Alzheimer

foto_google_alzheimerHari ini acara Sarah Sechan di NET segmen terakhir ngomongin tentang Alzheimer. Hilangnya kemampuan mengingat dan intelektual yang dapat mengganggu kualitas hidup. Untuk lebih lanjut tentang alzheimer bisa ke situsnya langsung ya di sini. Jadi makin banyak orang tua dan bahkan di usia muda yang sudah mengalami gangguan ingatan.

Kadang secara nggak sadar, kita yang mempercepat atau mempeburuk keadaan otak untuk tidak gunakan untuk berpikir, bekerja dan pada akhirnya otak akan mengerut. Nggak usah jauh-jauh ambil contoh orang lain, tapi Ibu saya.

Ibu tinggal sama kakak terakhir, memang usia ibu tahun ini menginjak tujuh puluh tahun. Tapi sejak beberapa tahun lalu aktivitas Ibu sudah dibatasi oleh kakak, nggak boleh kerja, pergi-pergian secara terbatas, bahkan untuk sekedar bersosialisasi pun seminggu bisa dihitung dengan jari. Jika saya mengijinkan, maka kakak saya mengatas namakan tua melarang.

Mempercepat otak untuk mengecil, dan keluhan Ibu sering lupa menjadi semakin banyak dikeluhkan. Ibu makin merasa tidak berguna, bahkan untuk mengurusi cucu atau cicitnya sudah tidak mampu lagi. Kepercayaan dirinya sudah turun drastis, sebelum saya akhir menetap di rumah (lagi).

Alzheimer bukan lagi hal yang asing, karena sudah pernah difilmkan seperti ‘The Notebook’. Sudah saatnya kita aware sama diri sendiri, dan terlebih lagi ke orang tua kita. Sesuatu yang sebenarnya cuma alasan kita justru mengorbankan kesehatan orang tua kita.

😦

Ruang Cuci Darah

Sudah lebih dari enam bulan harus berhubungan sama pasien cuci darah. Pasien penyakit kronis yang mengharuskan mereka cuci darah, ada yang seminggu sekali, dua kali, mungkin di tempat lain bisa hingga tiga kali dalam seminggu.

Empat hingga lima jam mereka harus duduk atau berbaring, dua jarum berukuran besar harus ditusukkan ketubuh mereka, selang yang satu menyedot darah dari tubuh mereka kemudian diputar di mesin, setelahnya dikembalikan ke tubuh melalui selang satunya.

Ada pasien yang masih dengan tubuh perkasanya datang sendiri, tapi nggak jarang yang harus dipapah sama keluarga, istri, suami atau anak mereka.

Banyak yang masih mengurai senyum saat menjalani semuanya, tapi beberapa sudah mulai jenuh. Tapi semuanya harus dijalani hingga mereka tiada. Untuk bisa daftar di suatu tempat cuci darah kadang antriannya adalah kematian.

Tapi tahukah jika cuma di ruang cuci darah kita menemukan kesetiaan, mereka yang setia mengantar yang tercinta setiap harinya. Mereka nggak ngeluh, tapi wajah mereka kadang terlihat lelah.

Mereka yang dengan rasa sayangnya menyuapi suami atau istri mereka saat cuci darah, menuangkan air teguk demi teguk ke mulut terkasih. Untuk sekedar menolong makanan masuk.

Mereka yang setia. Mereka yang menggenggam erat tangan bahkan saat terakhir yang terkasih harus mengucapkan selamat tinggal.

Terima kasih. Ucap mereka.