Neurologist Wanna Be

Tujuan hidup sepertinya nggak hanya berorientasi seberapa banyak penghasilan yang akan kita hasilkan kelak, meskipun tidak menutup kemungkinan hal finansial tetap harus dipikirkan namun bukan hal yang utama.

‘Kenapa nggak ambil Obgyn? Duitnya banyak lho,’ Ujar beberapa orang yang saya temui, pun begitu juga beberapa bidan.

Kalau mau menghubungkan spesialisasi yang akan saya ambil dengan kemakmuran yang menunggu sebenarnya sama saja. Tiap dokter pasti punya rejekinya masing-masing, nggak pernah akan tertukar, salah alamat.

Sesuatu yang membutuhkan ‘tindakan’ memang akan menghasilkan pundi-pundi uang yang berlimpah. Lihat saja dokter bedah saraf, sekalinya operasi berapa puluh juta yang bisa dihasilkan.

Atau dokter kandungan, ketika melakukan operasi, dalam kisaran juta hingga belasan juta sudah ada dikantung pribadi.

Saya nggak suka tindakan operasi! Aneh memang, tapi entah kenapa ada ketakutan dan trauma tersendiri kalau harus masuk meja operasi, memegang alat, membelah perut atau semacamnya, melihat darah, feses, dan sejenisnya.

Bukan karena saya takut hal yang demikian, tapi trauma ketika dimarahin konsulen, meskipun memang untuk pembelajaran tapi tetap aja. Aaak! I am really scared with operating room!

Saraf, tadinya nggak kepikiran sangat tertarik untuk melanjutkan spesialisasi saraf, tapi mungkin semuanya ada keterhubungan antar satu sama lain sejak masa perkuliahan.

Topik migren, merupakan penelitian yang saya ambil untuk menyelesaikan skripsi, betapa saya kesulitan untuk menyelesaikannya! Haha! Pun saat penelitian saya terkena Bells Palsy kelumpuhan nervus fasialis perifer. Gimana rasanya saat bangun pagi, pas ngaca tiba-tiba ada yang aneh diwajahmu, cuma bisa digerakkan sebelah saja, senyum tidak simetris, mata tidak bisa menutup sempurna. Tersiksa. Bahkan buku tahunan saya saat saya sedang dalam masa pengobatan.

Selama masa pendidikan profesi (koass) salah satu bagian yang akan selalu saya ingat adalah saraf, gimana nggak terlupa, dari total 5 minggu, 4 minggunya pada bulan Ramadan, ke Rumah Sakit setelah melaksanakan sahur, membangunkan pasien, mencium bau pasien yang semuanya belum mandi, visitasi jam 6 pagi, mencuri tidur diruang admin rumah sakit, baru pulang ke rumah jam tiga sore.

Melanjutkan jaga sore-malam dari jam lima sore, bimbingan dari jam 8 sampai 12 malam, dan harus bangun lagi jam 3 pagi! Selama 5 minggu seperti itu, belum menghitung tugas yang menumpuk, ujian. Unforgettable! 

Banyak penyakit-penyakit yang menarik, meskipun radiks selalu membingungkan, banyak yang harus dihafalkan, menjelimet tapi entah kenapa semua seperti tantangan yang menarik.

Yeah! I am neurologist wanna be! Semoga dua-tiga tahun lagi bisa mengajukan proses pendidikan spesialis. Aamiin.

 

11 Ramadan, semoga puasanya lancar semua!

Keluarga Besar

‘Anak keberapa kamu?’

‘Anak keduabelas dari duabelas bersaudara’

‘Enak dong, kalo lebaran rame?’

Punya keluarga besar pasti punya keseruan, dan keribetannya sendiri. Untung memutuskan memiliki keluarga besar adalah hal yang harus dipikirkan matang-matang, nggak cuma karena banyak anak banyak rejeki. Setiap anak memang memiliki rejekinya masing-masing, tapi juga mereka memiliki pemikiran mereka sendiri-sendiri.

Pernah ngebayangin nggak, ada gap yang cukup lebar antara anak pertama dengan adik yang paling akhir, jarak usia yang tidak tanggung-tanggung, pemikiran yang sudah berbeda seperti seorang ayah yang sedang berdiskusi dengan anaknya sendiri.

Pun kedekatan antar masing-masing anak yang nggak semuanya bisa menyatu, karena ada air pun begitu ada minyak yang tidak bisa menyatu, mungkin bisa jika ditambah komponen tertentu seperti sabun.

Saya dan kakak pertama jarak usia 26 tahun, dan keponakan saya justru lebih tua dua tahun dari saya. Saya bukan lagi bermain saat kecil dengan kakak saya, tapi dengan keponakan. Dia memanggil nama bukan lagi om, mang, atau apalah. Pun, saya sering dibuat menangis oleh keponakan saya karena usia saya lebih muda jadi dia merasa lebih superior meskipun dari silsilah keluarga saya lebih tua.

Keluarga besar paling menyenangkan memang saat berkumpul, saat ada acara-acara besar, semuanya berbagi tawa, dengan para keponakan yang berkumpul menjadi satu bertambahlah keriuhan yang terjadi.

Waktu kecil saya paling menunggu adalah hari raya karena setiap kakak biasanya ngasih THR, dan lumayan kan kalau setiap kakak ngasih. Hasil usaha sehari itu biasanya ditabung dan dibelikan sesuatu.

Tapi, keluarga besar itu rentan konflik, karena banyak kepala banyak kepentingan, akhirnya bergesekan satu sama lain. Bukan lagi individu yang melawan individu tetapi terkadang beberapa orang melawan individu, atau kelompok melawan kelompok.

Mereka menginginkan apa yang anggap benar menjadi suatu hal yang solid untuk diperjuangkan, nggak mau kalah. Dan ada juga yang tidak peduli dengan keluarganya, sudah terlalu asik dengan keluarga kecilnya masing-masing.

Tapi apapun yang terjadi didunia ini, keluarga adalah tempat kita kembali, bercerita. :’)

‘Kamu nggak nanya, kenapa dulu orang tua nggak ikut KB?’

‘Kalo ikut KB, saya nggak ada dong, dok?’ Ujar saya polos.

Semoga saya mendapatkan tempat kerja yang kedua. Aamiin.

Malioboro Saat Subuh

Plang Malioboro

Empat tahun penuh di Yogyakarta, sebelum menikmati masa pendidikan profesi di Salatiga selama dua tahun, diselingi oleh bagian Forensik, Kedokteran Keluarga, dan Kedokteran Masyarakat di Yogyakarta.

Tahun 2005 pertengahan saya pertama kali datang ke Yogyakarta. Dulu, bahkan saya tidak pernah terpikir akan dewasa di kota ini. Saya yang hidup remaja di Jakarta tiba-tiba disuruh pulang kemudian malam harinya ke Yogyakarta menggunakan travel untuk didaftarkan kuliah.

Yogyakarta itu ngangenin, suasananya, orang-orangnya. Setidaknya itu yang saya rasakan semenjak tahun 2005. Yogyakarta masih sepi, jalanan masih lowong, nggak ada macet. Meskipun volume kendaraan roda dua memang menguasai jalanan.

Sekarang banyak hotel dimana-mana, panas, macet sudah menjadi hal yang biasa terjadi di sini. Katanya Walikota-nya baru, maka kebijakan yang diterapkan juga berbeda. Mungkin karena Yogyakarta hidup dari pariwisata, kemudian berbondong menyediakan fasilitas—hotel menjamur.

Salah satu tempat yang paling sering dikunjungi atau menjadi tempat favorit untuk kopdaran adalah Malioboro, alasan sederhananya adalah Malioboro dekat kosan, kedua Malioboro memang masih menjadi ikon utama Malioboro.

Biasanya saya ke Malioboro itu jalan kaki, sambil menikmati keriuhan, tawar-menawar antar pedagang. Bule-bule berkeliaran, wisatawan domestik—biasanya sih pelajar bertebaran.

Maka pagi itu, sebelum malam hari saya pamit mengakhiri (sementara) kehidupan saya di Yogyakarta, saya ingin menikmati Malioboro subuh hari. Setelah sholat berjamaah di Masjid saya pun mulai berjalan kaki.

Tuna Wisma

Subuh selalu menyenangkan untuk dinikmati, sepi, tenang, sejuknya udara, rasanya hidup itu terisi. Saya lihat dibeberapa emperan toko banyak tunawisma yang tidur menggunakan selimut plastik beras, dengan alas kardus, atau bahkan tanpa alas.

Jl. Nyi Ahmad Dahlan

Mereka tidur pulas tanpa memikirkan kehidupan mereka esok harinya, ketika mereka harus berjuang untuk hidup mereka.

Suasana di Malioboro pagi hari dapat disimpulkan menjadi dua hal sampah dan bau pesing. Kebiasaan orang-orang di Indonesia menganggap jalanan adalah kotak sampah berjalan, jadi bisa seenaknya membuang apa yang mereka bawa dan telah mereka anggap tidak berguna.

Pun, pedagang yang (juga) seenaknya membuang hasil mereka berjualan. Meskipun mungkin mereka telah bayar retribusi atau apapun itu, tolong sampah dibuang ditempatnya.

Bagi pejalan alangkah elok kalo mereka mengantongi, atau menaruh tas sampah mereka. Baru pas ketemu kotak sampah baru dibuang ketempatnya.

Ada beberapa yang mendorong gerobak jualannya, petugas kebersihan masih 3 orang yang sudah bekerja, ada dua pasang ibu-ibu lewat, sepasang menggunakan sepeda, sepasang yang lainnya joging. Kesamaan mereka adalah berbagi tawa, bercerita satu sama lain.

Ada anak dan bapaknya lagi mengambil gambar dipapan penunjuk ‘Malioboro’ dan tukang becak yang masih tertidur lelap diatas becak mereka.

Melewati jalan Dagen, lalu kilasan masa lalu saat kuliah menjadi pengajar TPA, entah sekarang mereka seperti apa. Pasti sudah besar-besar setidaknya ada yang telah menginjak bangku menengah pertama.

Saat kembali ke perempatan nol kilometer, ada tiga tentara yang mengibarkan bendera Indonesia dengan khidmatnya, meski mereka cuma bertiga, dalam sepi, dan keheningan.

Semuanya menunjukkan rasa tenang, sinergis yang bersatu padu membentuk harmoni yang akan selalu dirindukan. Sepinya subuh hari, aktivitas menanti sang fajar. Berbagi tawa antar keluarga, mulai membanting tulang—bahkan ada ibu-ibu peminta yang sudah menunjukkan mangkok untuk meminta uang.

Yogyakarta 2005—2013 terima kasih. Untuk semua pendewasaan yang telah terjadi, ilmu yang menjadi bekal masa tua, dan meninggalkan Jogja bukan lagi sebagai mahasiswa, tapi seorang dokter dan sudah terlepas dari kewajiban Internsip satu tahun. 🙂