Tuntunan Menonton

Kepala manusia tiba-tiba tergilas saat tank baja melewati sebuah jalan. Darah berceceran, ketika rentetan peluru keluar dari senapan panjang. Bom di mana-mana, kebengisan terlihat jelas menjadi sebuah tontonan. Auada anak kecil masih balita melihatnya, matanya tidak dapat berpindah dari tayangan ada yang di depan mata. Ada yang menangis, namun tertahan karena orang tua mereka enggan meninggalkan bangku bioskop. Karena tontonan sedang ada diklimaks cerita. Begitulah yang terlihat ketika saya menonton Fury kemarin.

Tidak ada yang salah dengan sebuah kisah darah, perang, ucapan kasar, ciuman hangat, atau pergumulan penuh hasrat. Jelas-jelas terpampang (biasanya) anjuran usia untuk menonton. Jangan tertipu dengan apa yang terlihat dari sebuah kover film, tidak selamanya film kartun bahasan tentang bagaimana kanak-kanak, kehidupan keluarga, tanpa percintaan.

Bagaimana rasanya menjadi orang tua, ketika melihat anak mereka masuk ke dalam pertunjukkan saat di dalamnya ada adegan ranjang, saling menanggalkan pakaian satu sama lain. Tidak usahlah membenarkan diri dengan menutup mata mereka dengan tangan kalian. Demi kesenangan kalian, dan mengorbankan anak-anak kalian.

Pengawasan juga sebenarnya bisa dilakukan pihak penyelenggara, dalam hal ini bioskop. Sebenarnya bisa dilihat saat pembelian tiket, menyarankan batasan usia untuk menonton. Atau bahkan seharusnya dengan tegas melarang anak-anak untuk menonton film-film berbau hal dewasa. Lalu berlanjut ketika memasuki pintu teater, saat kita menyerahkan tiket sebagai bukti tanda masuk. Harusnya lagi-lagi pihak bioskop melarang ketidaksesuaian usia dengan tontonan.

Namun, jika berhubungan dengan pemasukan, uang dibelakangnya, mungkin hal-hal yang rasional menjadi tidak rasional. Melindungi anak-anak, menjadi melindungi perusahaan, orang-orang yang bekerja. Tapi rejeki orang tidak akan berhenti dari satu pintu, karena pintu yang lain akan terbuka. Seharusnya.

Advertisements

Ibu

Ibu tidak pernah mau jika suatu saat nanti dia akan terkena penyakit Stroke, seperti yang diderita dua adiknya. Bahkan adik bungsunya sudah mendahului Ibu. Cukuplah penyakit Tekanan Darah Tinggi dan Penyakit Jantung sudah mentereng di bagian riwayat penyakit dahulu, dan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan sebagai riwayat penyakit keluarga jika suatu saat nanti ada dokter atau koass yang menganamnesa.

Karena itu pulalah, seseorang yang katanya dokter menutup matanya, membiarkannya abu-abu tak benderang. Bahkan untuk terbersit sejenak saja tidak terpikirkan. Bahkan terkadang aku tidak mengenal istilah Stroke jika berurusan dengan Ibu. Dia tidak pernah mau menyusahkan anak-anaknya, bahkan pernah dia ingin ditinggalkan saja di Panti Jompo.

Ibu pikir dengan Stroke, dia akan bergantung penuh dengan anak-anaknya. Padahal diusianya sekarang tujuh puluh tahun, mungkin sudah saatnya dia menerima keterbatasannya. Menekan rasa egois yang mengatasnamakan usia tua berarti paling tahu, paling benar.

Saatnya membiarkan anak-anaknya mengulurkan tangan, membuatnya berdiri. Memapahnya perlahan, bahkan jika perlu mengajarinya berjalan.

Ibu punya keluhan sulit berjalan, persendiannya kaku. Salah satu kakak pernah berceletuk, jika Ibu terkena stroke ringan, alih-alih mendengarkan saya memarahi kakak.

Dan semuanya berubah, ketika kami membawanya ke Fisioterapi, di sana Ibu divonis stroke, dan aku mulai menemukan benang merah Stroke, Tekanan Darah Tinggi, riwayat Penyakit Jantung yang tidak akan jauh dari Kolesterol dan sekawannya.

Bagaimana rasanya jika engkau seorang dokter, namun jika Ibumu sakit dan engkau tidak dapat berbuat apa-apa?

Snob

‘Jadi kenapa aktor itu nggak jadian sama aktris itu?’

‘Dari awal dia nggak pernah suka, karena aktris itu snob,’

Awal aku tahu istilah snob itu ada di muka bumi, dan mengerti apa itu snob dari obrolan grup Multiply yang sungguh random. Jarang sekali membicarakan satu hal secara konsisten. Tapi beberapa macam tema yang membaur entah enak rasanya, atau terlalu asin atau kecut.

Ngomong-ngomong masalah snob. Kalau menurut Tante Wiki, Snob diartikan a person who believes in the existence of an equation between status and human worth. Mudahnya membanggakan diri sendiri, mungkin attention whore. Setiap orang sebenarnya punya kecenderungan yang sama. Aku juga. Orang membutuhkan pengakuan atas eksistensi dirinya sendiri. Tapi bergantung kadar takarannya, berlebihan akan nampak over powering. Bukan lagi keasinan, kepedesan, tapi bikin eneg.

Paling malas berhubungan sama snob, ya mungkin karena aku iri sama apa yang bisa mereka lakukan, pencapaian yang telah dia lakukan. Entah apapun itu. Paling malas snob kalau orang harus tahu tentang dia, tapi dia nggak mau tahu tentang orang lain. Seberapa banyakpun interaksi yang terjalin antara satu orang dengan orang lainnya.

Hidup itu nggak cuma kita sendiri, tapi ada orang lain. Catatan kecil buat aku sendiri, biar nggak jadi snob. Haha.

Hasrat

450-bed1Dia datang tiba-tiba, memelukku dari belakang, mencium tengkukku perlahan.

‘Aku sayang kamu,’ ucapnya lirih di telingaku.

‘Aku juga sayang kamu. Selalu,’ Kupalingkan mukaku menghadap pipinya, kukecup pelan pipinya dan kini kami sudah berhadapan, kutarik kepalanya bibir kami bertemu. Kusesap pelan, seakan sedang berada di arena gulat, lidah kami bertarung. Tidak ada yang mau mengalah, tapi tidak juga ingin segera memenangkan pertarungan hasrat ini segera.

Tanganku merangkul pinggangnya, kutarik mendekat hingga aku bisa mendekapnya erat. Kucoba menghilangkan dingin yang sedari tadi menguasai tubuhku, menjadikannya hangat akan aliran darahmu, dan kunikmati saja aroma tubuhmu. Aku akan merindukannya saat engkau jauh entah di mana.

Dia mendorongku perlahan ke ujung ranjang yang terbuat dari kayu jati, ranjang kesayanganku. Dia membuka perlahan kaos yang melekat di tubuhku, menjelajahi setiap jengkalnya dengan sapuan lidah, aku menggelinjang karena geli dan aku tak tahan lagi. Aku merobek kemejanya, hingga tidak ada yang memisahkan kami.

Tubuhku tiba-tiba berguncang, seakan gempa sedang menyapa kami, dingin kembali hadir.

‘Ren, bangun! Anak gadis jam segini masih tidur aja!’ Suara Ibu membawaku kembali kepada kenyataan aku sendiri. Tidak berdua, apalagi bertiga. Dan ada basah yang kusadari kini.

Gambar diambil di sini.