Lima

Hari ini saya merapikan meja saya yang berantakan, membuangnya ke kotak sampah. Begitupun dengan kardus yang saya letakkan di bawah meja, tadinya berharap kardus itu suatu saat akan menjadi wadah kado sempurna entah untuk siapa.

Setahun lebih saya menjadi bagian cuci darah, setiap hari bertemu orang-orang yang sama, pasien yang rutin menyambangi ranjang-ranjang dingin mereka. Sering kali mendengar keluh mereka, tidak hanya mengenai sakit yang mereka tengah derita, tapi bagaimana hidup, bagaimana anak-ayah-ibu-pasangan mereka. Bahkan ketika ada yang bertikai, beberapa malah bercerita kepada saya.

Akhirnya saya dipindahtugaskan ke bagian lain RS, meninggalkan tempat yang nyaman untuk bercerita, dan memupuk berat badan karena selalu saja ada keluarga pasien yang datang membawa makanan.

Ada hal-hal yang bisa saya terima, dan ada hal-hal yang sulit untuk saya cerna. Alasan (katanya) kepindahan saya.

‘Direktur memberikan nilai kinerjamu dengan angka 5,’ ujar wakil direktur pelayanan medis. ‘Penilaian diberikan ketika PORDA tahun lalu.’

Bagaimana kinerja ditentukan bukan di tempat kerja. Saya hanya bertemu dengan Direktur saat PORDA beberapa jam. Saya mungkin bukan tipe yang mau susah payah menjilat kaki seseorang, bermanis ria pada orang yang memiliki pemikiran berbeda. Dan dia tidak melihat saya bekerja. Jika ingin menilai kinerja seseorang, silakan tanya kepada pasien yang saya tangani tiap harinya, atau perawat-perawat yang mendampingi, baik perawat cuci darah, ICU, ICCU, NICU, bangsal.

Jangan mengambinghitamkan kinerja, untuk sebuah arogansi untuk dihormati. Bahkan pada saat PORDA saya tidak dibayar sama sekali, untuk kerja saya selama 10 hari.

Mari kita menata meja yang baru, kali saja ini doa supaya saya disegerakan untuk sekolah (lagi). Aamiin.