yang lain akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda.

Di satu sisi tampak lebar, tapi disisi lain begitu tampak ramping. Tempat ini konon sering dijadikan tempat foto pre-wedding, pernah dijadikan tempat iklan, pun tempat syuting.

Kami meluangkan beberapa waktu sejenak untuk menikmati keindahan tempat ini, mengambil beberapa gambar, sebelum kembali ke Gerung, karena rutinitas esok hari sudah menunggu.

Lombok adalah keindahan tiada akhir. #DongAyoKeLombok

Mencoba Mencari Kerja

Hidup itu harus tidak membosankan, karena hidup hanya satu kali, dan ketika kita menyia-nyiakannya maka kita menjadi orang yang rugi.—over heard somewhere

Hampir setahun (kurang tiga hari sebenarnya) saya resmi menjadi seorang dokter. Dan tinggal sebulan lagi saya menyelesaikan tugas di Lombok sebagai dokter internship, kembali ke Pulau Jawa mungkin salah satu hal yang paling ditunggu.

Dan kemudian memenuhi hal-hal menyenangkan di Jawa, mencari makanan enak, lebih ke variasi makanan sebenarnya, dan banyak makanan favorit yang enggak ada di sini. Jadilah butuh nutrisi.

Sudah menapaki tahun keempat mencoba peruntungan menjadi seorang penulis. Meskipun entah–sepertinya nama saya masih tersembunyi karena bukunya selalu antologi dan entah laku tidaknya dipasaran, atau tulisan saya dinikmati atau tidak.

Dan karena ingin mencoba sesuatu yang baru, ingin tambahan penghasilan (amin). Saya melamar pekerjaan sebagai penerjemah atau editor ke salah satu anak penerbitan besar. Salah satu alasan mudahnya mungkin karena penerbitnya follower saya di twitter. Dan beberapa saya kenal baik.

Bulan desember mengirim imel berupa CV seadanya, menuliskan beberapa buku yang telah terbit dan pengalaman pengeditan sebagai editor bahan kuliah 2 tahun. Awalnya saya mengira kiriman imel saya entah terselip kemana, tidak terbaca hingga saya sudah melupakannya. Ah, bukan rezeki. Lets move on!

Dan ketika bulan Maret menyapa, saat mengecek imel ternyata ada yang masuk dari Penerbit! Hati rasanya girang, ternyata tes terjemahan, berupa tiga tes, dua menerjemahkan, satu mengedit.

Dan ternyata menerjemahkan jurnal kedokteran lebih mudah dibandingkan novel, saya akan lebih menyanggupi 10 Jurnal dibandingkan 20 halaman novel sepertinya. Tapi mungkin itu adalah tantangannya.

Kalo kata teman, ‘Yaiyalah, dasarmu medis, makanya lebih mudah menerjemahkan jurnal kedokteran dibandingkan novel. Beda sama yang sastra, orang umum lebih menyukai sebaliknya.’ Saya hanya tersenyum saja

Hari ini adalah deadline-nya. Tinggal berharap diterima. Mohon doanya teman-teman siapapun yang membaca jurnal ini.

 

–Teguh Rasyid