Buku : Dong Ayok Ke Lombok!

Dong Ayok Ke Lombok!

Judul Buku : Dong Ayok Ke Lombok!

Penulis : Ari Diatmika, dkk.

Halaman : 180 hlm.

Penerbit : Dimensi Publishing

Harga : 40 ribu.

Dengan slogan ‘Cuma Setengah Jam dari Bali’ buku ini dipublikasikan untuk lebih mengenalkan Lombok, pantai Lombok nggak hanya Pantai Senggigi, tapi ada banyak pantai indah yang tersebar diseluruh Lombok.

Di dalam buku ini ada 31 pantai yang ada di 3 bagian Lombok. Lombok Barat, Tengah, dan Timur.

Bagian pertama tentang Kawasan Mandalika Resort. Mandalika dulu dikenal dengan nama ‘Kuta’ tapi karena ingin lepas dari bayang-bayang Bali, maka dirubahlah menjadi Mandalika–bahkan ada kisah rakyat tentang Putri Mandalika, event ‘Bau Nyale’ menangkap cacing laut yang berwarna-warni kemudian menggunakannya untuk bahan makanan.

Pas saya di Lombok, sebenarnya ada sih, tapi karena harus menginap soalnya kegiatan menangkap Nyale itu dilakuin sebelum subuh, akhirnya malas lah saya. Hahaha…

Ditutup dengan bagian enam mengenai Kawasan Senggigi. Kawasan Senggigi aja punya setidaknya enam pantai yang berbeda. Mulai Senggigi, Kerandang, Setangi, Malimbu, Nipah, Sira.

Buku ini disusun secara alphabetikal, mulai dari Kawasan yang digali, penulisnya, mungkin untuk mempermudah. Tapi saya merasa akan lebih tepat untuk menggabungkannya menjadi tiga bagian besar. Lombok Barat, Tengah, dan Timur.

Pantai Lombok memang identik dengan pasir putih, langit biru, pemandangan yang indah. Tapi lagi-lagi semuanya akan sesuai dengan apa yang kalian bayangkan kalau tepat waktunya.

Karena pantai itu tergantung waktu, kalo datang pas musim hujan, mendung, keindahan sebuah pantai akan tergradasi. Kadang harus berulang kali datang ke tempat yang sama untuk menyadari betapa indahnya sebuah objek wisata.

Untuk informasi yang disampaikan di dalam buku cukup lengkap. Ada rute perjalanan, biaya masuk, dan beberapa mencantumkan sejarah mengenai pantai itu sendiri.

Mungkin yang mengganggu saya adalah masalah kertas buku itu sendiri. Keras, tidak seperti buku perjalanan lainnya. Mungkin karena diterbitkan melalui penerbit indie, dengan harga 40 ribu, bisa dibilang lumayanlah. Kalau mau fotonya nampak lebih bagus, akan memperbaiki kertas yang bisa jadi mengakibatkan naiknya ongkos produksi, dan harga 40 ribu mungkin akan meningkat entah jadi berapa.

DSC_0188

Jadi, Dong Ayok Ke Lombok!

Kalo mau memesan buku ini silakan hubungi @ONOFFLombok 🙂

Review : On A Journey

Judul Buku : On A Journey

Penulis : Desi Puspitasari

Penerbit : Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : 262 halaman

Harga : Lupa, tapi dapat diskon beli di TM.

On A Journey

Ini kisah tentang Rubi Tuesday seorang penulis, yang ironinya bukan lahir dihari selasa, kisah patah hati yang bikin Rubi melakukan perjalanan buat melupakan sakit hatinya. Dalam perjalanannya dia belajar banyak.

DSC_0181

Kalau kata penulisnya, enggak perlu menunggu patah hati untuk melakukan perjalanan. Ada benarnya juga, perjalanan dilakukan nggak hanya karena patah hati, tapi kadang adanya keinginan untuk menjernihkan pikiran, melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Tapi patah hati mungkin menjadi titik tolak yang biasanya menjadikannya motivasi kuat untuk melakukan perjalanan.

Seperti halnya Rubi yang melakukan perjalanan karena dia patah hati terhadap sahabatnya sendiri. Melakukan perjalanan dengan  uang seadanya, sepeda butut, dan ransel jeleknya.

Sebenarnya menarik jika membaca buku-buku perjalanan. Karena dari sebuah perjalanan kita bisa kenal, tahu, petik sesuatu yang baru. Kita belajar–dan akan lebih menetap dalam ingatan ketika kita terlibat sendiri.

Saya sangat menyukai bagaimana Mbak Desi memilih diksi yang tidak njelimet tapi terkadang jadi berpikir–kenapa nggak pernah kepikiran pake diksi itu? Seperti tercermin dari cerpen-cerpen yang pernah dia buat.

Oke, mungkin penilaian fair enough untuk novel ini. Karena entah kenapa saya seperti kurang mengenal siapa Rubi, bagaimana perawakannya, karena yang terlintas dalam pikiran saya Rubi Tuesday adalah Desi Puspitasari, tapi Desi menggunakan jilbab, sedang Rubi tidak.

Pun saya merasa saya tidak cukup ditunjukkan bagaimana setting perjalanan Rubi, karena terkesan begitu saja, bla dilanjutkan bla, terus bla, diakhiri dengan titik. Mungkin juga karena saya tipe yang suka detil, makanya sedikit terganggu. Jadi susah membayangkan, ikut terlibat dalam perjalanan Rubi itu sendiri.

Karena sebenarnya hidup itu perjalanan. Dan saya membaca buku ini pada saat memang saya melakukan perjalanan di Yogyakarta, setelah (juga) patah hati. Hahaha… 😀

Buku yang menghibur, seseorang yang sedang patah hati dan juga melakukan perjalanan. Ada beberapa kutipan yang menarik bagi saya.

Kenapa kau tidak pergi keluar sebentar, kenapa tidak mencoba melihat pemandangan lain, melakukan perjalanan?‘ Istanbul oleh Orphan Pamuk –Dalam On A Journey hlm. 8

Rubi menjelaskan kepada Stine mengenai ‘paparan penulis’ dia bilang, ‘Petak rumput, tembok putih, silau matahari, kulit jeruk, wangi vanili, dan… lain-lain. Di tangan seorang penulis, hal-hal biasa seperti itu bisa mereka paparkan dengan bahasa mereka dan entah kenapa terasa begitu hidup…’ hlm. 19

Belajarlah tertawa. Masalahmu tidak lebih besar dan berat dari apa-apa bila akhirnya kau telah berhasil melaluinya’ –hlm. 125

My Mind

Kemarin bukan kemarin entah beberapa hari yang lalu, atau beberapa minggu lalu, seseorang mensuggest untuk memfollow seseorang. Dan saya memfollow orang tersebut. Akun tanpa nama jelas, tanpa foto.

I am freak! Saya mungkin tipe orang yang sungguh terlalu ingin tahu. Apalagi untuk hal-hal yang rasanya menggelitik pikiran. Yeah, i am using google untuk memenuhi tujuan saya. Saya tidak pernah menyangka ketika tiba-tiba ada sesuatu yang aneh.

I am obsessed sama orang ini. Berusaha mereply, mencari perhatian, dan pada akhirnya saya di follow back. Rasanya ingin jejingkrakkan. Ah, akhirnya… Apa saya orang yang kesepian? Mungkin.

Tapi pada akhirnya dia mengenalkan saya dengan pacarnya. Oh, my heart is broke, meskipun dalam pikiran, saya baik-baik saja. Tapi hati gak pernah bohong. Iya, entah kenapa saya seharian merasa tak tenang.

Tak tenang untuk seseorang yang tidak pernah saya temui. Untuk sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikiran saya. Bukan, mungkin ini hanya reaksi karena saya tidak mendapatkan keinginan saya. Damn!

Berhenti di situ? Nope, i am gugling tentang pacarnya, kemudian saya menemukan tumblr miliknya. Kemudian membaca tulisan-tulisan sederhana, yang terlihat dari hati, kasmaran. Aku cemburu, iri. Ya sungguh iri, dia mendapatkan dia. 😦

Aku baik-baik saja, dan akan baik-baik saja.