Review: Cipta Hotel Pancoran

Sebenarnya acara Arisan Film yang biasanya dibikin untuk kumpul teman-teman blog Multiply awalnya tanggal 17 Januari, dan saya sudah mengosongkan jadwal untuk ke Jakarta dan ikut ngumpul. Tapi karena satu dan lain hal diundur jadi tanggal 30 Januari. Sempat ngambek beberapa hari karena tanggal segitu saya ada jadwal jaga. Dan harus me-refund hotel yang sudah terlanjur dipesan.

Selama beberapa hari saya tidak memikirkan AF karena sudah terlanjur jengkel.

Seminggu sebelum AF, setelah saya sudah reda, saya berusaha mencari pengganti jaga tanggal 30, ketika senior dapat menggantikan saya sehari setelahnya saya membooking kereta dan penginapan selama di Jakarta.

Jumat, 29 Januari 2016

Saya sampai di stasiun Jatinegara jam 13, menggunakan gojek menuju hotel pertama Cipta Hotel di Jl. Pasar Minggu, tepat di sebelah Amaris Hotel.

DSCF0057

‘Maaf boleh check in awal?’ karena saya nyampe hotel jam 13.30.

‘Sudah reservasi sebelumnya, Pak? Atas nama siapa?’

‘Sudah, atas nama Teguh.’ lalu dibantu resepsionis laki-laki, ‘Bapak special request double bed ya, berarti kasurnya dua.’

‘Iya, saya pesan double bed. Tapi kalo double bed itu kasurnya queen size kalo twin bed baru dua.’ lalu malah si resepsionis laki-laki ini ngotot, dan sepertinya sudah jengkel.

Kemudian resepsionis perempuan mengulurkan brosur, yang intinya tipe kamar yang saya pesan memang twin bed tidak bisa diganti untuk double bed. Coba dari awal bilang begitu, nggak perlu ada yang merasa dibodohi, tersinggung.

DSCF0060

‘Kami memang fokusnya untuk corporate, Pak!’ ya, kan tapi…

Sampai kamar kesannya sempit, pemandangan dari kamar terhalang oleh Amaris Hotel, dan bantal kecil yang ada di kedua kasur ada bercak-bercak kehitaman, dan seperti bekas iler yang mengeras. Ada karpet, ketel pemanas air dan cuma tersedia teh.

DSCF0059

Besok paginya saya turun ke lantai dua untuk sarapan, variasi makanan kurang, tapi rasa makanannya lumayan. Setelah kelar makan saya masuk ke lift langsung pengin ke kamar, tapi apa yang terjadi? kartu yang saya pakai macet, tidak bisa digunakan. Jadilah saya turun ke lantai satu untuk komplain.

Mas resepsionisnya memasukin kartu ke alas, meng-klik komputer beberapa kali dan setelah dia yakin dia memberi kartunya kembali ke saya. Saya yakin saja kalo kartunya sudah berfungsi dengan baik.

Masuk lift, pintu lift sudah tertutup. Saya menempelkan kartu saya, tapi tidak berespon. Saya membolak-balikkan kartu tetap tidak ada respon. Saya panik karena lift kan tempat sempit dan saya tidak begitu menyukai tempat sempit. Sempat berpikir untuk membunyikan alarm, tapi saya melihat celah di lift. Saya pun membuka paksa lift tersebut kemudian saya kabur ke resepsionis untuk kembali komplen. Setelah resepsionisnya bolak-balik lift-komputer baru bisa digunakan kartunya.

Saya pun naik ke atas, lalu saat di depan kamar saya menempelkan kartu saya di depan sensor untuk membuka pintu. Tapi kartu saya ditolak mentah-mentah. Saya coba bolak-balik mencoba tapi hasilnya nihil. Saya dengan jengkel turun kembali dari lantai sembilan ke lantai dasar, untuk komplen.

Tapi yang saya baru sadari, tidak ada kata maaf dari resepsionisnya, cuma membenarkan, padahal apa yang dialami seorang pelanggan murni kesalahan hotel. Bahkan saat untuk check-out pun saya merasa dijutekin sama resepsionis, tidak ada senyum, bahkan ucapan terima kasih pun tidak ikhlas.

‘Mbak mau check-out,

‘Kamar berapa, Pak?’

‘918.’

‘Oh dari Traveloka. Terima Kasih.’ Tanpa melihat orang yang dihadapinya.

Balik lagi ke Cipta Hotel Pancoran? Tentu tidak.

Tuntunan Menonton

Kepala manusia tiba-tiba tergilas saat tank baja melewati sebuah jalan. Darah berceceran, ketika rentetan peluru keluar dari senapan panjang. Bom di mana-mana, kebengisan terlihat jelas menjadi sebuah tontonan. Auada anak kecil masih balita melihatnya, matanya tidak dapat berpindah dari tayangan ada yang di depan mata. Ada yang menangis, namun tertahan karena orang tua mereka enggan meninggalkan bangku bioskop. Karena tontonan sedang ada diklimaks cerita. Begitulah yang terlihat ketika saya menonton Fury kemarin.

Tidak ada yang salah dengan sebuah kisah darah, perang, ucapan kasar, ciuman hangat, atau pergumulan penuh hasrat. Jelas-jelas terpampang (biasanya) anjuran usia untuk menonton. Jangan tertipu dengan apa yang terlihat dari sebuah kover film, tidak selamanya film kartun bahasan tentang bagaimana kanak-kanak, kehidupan keluarga, tanpa percintaan.

Bagaimana rasanya menjadi orang tua, ketika melihat anak mereka masuk ke dalam pertunjukkan saat di dalamnya ada adegan ranjang, saling menanggalkan pakaian satu sama lain. Tidak usahlah membenarkan diri dengan menutup mata mereka dengan tangan kalian. Demi kesenangan kalian, dan mengorbankan anak-anak kalian.

Pengawasan juga sebenarnya bisa dilakukan pihak penyelenggara, dalam hal ini bioskop. Sebenarnya bisa dilihat saat pembelian tiket, menyarankan batasan usia untuk menonton. Atau bahkan seharusnya dengan tegas melarang anak-anak untuk menonton film-film berbau hal dewasa. Lalu berlanjut ketika memasuki pintu teater, saat kita menyerahkan tiket sebagai bukti tanda masuk. Harusnya lagi-lagi pihak bioskop melarang ketidaksesuaian usia dengan tontonan.

Namun, jika berhubungan dengan pemasukan, uang dibelakangnya, mungkin hal-hal yang rasional menjadi tidak rasional. Melindungi anak-anak, menjadi melindungi perusahaan, orang-orang yang bekerja. Tapi rejeki orang tidak akan berhenti dari satu pintu, karena pintu yang lain akan terbuka. Seharusnya.

Gado-Gado

Sebenarnya masakan ini kalo menurut saya lebih cocok untuk disebut lotek, tapi kata kakak ini gado-gado. Saya akhirnya mengikuti saja, katanya perempuan lebih tahu mana yang benar mengenai makanan macam begini (?)

Setelah hari Lebaran kemarin, mungkin bosan dengan opor ayam, sambal goreng ati, sayur cabe, makanya dibuat alternatif makanan ini untuk dijadikan sarapan. Sebenarnya akan lebih cocok kalo dimakan pas siang hari.

Lotek

Bahan-Bahan (secukupnya tanpa takaran) :

  • Ketupat
  • Kubis
  • Timun
  • Kacang Panjang
  • Tauge
  • boleh ditambahkan sayuran lain (tomat, buncis atau sejenisnya) dan gorengan

Bumbu yang dihaluskan

  • Kacang tanah yang digoreng
  • Terasi
  • Gula Merah
  • Garam
  • Cabe Rawit yang dikukus
  • boleh ditambahkan bawang putih

Tambahan:

  • Kecap
  • Air Putih

Gado-Gado

Pertama haluskan bumbu-bumbu yang dihaluskan, kacang tanah goreng agak banyak, berbanding terbalik sama terasi sedikit saja. Kemudian tambahkan air putih untuk mendapatkan konsistensi yang diinginkan. Baru masukkan, ketupat, sayuran dan gorengan yang telah diiris, tambahkan kecap, baru diaduk rata.

Pindahkan ke atas piring, tambahkan dengan kerupuk. Maka jadilah gado-gado/lotek yang anda inginkan. Selamat mencoba.

Malioboro Saat Subuh

Plang Malioboro

Empat tahun penuh di Yogyakarta, sebelum menikmati masa pendidikan profesi di Salatiga selama dua tahun, diselingi oleh bagian Forensik, Kedokteran Keluarga, dan Kedokteran Masyarakat di Yogyakarta.

Tahun 2005 pertengahan saya pertama kali datang ke Yogyakarta. Dulu, bahkan saya tidak pernah terpikir akan dewasa di kota ini. Saya yang hidup remaja di Jakarta tiba-tiba disuruh pulang kemudian malam harinya ke Yogyakarta menggunakan travel untuk didaftarkan kuliah.

Yogyakarta itu ngangenin, suasananya, orang-orangnya. Setidaknya itu yang saya rasakan semenjak tahun 2005. Yogyakarta masih sepi, jalanan masih lowong, nggak ada macet. Meskipun volume kendaraan roda dua memang menguasai jalanan.

Sekarang banyak hotel dimana-mana, panas, macet sudah menjadi hal yang biasa terjadi di sini. Katanya Walikota-nya baru, maka kebijakan yang diterapkan juga berbeda. Mungkin karena Yogyakarta hidup dari pariwisata, kemudian berbondong menyediakan fasilitas—hotel menjamur.

Salah satu tempat yang paling sering dikunjungi atau menjadi tempat favorit untuk kopdaran adalah Malioboro, alasan sederhananya adalah Malioboro dekat kosan, kedua Malioboro memang masih menjadi ikon utama Malioboro.

Biasanya saya ke Malioboro itu jalan kaki, sambil menikmati keriuhan, tawar-menawar antar pedagang. Bule-bule berkeliaran, wisatawan domestik—biasanya sih pelajar bertebaran.

Maka pagi itu, sebelum malam hari saya pamit mengakhiri (sementara) kehidupan saya di Yogyakarta, saya ingin menikmati Malioboro subuh hari. Setelah sholat berjamaah di Masjid saya pun mulai berjalan kaki.

Tuna Wisma

Subuh selalu menyenangkan untuk dinikmati, sepi, tenang, sejuknya udara, rasanya hidup itu terisi. Saya lihat dibeberapa emperan toko banyak tunawisma yang tidur menggunakan selimut plastik beras, dengan alas kardus, atau bahkan tanpa alas.

Jl. Nyi Ahmad Dahlan

Mereka tidur pulas tanpa memikirkan kehidupan mereka esok harinya, ketika mereka harus berjuang untuk hidup mereka.

Suasana di Malioboro pagi hari dapat disimpulkan menjadi dua hal sampah dan bau pesing. Kebiasaan orang-orang di Indonesia menganggap jalanan adalah kotak sampah berjalan, jadi bisa seenaknya membuang apa yang mereka bawa dan telah mereka anggap tidak berguna.

Pun, pedagang yang (juga) seenaknya membuang hasil mereka berjualan. Meskipun mungkin mereka telah bayar retribusi atau apapun itu, tolong sampah dibuang ditempatnya.

Bagi pejalan alangkah elok kalo mereka mengantongi, atau menaruh tas sampah mereka. Baru pas ketemu kotak sampah baru dibuang ketempatnya.

Ada beberapa yang mendorong gerobak jualannya, petugas kebersihan masih 3 orang yang sudah bekerja, ada dua pasang ibu-ibu lewat, sepasang menggunakan sepeda, sepasang yang lainnya joging. Kesamaan mereka adalah berbagi tawa, bercerita satu sama lain.

Ada anak dan bapaknya lagi mengambil gambar dipapan penunjuk ‘Malioboro’ dan tukang becak yang masih tertidur lelap diatas becak mereka.

Melewati jalan Dagen, lalu kilasan masa lalu saat kuliah menjadi pengajar TPA, entah sekarang mereka seperti apa. Pasti sudah besar-besar setidaknya ada yang telah menginjak bangku menengah pertama.

Saat kembali ke perempatan nol kilometer, ada tiga tentara yang mengibarkan bendera Indonesia dengan khidmatnya, meski mereka cuma bertiga, dalam sepi, dan keheningan.

Semuanya menunjukkan rasa tenang, sinergis yang bersatu padu membentuk harmoni yang akan selalu dirindukan. Sepinya subuh hari, aktivitas menanti sang fajar. Berbagi tawa antar keluarga, mulai membanting tulang—bahkan ada ibu-ibu peminta yang sudah menunjukkan mangkok untuk meminta uang.

Yogyakarta 2005—2013 terima kasih. Untuk semua pendewasaan yang telah terjadi, ilmu yang menjadi bekal masa tua, dan meninggalkan Jogja bukan lagi sebagai mahasiswa, tapi seorang dokter dan sudah terlepas dari kewajiban Internsip satu tahun. 🙂

Buku : Dong Ayok Ke Lombok!

Dong Ayok Ke Lombok!

Judul Buku : Dong Ayok Ke Lombok!

Penulis : Ari Diatmika, dkk.

Halaman : 180 hlm.

Penerbit : Dimensi Publishing

Harga : 40 ribu.

Dengan slogan ‘Cuma Setengah Jam dari Bali’ buku ini dipublikasikan untuk lebih mengenalkan Lombok, pantai Lombok nggak hanya Pantai Senggigi, tapi ada banyak pantai indah yang tersebar diseluruh Lombok.

Di dalam buku ini ada 31 pantai yang ada di 3 bagian Lombok. Lombok Barat, Tengah, dan Timur.

Bagian pertama tentang Kawasan Mandalika Resort. Mandalika dulu dikenal dengan nama ‘Kuta’ tapi karena ingin lepas dari bayang-bayang Bali, maka dirubahlah menjadi Mandalika–bahkan ada kisah rakyat tentang Putri Mandalika, event ‘Bau Nyale’ menangkap cacing laut yang berwarna-warni kemudian menggunakannya untuk bahan makanan.

Pas saya di Lombok, sebenarnya ada sih, tapi karena harus menginap soalnya kegiatan menangkap Nyale itu dilakuin sebelum subuh, akhirnya malas lah saya. Hahaha…

Ditutup dengan bagian enam mengenai Kawasan Senggigi. Kawasan Senggigi aja punya setidaknya enam pantai yang berbeda. Mulai Senggigi, Kerandang, Setangi, Malimbu, Nipah, Sira.

Buku ini disusun secara alphabetikal, mulai dari Kawasan yang digali, penulisnya, mungkin untuk mempermudah. Tapi saya merasa akan lebih tepat untuk menggabungkannya menjadi tiga bagian besar. Lombok Barat, Tengah, dan Timur.

Pantai Lombok memang identik dengan pasir putih, langit biru, pemandangan yang indah. Tapi lagi-lagi semuanya akan sesuai dengan apa yang kalian bayangkan kalau tepat waktunya.

Karena pantai itu tergantung waktu, kalo datang pas musim hujan, mendung, keindahan sebuah pantai akan tergradasi. Kadang harus berulang kali datang ke tempat yang sama untuk menyadari betapa indahnya sebuah objek wisata.

Untuk informasi yang disampaikan di dalam buku cukup lengkap. Ada rute perjalanan, biaya masuk, dan beberapa mencantumkan sejarah mengenai pantai itu sendiri.

Mungkin yang mengganggu saya adalah masalah kertas buku itu sendiri. Keras, tidak seperti buku perjalanan lainnya. Mungkin karena diterbitkan melalui penerbit indie, dengan harga 40 ribu, bisa dibilang lumayanlah. Kalau mau fotonya nampak lebih bagus, akan memperbaiki kertas yang bisa jadi mengakibatkan naiknya ongkos produksi, dan harga 40 ribu mungkin akan meningkat entah jadi berapa.

DSC_0188

Jadi, Dong Ayok Ke Lombok!

Kalo mau memesan buku ini silakan hubungi @ONOFFLombok 🙂

Review : On A Journey

Judul Buku : On A Journey

Penulis : Desi Puspitasari

Penerbit : Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : 262 halaman

Harga : Lupa, tapi dapat diskon beli di TM.

On A Journey

Ini kisah tentang Rubi Tuesday seorang penulis, yang ironinya bukan lahir dihari selasa, kisah patah hati yang bikin Rubi melakukan perjalanan buat melupakan sakit hatinya. Dalam perjalanannya dia belajar banyak.

DSC_0181

Kalau kata penulisnya, enggak perlu menunggu patah hati untuk melakukan perjalanan. Ada benarnya juga, perjalanan dilakukan nggak hanya karena patah hati, tapi kadang adanya keinginan untuk menjernihkan pikiran, melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Tapi patah hati mungkin menjadi titik tolak yang biasanya menjadikannya motivasi kuat untuk melakukan perjalanan.

Seperti halnya Rubi yang melakukan perjalanan karena dia patah hati terhadap sahabatnya sendiri. Melakukan perjalanan dengan  uang seadanya, sepeda butut, dan ransel jeleknya.

Sebenarnya menarik jika membaca buku-buku perjalanan. Karena dari sebuah perjalanan kita bisa kenal, tahu, petik sesuatu yang baru. Kita belajar–dan akan lebih menetap dalam ingatan ketika kita terlibat sendiri.

Saya sangat menyukai bagaimana Mbak Desi memilih diksi yang tidak njelimet tapi terkadang jadi berpikir–kenapa nggak pernah kepikiran pake diksi itu? Seperti tercermin dari cerpen-cerpen yang pernah dia buat.

Oke, mungkin penilaian fair enough untuk novel ini. Karena entah kenapa saya seperti kurang mengenal siapa Rubi, bagaimana perawakannya, karena yang terlintas dalam pikiran saya Rubi Tuesday adalah Desi Puspitasari, tapi Desi menggunakan jilbab, sedang Rubi tidak.

Pun saya merasa saya tidak cukup ditunjukkan bagaimana setting perjalanan Rubi, karena terkesan begitu saja, bla dilanjutkan bla, terus bla, diakhiri dengan titik. Mungkin juga karena saya tipe yang suka detil, makanya sedikit terganggu. Jadi susah membayangkan, ikut terlibat dalam perjalanan Rubi itu sendiri.

Karena sebenarnya hidup itu perjalanan. Dan saya membaca buku ini pada saat memang saya melakukan perjalanan di Yogyakarta, setelah (juga) patah hati. Hahaha… 😀

Buku yang menghibur, seseorang yang sedang patah hati dan juga melakukan perjalanan. Ada beberapa kutipan yang menarik bagi saya.

Kenapa kau tidak pergi keluar sebentar, kenapa tidak mencoba melihat pemandangan lain, melakukan perjalanan?‘ Istanbul oleh Orphan Pamuk –Dalam On A Journey hlm. 8

Rubi menjelaskan kepada Stine mengenai ‘paparan penulis’ dia bilang, ‘Petak rumput, tembok putih, silau matahari, kulit jeruk, wangi vanili, dan… lain-lain. Di tangan seorang penulis, hal-hal biasa seperti itu bisa mereka paparkan dengan bahasa mereka dan entah kenapa terasa begitu hidup…’ hlm. 19

Belajarlah tertawa. Masalahmu tidak lebih besar dan berat dari apa-apa bila akhirnya kau telah berhasil melaluinya’ –hlm. 125

Berkenalan dengan Homeschooling

Sebenarnya ini bukan cerita langsung untuk promo program yang lagi booming di Indonesia. Tapi lebih kepada pengalaman mendampingi (sebagai seorang dokter) untuk siswa-siswa kelas 7 – 12 salah satu homeschooling di Jakarta.

Dapat tawaran untuk menjadi tenaga medis sebenarnya mendadak karena memang lagi jobless lebih karena memang belum berniat memasukkan lamaran pekerjaan di rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Makanya ketika ada tawaran pekerjaan kenapa enggak. Pertama di Jakarta, bisa mengisi waktu luang, dan yang kedua adalah untuk bertemu teman-teman lama.

Sampai di sekolah tepat jam 7 pagi. Saya sudah mulai memerhatikan tingkah laku anak-anak ini. Hal pertama yang saya lihat adalah kebebasan dalam memakai anting-anting, sebenarnya apakah sekolah swasta (juga) memperbolehkan anak didiknya untuk menggunakan perhiasan ini?

Balik lagi, saya lupa menjelaskan kalau kegiatan kemping ini merupakan salah satu bagian dari kurikulum, dimana dimasukkan ke dalam nilai raport mereka. Jadi sangat wajar seharusnya mereka mematuhi tata tertib yang berlaku.

Kedua yang terlihat adalah kebiasaan merokok, menenteng bungkus rokok dengan bebasnya. Baru terlihat mereka merokok dengan bebasnya ketika sudah berada ditempat kemping, guru-gurunya hanya diam melihat. Saya iseng bertanya ke salah satu guru mereka.

‘Memangnya bebas ya, mbak, siswa merokok’

‘Nggak sih, kak, harusnya nggak boleh.’

Belum lagi ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka. Kebanyakan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan ditempat pendidikan. Pun terlebih kepada guru mereka sendiri dunia perhewanan muncul semua. Apa pendidikan di sebuah homeschooling lebih dititikberatkan kepada ilmu pengetahuan dibandingkan tata krama. Bagaimana mereka bersikap?

Tapi akhirnya saya mendapatkan sedikit penjelasan dari entah siapa, karena belum sempat berkenalan.

‘Maklum, Mas, sebagian dari mereka sudah tidak diterima oleh sekolah umum. Karena apa yang telah mereka lakukan’ saya hanya mengangguk pelan, ‘Di sini menjadi semacam penjembatan untuk mereka bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi–universitas’

Saya hanyut mendengarkan Ibuk ini. Jadi mungkin bukan homeschoolingnya yang salah, tapi memang balik lagi ke siswanya sendiri. Tempat ini hanya wadah, untuk mereka belajar. Tapi mereka juga ingin mengubah tata krama siswa dengan denda berkelipatan. Semakin sering mereka melakukannya maka mereka semakin mahal untuk bayar. Tapi semua ini harus ditandatangani oleh muridnya di awal semester.

Hal yang saya baru tahu (juga) adalah bahwa homeschooling nggak hanya berkutat guru dipanggil untuk mengajar di rumah. Tapi ada juga sistem mereka datang ke pusat pendidikan untuk belajar, bedanya adalah waktu. Karena homeschooling tidak seperti sekolah lain yang 5 – 6 hari belajar dalam seminggu tetapi 3 hari beraktivitas, namun hanya 2 hari yang digunakan untuk belajar formal. Dan memadatkan kurikulum.

Salutnya dari homeschooling adalah kita nggak hanya menemukan anak-anak normal dalam suatu komunitas, tapi juga anak-anak berkebutuhan khusus, ternyata pendidikan mereka nggak hanya bisa ditempuh di Sekolah Luar Biasa, tapi juga homeschooling. Saya sempat bertemu dengan anak autisme, dan tuna rungu.

Kadang, kita memerlukan bersentuhan dengan hal-hal yang tidak kita tahu untuk paham. Bukan lagi sekedar tahu, tapi juga mengalami suatu pengalaman menarik untuk dijadikan suatu pembelajaran.

 

–Teguh Rasyid

Pasar Malam Lombok Barat

Kantor Bupati

Beberapa hari sebelum keberangkatan pulang ke Jawa kami, saya dan beberapa teman nggak sengaja lewat kantor Bupati Lombok Barat ternyata diadakan pasar malam. Layaknya pasar malam, ada permainan anak-anak, jajanan pasar, dan beberapa stan yang menampilkan pemerintahan daerah.

Sebenarnya penasaran aja sama isinya. Sejujurnya saya belum pernah ke Pasar Malam seperti ini, malas aja sebenarnya. Dan jadi pengalaman pertama. Permainan pertama adalah perahu yang diayun menggunakan tenaga manusia, entah permainan di Dufan yang meniru atau sebaliknya.

Jangan harapkan sensasi yang sama seperti ketika kita menikmati permainan di Dufan, karena hanya seperti diayun-ayun aja. Apalagi biaya untuk bisa bermain saja hanya lima ribu rupiah. Ada permainan lain, mobil-mobilan, memancing, rumah hantu, kincir-kincir, kuda-kudaan, rumah balon.

Ada yang sebenarnya mengganggu bagi saya ketika melihat pasar malam ini. Karena ada perjudian yang diselenggarakan, memang perjudiannya tidak melibatkan ratusan ribu rupiah. Tapi yang miris adalah siapa yang bermain, karena nggak sedikit anak dibawah umur yang terlibat.

Seperti secara tidak langsung mengajarkan anak-anak kalau judi itu halal, dan bagaimana mereka menikmatinya dalam bentuk suatu permainan. Mirisnya tidak jauh dari beberapa arena judi ini, ada pria berseragam yang asyik merokok tanpa peduli yang terjadi.

Di halaman kantor bupati, perjudian diperbolehkan. Jadi jangan heran kalau suatu saat nanti, banyak perjudian-perjudian bentuk lain yang berkembang, dan mungkin akan semakin menjamur, bisa jadi tidak lagi dilakukan sembunyi-sembunyi tapi terang-terangan.

[Lombok] Berpisah dengan Lombok, dan Gili Trawangan!

Melihat Peta

Peta Tiga Gili

Sabtu kemarin kembali pergi ke Gili Trawangan, sebenarnya untuk menjadi bagian penutup liburan di Lombok setahun ini, ada opsi lain sebenarnya ke Bali dengan dua orang teman backpaker-an, tapi uang sedang nggak ada, jadilah gili Trawangan menjadi tujuan akhir.

Awalnya setelah dari Gili Trawangan kami melanjutkan perjalanan ke Sembalun menggunakan Jasa Om @tiket_lombok . Pun Blimin @infolombok juga katanya akan ikut juga, tapi ternyata takdir berkata lain, tidak ada mobil yang free untuk disewakan, juga Blimin @infolombok dan beberapa admin akun lombok ada agenda lain mengelilingi gili-gili yang berada di Sekotong, Lombok Barat. Next time pasti balik ke Lombok!

Kegiatan di Gili Trawangan masih sama seperti tahun lalu, minus snorkling, makanya cuma sharing foto-foto saja ya. Ditambah kami makan di Malimbu 2 ikan bakar dan kelapa muda. Nyum!

Dear Lombok,

Ini bukan perpisahan dan harus berucap selamat tinggal, tapi sampai jumpa lagi. Karena masih (akan) mengunjungimu untuk meretaskan agenda tempat yang harus dikunjungi untuk dilihat, dinikmati.

Setahun sudah menjadi warga Lombok, pertama kali datang rasanya seperti ke tempat yang asing, perjalanan yang hanya kelihatan sawah yang membentang di sana-sini sepanjang BIL – Mataram.

Tempat tugas pertama adalah puskesmas, jadinya tahu pelayanan dasar di Lombok, yang serba seadanya bahkan oksigen pun dibatasi, untuk rujukan pun indikasi oksigen habis, pun saat kami kepala Puskesmasnya sungguh ‘istimewa’ jadilah semuanya akan dikenang.

Jadi paham, cidomo seperti alat transportasi yang vital di sini, banyak pasien yang datang untuk berobat menggunakan cidomo. Apalagi kalo sudah diperbolehkan pulang. Setiap satu pasien diantar banyak orang bukan lagi hal yang aneh.

Lombok, nggak pernah terbayang harus menetap di sini selama setahun. Pulau yang rasanya disetiap sudutnya indah dengan caranya sendiri. Mungkin rasanya mangkel ketika harus bertemu dengan Nyongkolan–tradisi pernikahan yang menyebabkan kemacetan.

Cukup banyak tempat wisata yang telah dikunjungi tapi tetap saja tidak habis untuk terus dijelajahi. Jika saja tidak bekerja, atau jumlah hari libur memenuhi mungkin setahun ini tamat menyelesaikan Lombok, nyatanya tidak.

Terima kasih untuk kenangan yang menyenangkan. Seluruh teman dokter internsip Lombok Barat, para perawat Puskesmas Kediri, RS Gerung, Dokter-dokter senior, masyarakat Lombok Barat. Untuk semua pengalaman, persahabatan, pertemanan, konflik. Sukses selalu! 🙂

Oia, terima kasih untuk Blimin @infolombok om @tiketlombok @LomboKeren untuk menghiasi timeline tentang Lombok, dan inspirasi untuk liburan. Masih akan terus di follow kok.

I do love Lombok!

–Teguh Rasyid

[Lombok] Gili Trawangan, Serpihan Surga di Indonesia!

TrawanganSebenarnya jika menceritakan tentang Gili Trawangan, maka kita harus mengulang rentetan cerita yang sudah lama berlalu. Karena Gili Trawangan adalah tempat kedua yang didatangi setelah Senggigi beberapa hari kami menetap di Lombok.

Tanggal 22 Mei 2012 kami mendarat di pulau yang dinamakan seperti bumbu dapur yang membuat bibir panas, mungkin karena orang sini sangat menyukai semua masakan yang berbumbu pedas.

Empat hari kemudian kami memutuskan ke Gili yang paling terkenal dibandingan dengan gili-gili lain yang tersebar di seluruh pulau Lombok. Dengan menyewa dua mobil, kami ingin berplesiran.

Masalah pertama langsung muncul, satu dari dua mobil tidak bisa dipakai, karena tiba-tiba dari pihak penyedia jasa entah kenapa dengan mudah mengatakan mobilnya masih jauh. Kami harus menunggu beberapa jam lagi, padahal dia saja sudah telat. Kami tidak berkenan, akhirnya dia menyewa angkutan umum, kami tetap membayar harga yang sama. (Pyuh!)

Ada dua jalan menuju penyebrangan Bangsal, melalui Senggigi, menelusuri jalur pantai, atau melewati bukit pusuk yang penuh dengan monyet liar.

Dua mobil, menempuh jalan yang berbeda. Kebetulan saya memakai angkutan umum mengambil jalur Pusuk. Perjalanan dari Gerung ditempuh sekitar satu jam setengah hingga dua jam.

Bangsal

Ada perahu massal yang bisa digunakan. Tetapi juga jika ingin menggunakan penyewaan boat ada juga sih, tapi hati-hati banyak calo, dan jika menggunakan sesuatu yang tidak resmi jatuhnya akan lebih mahal.

Untuk public transport cukup membayar sepuluh ribu, kita tinggal menunggu kapal penuh untuk kemudian membawa kita menyebrangi pulau yang kita tuju.

Sebenarnya ada beberapa Gili yang bisa dipilih dari Bangsal Trawangan, Air, Meno, harganya gak terlalu berbeda sih.

Perjalanan menggunakan perahu ke Gili Trawangan hanya setengah jam, hal pertama yang dilakukan adalah mencari penginapan. Rate penginapan di sini bermacam-macam, tergantung musim juga.

Tapi berkisar 150 ribu hingga 600 ribu, tergantung bagaimana ruangan dan fasilitasnya juga. Sebenarnya satu kamar, jika ingin berhemat bisa digunakan untuk tiga orang. Haha…

Setelah menaruh barang dikamar, sholat, kami pun berjalan-jalan mencari makanan. Kebetulan malam itu malam minggu, jadinya Trawangan penuh hingar bingar. Banyak bule yang berkeliaran kesana-kemari berjalan kaki, menggunakan sepeda, atau cidomo.

Trawangan adalah pulau yang tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor, dan saya mendukung sih! Karena dengan kebijakan ini, polusi bisa dihindari dan lebih menyenangkan mengitari Trawangan menggunakan sepeda.

Sebenarnya Trawangan kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam, karena pulaunya cukup kecil jadi kita bisa menikmatinya dalam satu hari saja. Karena kami terlambat, jadinya tidak bisa menikmati sunset. 😦

Malam di Trawangan seperti pesta itu sendiri. Ada kafe yang menyediakan pemutaran film, musik hingar bingar. Hingga pagi hari. Tapi kalau saya sih tidak mencari suasana itu sih, tapi kelip lampu, angin pantai yang berhembus itu sungguh menyenangkan.

Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menunggu matahari mulai menyapa bumi, dan bagi yang tidak bisa bangun terlalu pagi sebenarnya sih menguntungkan di wilayah Indonesia Tengah, karena subuh jam lima pagi, dan matahari baru bersinar sekitar jam enam pagi.

Dan tentu saja setelahnya mengelilingi Trawangan menggunakan sepeda adalah hal yang harus dilakukan. Untuk penyewaan sepeda seharian cukup mengeluarkan uang 50 ribu rupiah.

Menikmati pagi, menghirup udara segar, birunya pantai, keheningannya sungguh melarutkan kebahagiaan menjadikannya sebuah kelegaan.

Snorkling hal selanjutnya yang perlu dilakukan, untuk menyewa alatnya sebenarnya pintar-pintar kita menawar, biasanya untuk alat snorkling perorang lima puluh ribu, kebanyakan lebih mahal sih, dan bergantung alat-alat apa saja yang dipinjam.

Belum kita harus menyewa perahu, untuk memutari tiga gili : Trawangan, Air, dan Meno. Karena tempat snorklingnya tersebar di tiga Gili ini. Menyenangkan melihat ikan-ikan yang bergerombol, mengelilingi terumbu karang. 🙂

Hal yang tidak boleh terlewatkan adalah merasakan Jagung Bakar dan Gelato di Gili Trawangan karena kata teman-teman saya jagung bakarnya istimewa, pun begitu juga dengan Gelatonya. Selamat liburan!

Kami akan ke sana kembali sebelum pulang ke Jawa dua minggu lagi. InsyaAllah. Ada yang mau bergabung?