Catatan Kecil

Dari kecil saya termasuk dalam golongan drama king, merasa hidupnya paling menderita. Kalau lagi bertengkar sama kakak, lalu Ibu dan Bapak malah belain kakak, nangislah saya tersedu-sedu. Bahkan pernah terlintas dalam pemikiran saya ketika masih SD, pengin hidup saya berakhir saja, biar hidup orang tua dan kakak lebih bahagia.

Kalau senang, terlalu berlebihan, dan begitupun kalau sedih, rasanya dunia menangis untuk saya (duh!)

Ketika Bapak meninggal tahun 2002, rasanya iri sama orang yang punya keluarga utuh, punya Bapak dan Ibu lengkap, tanpa kekurangan apapun. Kayaknya paling senang melihat keatas, ngeliat hal-hal yang kita nggak punya dibanding apa yang kita punya saat ini.

Beberapa hari lalu sekitar jam 03.30 Ibu sudah bangun dan pengin sesuatu, dan saya nggak segera beranjak untuk ngelakuin permintaannya. Ibu bukannya marah tapi ngeluh, katanya karena dia nggak bisa jalan, jadi permintaan dia nggak bisa segera dilaksanain.

Dan ada keluarga jauh yang meninggal, dia berceletuk, ‘Kalau orang lain meninggal mudah, tapi kalau saya kok lama ya.’

Pagi itu saya agak mengomel ke Ibu, kalo Ibu harusnya bersyukur  dia masih bisa jalan meski dibantu, masih bisa keluar, dibanding orang yang tiap hari di tempat tidur. Paling mudah memang ngomong, padahal melakukan sesuatu sesederhana itupun saya terkadang masih belum bisa melakukannya, masih sering mengeluh.

Kemarin saya bertemu teman, sebelumnya cuma kenalan dari dunia maya. Selama beberapa bulan, kemudian dia ke Cirebon karena adiknya akan menikah dan mendapatkan calon orang Cirebon, jadilah dia ke sini. Katanya untuk merapatkan pernikahan, dan tetek bengeknya.

Singkat cerita dia bilang orang tuanya, Bapak dan Ibunya sudah nggak ada, cuma berselang satu tahun saat akhir SMA dan mulai kuliah. Dan dia cuma berdua dengan adiknya yang akan menikah.

‘Aku bakal bertugas jadi Bapak untuk pernikahan adikku, pas ngunduh mantu-pun, aku yang harus maju,’

Apa ada nada getir dari nadanya? Surprisingly nggak ada, bahkan dari obrolan yang mengalir dia sepertinya sudah menerima takdir yang akhirnya menjadikannya sepi hanya dia dan adiknya. Gimanapun tugas yang nggak mudah untuk jadi kepala rumah tangga, mengambil alih kewajiban untuk bimbing seorang adik.

Saya enak masih punya banyak kakak, waktu Bapak nggak ada, Ibu masih bekerja, membiayai sekolah saya, hidup saya. Dan ketika Ibu sudah tidak bekerja, ada kakak saya yang mau membiayai saya.

Hidup orang lain tampak lebih membahagiakan, tapi kita nggak pernah tahu gimana cara menggapainya. Tapi masih banyak orang yang bisa jadi nggak sebahagia kita saat ini.

Alhamdulillah..

Advertisements