Berkenalan dengan Homeschooling

Sebenarnya ini bukan cerita langsung untuk promo program yang lagi booming di Indonesia. Tapi lebih kepada pengalaman mendampingi (sebagai seorang dokter) untuk siswa-siswa kelas 7 – 12 salah satu homeschooling di Jakarta.

Dapat tawaran untuk menjadi tenaga medis sebenarnya mendadak karena memang lagi jobless lebih karena memang belum berniat memasukkan lamaran pekerjaan di rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Makanya ketika ada tawaran pekerjaan kenapa enggak. Pertama di Jakarta, bisa mengisi waktu luang, dan yang kedua adalah untuk bertemu teman-teman lama.

Sampai di sekolah tepat jam 7 pagi. Saya sudah mulai memerhatikan tingkah laku anak-anak ini. Hal pertama yang saya lihat adalah kebebasan dalam memakai anting-anting, sebenarnya apakah sekolah swasta (juga) memperbolehkan anak didiknya untuk menggunakan perhiasan ini?

Balik lagi, saya lupa menjelaskan kalau kegiatan kemping ini merupakan salah satu bagian dari kurikulum, dimana dimasukkan ke dalam nilai raport mereka. Jadi sangat wajar seharusnya mereka mematuhi tata tertib yang berlaku.

Kedua yang terlihat adalah kebiasaan merokok, menenteng bungkus rokok dengan bebasnya. Baru terlihat mereka merokok dengan bebasnya ketika sudah berada ditempat kemping, guru-gurunya hanya diam melihat. Saya iseng bertanya ke salah satu guru mereka.

‘Memangnya bebas ya, mbak, siswa merokok’

‘Nggak sih, kak, harusnya nggak boleh.’

Belum lagi ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka. Kebanyakan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan ditempat pendidikan. Pun terlebih kepada guru mereka sendiri dunia perhewanan muncul semua. Apa pendidikan di sebuah homeschooling lebih dititikberatkan kepada ilmu pengetahuan dibandingkan tata krama. Bagaimana mereka bersikap?

Tapi akhirnya saya mendapatkan sedikit penjelasan dari entah siapa, karena belum sempat berkenalan.

‘Maklum, Mas, sebagian dari mereka sudah tidak diterima oleh sekolah umum. Karena apa yang telah mereka lakukan’ saya hanya mengangguk pelan, ‘Di sini menjadi semacam penjembatan untuk mereka bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi–universitas’

Saya hanyut mendengarkan Ibuk ini. Jadi mungkin bukan homeschoolingnya yang salah, tapi memang balik lagi ke siswanya sendiri. Tempat ini hanya wadah, untuk mereka belajar. Tapi mereka juga ingin mengubah tata krama siswa dengan denda berkelipatan. Semakin sering mereka melakukannya maka mereka semakin mahal untuk bayar. Tapi semua ini harus ditandatangani oleh muridnya di awal semester.

Hal yang saya baru tahu (juga) adalah bahwa homeschooling nggak hanya berkutat guru dipanggil untuk mengajar di rumah. Tapi ada juga sistem mereka datang ke pusat pendidikan untuk belajar, bedanya adalah waktu. Karena homeschooling tidak seperti sekolah lain yang 5 – 6 hari belajar dalam seminggu tetapi 3 hari beraktivitas, namun hanya 2 hari yang digunakan untuk belajar formal. Dan memadatkan kurikulum.

Salutnya dari homeschooling adalah kita nggak hanya menemukan anak-anak normal dalam suatu komunitas, tapi juga anak-anak berkebutuhan khusus, ternyata pendidikan mereka nggak hanya bisa ditempuh di Sekolah Luar Biasa, tapi juga homeschooling. Saya sempat bertemu dengan anak autisme, dan tuna rungu.

Kadang, kita memerlukan bersentuhan dengan hal-hal yang tidak kita tahu untuk paham. Bukan lagi sekedar tahu, tapi juga mengalami suatu pengalaman menarik untuk dijadikan suatu pembelajaran.

 

–Teguh Rasyid

Pasar Malam Lombok Barat

Kantor Bupati

Beberapa hari sebelum keberangkatan pulang ke Jawa kami, saya dan beberapa teman nggak sengaja lewat kantor Bupati Lombok Barat ternyata diadakan pasar malam. Layaknya pasar malam, ada permainan anak-anak, jajanan pasar, dan beberapa stan yang menampilkan pemerintahan daerah.

Sebenarnya penasaran aja sama isinya. Sejujurnya saya belum pernah ke Pasar Malam seperti ini, malas aja sebenarnya. Dan jadi pengalaman pertama. Permainan pertama adalah perahu yang diayun menggunakan tenaga manusia, entah permainan di Dufan yang meniru atau sebaliknya.

Jangan harapkan sensasi yang sama seperti ketika kita menikmati permainan di Dufan, karena hanya seperti diayun-ayun aja. Apalagi biaya untuk bisa bermain saja hanya lima ribu rupiah. Ada permainan lain, mobil-mobilan, memancing, rumah hantu, kincir-kincir, kuda-kudaan, rumah balon.

Ada yang sebenarnya mengganggu bagi saya ketika melihat pasar malam ini. Karena ada perjudian yang diselenggarakan, memang perjudiannya tidak melibatkan ratusan ribu rupiah. Tapi yang miris adalah siapa yang bermain, karena nggak sedikit anak dibawah umur yang terlibat.

Seperti secara tidak langsung mengajarkan anak-anak kalau judi itu halal, dan bagaimana mereka menikmatinya dalam bentuk suatu permainan. Mirisnya tidak jauh dari beberapa arena judi ini, ada pria berseragam yang asyik merokok tanpa peduli yang terjadi.

Di halaman kantor bupati, perjudian diperbolehkan. Jadi jangan heran kalau suatu saat nanti, banyak perjudian-perjudian bentuk lain yang berkembang, dan mungkin akan semakin menjamur, bisa jadi tidak lagi dilakukan sembunyi-sembunyi tapi terang-terangan.

[Lombok] Berpisah dengan Lombok, dan Gili Trawangan!

Melihat Peta

Peta Tiga Gili

Sabtu kemarin kembali pergi ke Gili Trawangan, sebenarnya untuk menjadi bagian penutup liburan di Lombok setahun ini, ada opsi lain sebenarnya ke Bali dengan dua orang teman backpaker-an, tapi uang sedang nggak ada, jadilah gili Trawangan menjadi tujuan akhir.

Awalnya setelah dari Gili Trawangan kami melanjutkan perjalanan ke Sembalun menggunakan Jasa Om @tiket_lombok . Pun Blimin @infolombok juga katanya akan ikut juga, tapi ternyata takdir berkata lain, tidak ada mobil yang free untuk disewakan, juga Blimin @infolombok dan beberapa admin akun lombok ada agenda lain mengelilingi gili-gili yang berada di Sekotong, Lombok Barat. Next time pasti balik ke Lombok!

Kegiatan di Gili Trawangan masih sama seperti tahun lalu, minus snorkling, makanya cuma sharing foto-foto saja ya. Ditambah kami makan di Malimbu 2 ikan bakar dan kelapa muda. Nyum!

Dear Lombok,

Ini bukan perpisahan dan harus berucap selamat tinggal, tapi sampai jumpa lagi. Karena masih (akan) mengunjungimu untuk meretaskan agenda tempat yang harus dikunjungi untuk dilihat, dinikmati.

Setahun sudah menjadi warga Lombok, pertama kali datang rasanya seperti ke tempat yang asing, perjalanan yang hanya kelihatan sawah yang membentang di sana-sini sepanjang BIL – Mataram.

Tempat tugas pertama adalah puskesmas, jadinya tahu pelayanan dasar di Lombok, yang serba seadanya bahkan oksigen pun dibatasi, untuk rujukan pun indikasi oksigen habis, pun saat kami kepala Puskesmasnya sungguh ‘istimewa’ jadilah semuanya akan dikenang.

Jadi paham, cidomo seperti alat transportasi yang vital di sini, banyak pasien yang datang untuk berobat menggunakan cidomo. Apalagi kalo sudah diperbolehkan pulang. Setiap satu pasien diantar banyak orang bukan lagi hal yang aneh.

Lombok, nggak pernah terbayang harus menetap di sini selama setahun. Pulau yang rasanya disetiap sudutnya indah dengan caranya sendiri. Mungkin rasanya mangkel ketika harus bertemu dengan Nyongkolan–tradisi pernikahan yang menyebabkan kemacetan.

Cukup banyak tempat wisata yang telah dikunjungi tapi tetap saja tidak habis untuk terus dijelajahi. Jika saja tidak bekerja, atau jumlah hari libur memenuhi mungkin setahun ini tamat menyelesaikan Lombok, nyatanya tidak.

Terima kasih untuk kenangan yang menyenangkan. Seluruh teman dokter internsip Lombok Barat, para perawat Puskesmas Kediri, RS Gerung, Dokter-dokter senior, masyarakat Lombok Barat. Untuk semua pengalaman, persahabatan, pertemanan, konflik. Sukses selalu! 🙂

Oia, terima kasih untuk Blimin @infolombok om @tiketlombok @LomboKeren untuk menghiasi timeline tentang Lombok, dan inspirasi untuk liburan. Masih akan terus di follow kok.

I do love Lombok!

–Teguh Rasyid