Perjalanan

Kenapa harus berjalan? Tidakkah kita cukup duduk diam, menunggu. Toh, dengan berjalan kita akan lelah, bulir keringat akan mengalir deras memenuhi setiap inchi tubuh. Dan ketika kita berjalan selalu ada saja pilihan yang harus kita pilih, ada benar dan salah, hitam putih.

Tapi kenapa harus diam, ketika kita bisa berlari, mengejar mimpi, meski tak mudah tapi sebuah perjalanan itu pembelajaran. Seperti mempelajari sistem kecap lidah, ada pahit, asam, manis. Semuanya berbaur menjadi satu kemudian kita tidak lagi terkejut ketika salah satu bagian lidah kita bersentuhan dengan semua rasa itu.

Apa dengan berdiam kita akan sampai pada tujuan akhir kita? Apa dengan diam, orang akan iba dengan tatapan tolong kasihanilah aku, aku butuh makan, butuh minum, mungkin membutuhkan dia yang dapat melengkapi hidup kita.

Aku akan duduk diam seperti pertapa yang memohon petunjuk, aku akan menunggu waktuku tiba. Berjalan membuat sakit, mataku pedih. Berlari membuat asam laktatku menumpuk, sehingga aku gampang sekali lelah.

Jika semua orang sepertimu, Adam nggak akan pernah bertemu Hawa. Karena mereka terpisah satu sama lain, mereka bertemu karena mereka berjalan, terkadang berlari, mungkin sambil menangis memohon ampun kepada Tuhan. Mereka tidak peduli darah mengalir deras, keringat mengucur tak terhingga, asal sampai pada satu tujuan akhir.

Aku akan menjadi titik, dia diam, mengakhiri kalimat.

Apa kamu tidak membutuhkan garis. Titik yang satu akan bertemu dengan titik yang lain karena garis yang menghubungkan mereka. Garis membuatnya nyata tak lagi semu.

Tapi aku ingin diam.

Tapi aku juga ingin berjalan, bahkan berlari dalam suatu perjalanan. Sendiri, bersamamu, atau bersama mereka yang setia ada di sampingku.

Indramayu,

22 September 2014