Belajar Berjalan

Bayi nggak cuma sekali terjatuh saat dia belajar berjalan. Jatuh, dia akan menangis, kemudian bangun kembali dan melangkahkan kakinya perlahan, tak terburu. Dia jatuh kembali, kini dia cuma sedikit kecewa, mengapa harus jatuh dalam kondisi yang sama, tapi tidak ada kata menyerah dia bangkit lagi dan mulai belajar berjalan.

Jalanku memang tidak bisa secepat orang lain, mungkin sambil tertatih, belum berlari mengejar yang lain. Tapi aku maju ke depan, aku menangis saat aku terjatuh, cukup keras dan mungkin membuatku malu ketika aku mengingatnya waktu itu. Kemudian aku (pun) terjatuh kembali, yah aku kecewa aku ingin seperti yang lain bisa menikmati bagaimana indahnya berjalan meraih apa yang kita inginkan.

Berulang kali orang tidak melihat siapa kita, kadang membuat kita (aku) apakah mungkin aku setidak berharga itu untuk sekedar diperjuangkan, atau membalas apa yang ada di otak, pikiran, dan hatiku. Tapi setiap hal yang tidak secara tulus diberikan atau sekedar berharap orang (itu) menyadari bahwa kita melakukan itu untuk mereka, akan kembali seperti gaung, bersuara tapi tak bisa tergenggam hanya seperti harapan kosong.

Aku belajar untuk berjalan, darimu, dari mereka. Sabarlah.

#randomthought

Berkenalan dengan Homeschooling

Sebenarnya ini bukan cerita langsung untuk promo program yang lagi booming di Indonesia. Tapi lebih kepada pengalaman mendampingi (sebagai seorang dokter) untuk siswa-siswa kelas 7 – 12 salah satu homeschooling di Jakarta.

Dapat tawaran untuk menjadi tenaga medis sebenarnya mendadak karena memang lagi jobless lebih karena memang belum berniat memasukkan lamaran pekerjaan di rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Makanya ketika ada tawaran pekerjaan kenapa enggak. Pertama di Jakarta, bisa mengisi waktu luang, dan yang kedua adalah untuk bertemu teman-teman lama.

Sampai di sekolah tepat jam 7 pagi. Saya sudah mulai memerhatikan tingkah laku anak-anak ini. Hal pertama yang saya lihat adalah kebebasan dalam memakai anting-anting, sebenarnya apakah sekolah swasta (juga) memperbolehkan anak didiknya untuk menggunakan perhiasan ini?

Balik lagi, saya lupa menjelaskan kalau kegiatan kemping ini merupakan salah satu bagian dari kurikulum, dimana dimasukkan ke dalam nilai raport mereka. Jadi sangat wajar seharusnya mereka mematuhi tata tertib yang berlaku.

Kedua yang terlihat adalah kebiasaan merokok, menenteng bungkus rokok dengan bebasnya. Baru terlihat mereka merokok dengan bebasnya ketika sudah berada ditempat kemping, guru-gurunya hanya diam melihat. Saya iseng bertanya ke salah satu guru mereka.

‘Memangnya bebas ya, mbak, siswa merokok’

‘Nggak sih, kak, harusnya nggak boleh.’

Belum lagi ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka. Kebanyakan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan ditempat pendidikan. Pun terlebih kepada guru mereka sendiri dunia perhewanan muncul semua. Apa pendidikan di sebuah homeschooling lebih dititikberatkan kepada ilmu pengetahuan dibandingkan tata krama. Bagaimana mereka bersikap?

Tapi akhirnya saya mendapatkan sedikit penjelasan dari entah siapa, karena belum sempat berkenalan.

‘Maklum, Mas, sebagian dari mereka sudah tidak diterima oleh sekolah umum. Karena apa yang telah mereka lakukan’ saya hanya mengangguk pelan, ‘Di sini menjadi semacam penjembatan untuk mereka bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi–universitas’

Saya hanyut mendengarkan Ibuk ini. Jadi mungkin bukan homeschoolingnya yang salah, tapi memang balik lagi ke siswanya sendiri. Tempat ini hanya wadah, untuk mereka belajar. Tapi mereka juga ingin mengubah tata krama siswa dengan denda berkelipatan. Semakin sering mereka melakukannya maka mereka semakin mahal untuk bayar. Tapi semua ini harus ditandatangani oleh muridnya di awal semester.

Hal yang saya baru tahu (juga) adalah bahwa homeschooling nggak hanya berkutat guru dipanggil untuk mengajar di rumah. Tapi ada juga sistem mereka datang ke pusat pendidikan untuk belajar, bedanya adalah waktu. Karena homeschooling tidak seperti sekolah lain yang 5 – 6 hari belajar dalam seminggu tetapi 3 hari beraktivitas, namun hanya 2 hari yang digunakan untuk belajar formal. Dan memadatkan kurikulum.

Salutnya dari homeschooling adalah kita nggak hanya menemukan anak-anak normal dalam suatu komunitas, tapi juga anak-anak berkebutuhan khusus, ternyata pendidikan mereka nggak hanya bisa ditempuh di Sekolah Luar Biasa, tapi juga homeschooling. Saya sempat bertemu dengan anak autisme, dan tuna rungu.

Kadang, kita memerlukan bersentuhan dengan hal-hal yang tidak kita tahu untuk paham. Bukan lagi sekedar tahu, tapi juga mengalami suatu pengalaman menarik untuk dijadikan suatu pembelajaran.

 

–Teguh Rasyid