Belajar Berjalan

Bayi nggak cuma sekali terjatuh saat dia belajar berjalan. Jatuh, dia akan menangis, kemudian bangun kembali dan melangkahkan kakinya perlahan, tak terburu. Dia jatuh kembali, kini dia cuma sedikit kecewa, mengapa harus jatuh dalam kondisi yang sama, tapi tidak ada kata menyerah dia bangkit lagi dan mulai belajar berjalan.

Jalanku memang tidak bisa secepat orang lain, mungkin sambil tertatih, belum berlari mengejar yang lain. Tapi aku maju ke depan, aku menangis saat aku terjatuh, cukup keras dan mungkin membuatku malu ketika aku mengingatnya waktu itu. Kemudian aku (pun) terjatuh kembali, yah aku kecewa aku ingin seperti yang lain bisa menikmati bagaimana indahnya berjalan meraih apa yang kita inginkan.

Berulang kali orang tidak melihat siapa kita, kadang membuat kita (aku) apakah mungkin aku setidak berharga itu untuk sekedar diperjuangkan, atau membalas apa yang ada di otak, pikiran, dan hatiku. Tapi setiap hal yang tidak secara tulus diberikan atau sekedar berharap orang (itu) menyadari bahwa kita melakukan itu untuk mereka, akan kembali seperti gaung, bersuara tapi tak bisa tergenggam hanya seperti harapan kosong.

Aku belajar untuk berjalan, darimu, dari mereka. Sabarlah.

#randomthought

Mimpi yang Nyata.

Saya menangis sesenggukan. Dalam tidur.

Hari itu saya memimpikan Ibu yang meninggalkan kami anak-anaknya untuk bertemu Sang Pencipta, hati saya kelu, dulu ketika Bapak pergi, saya tidak menangis selayaknya kakak pertama yang histeris. Tapi entah kenapa saya menangis sesenggukan.

Sebelumnya saya pernah berpikir jika kehidupan ini sungguh membuat Ibu menderita, maka berikanlah hal terbaik untuk Ibu, saya tidak tega melihat Ibu menahan sakit, berusaha terhuyung untuk sekedar berjalan. Berkali-kali jatuh, bekas jahitan dimana-mana.

Tapi di sisi lain, saya belum siap harus berpisah dengan Ibu. Karena tinggal dia yang saya sayangi, dia orang yang sama yang mengandung saya selama sembilan bulan, menemani saya tidur hingga remaja. Kurang tidur saat saya tidak bisa tidur, setia mengganti kompres yang telah kering.

Malam itu saya sesenggukan, mata saya basah, bengkak. Tahu, kalau saya rindu Ibu.

In Memoriam

‘Dok, bisa kasih komentar buku baru saya?’ Ujarnya suatu hari. Beberapa kali kami mengobrol tentang dunia tulis menulis, bagaimana beliau menembus penerbitan mayor, dan berusaha memberikan informasi tentang cuci darah kepada pasien yang lain.

Namanya Lien Auliya, usianya lebih dari 35 tahun. Matanya masih memancarkan semangat yang tidak padam, meski sudah delapan hampir sembilan tahun seminggu dua kali melakukan cuci darah. Sudah ratusan, mungkin ribuan tusukan jarum yang keluar masuk kulitnya. Dia tidak mengeluh. Bahkan berusaha membagikan semangatnya melalui tulisannya.

Saya ingat dalam buku terakhirnya yang belum terbit, satu hal yang belum dapat ia raih dalam kehidupannya adalah menikah. Bagaimana susahnya mencari seorang suami ketika calon istri mereka sakit menahun, setiap minggunya harus merelakan tangannya bercinta dengan jarum besar, kondisi tubuh yang kadang lemah.

Banyak yang mundur, tapi mengendurkan doanya untuk bertemu jodohnya.

Dan Allah menjawab semua itu, beberapa bulan lalu dia dilamar oleh seorang pria yang juga menderita gagal ginjal stadium akhir, (juga) melaksanakan cuci darah rutin. Mereka saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mbak Lien tampak cantik berbalut baju penganting berwarna putih.

Dan ketika semua yang telah diinginkannya tercapai, Allah ternyata lebih mencintainya. Selamat jalan, Mbak Lien Auliya, semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, dan engkau tinggal memetik buah kesabaranmu.

Terima kasih atas semua yang sudah pernah kita bicarakan, ilmu yang tiada habis, dan kebaikan yang tak pernah padam.

Mencoba Mencari Kerja

Hidup itu harus tidak membosankan, karena hidup hanya satu kali, dan ketika kita menyia-nyiakannya maka kita menjadi orang yang rugi.—over heard somewhere

Hampir setahun (kurang tiga hari sebenarnya) saya resmi menjadi seorang dokter. Dan tinggal sebulan lagi saya menyelesaikan tugas di Lombok sebagai dokter internship, kembali ke Pulau Jawa mungkin salah satu hal yang paling ditunggu.

Dan kemudian memenuhi hal-hal menyenangkan di Jawa, mencari makanan enak, lebih ke variasi makanan sebenarnya, dan banyak makanan favorit yang enggak ada di sini. Jadilah butuh nutrisi.

Sudah menapaki tahun keempat mencoba peruntungan menjadi seorang penulis. Meskipun entah–sepertinya nama saya masih tersembunyi karena bukunya selalu antologi dan entah laku tidaknya dipasaran, atau tulisan saya dinikmati atau tidak.

Dan karena ingin mencoba sesuatu yang baru, ingin tambahan penghasilan (amin). Saya melamar pekerjaan sebagai penerjemah atau editor ke salah satu anak penerbitan besar. Salah satu alasan mudahnya mungkin karena penerbitnya follower saya di twitter. Dan beberapa saya kenal baik.

Bulan desember mengirim imel berupa CV seadanya, menuliskan beberapa buku yang telah terbit dan pengalaman pengeditan sebagai editor bahan kuliah 2 tahun. Awalnya saya mengira kiriman imel saya entah terselip kemana, tidak terbaca hingga saya sudah melupakannya. Ah, bukan rezeki. Lets move on!

Dan ketika bulan Maret menyapa, saat mengecek imel ternyata ada yang masuk dari Penerbit! Hati rasanya girang, ternyata tes terjemahan, berupa tiga tes, dua menerjemahkan, satu mengedit.

Dan ternyata menerjemahkan jurnal kedokteran lebih mudah dibandingkan novel, saya akan lebih menyanggupi 10 Jurnal dibandingkan 20 halaman novel sepertinya. Tapi mungkin itu adalah tantangannya.

Kalo kata teman, ‘Yaiyalah, dasarmu medis, makanya lebih mudah menerjemahkan jurnal kedokteran dibandingkan novel. Beda sama yang sastra, orang umum lebih menyukai sebaliknya.’ Saya hanya tersenyum saja

Hari ini adalah deadline-nya. Tinggal berharap diterima. Mohon doanya teman-teman siapapun yang membaca jurnal ini.

 

–Teguh Rasyid

Mimpi

Mari berbicara tentang mimpi denganku, atau setidaknya ajak aku menjelajahi alam mimpimu. Kenalkan aku pada seseorang yang telah kamu namai bunga mimpi.

Mimpi. Bunga Mimpi.

Aku bermimpi tentang masa lalu, masa kini, dan kemudian berkelana ke masa depan. Aku bermimpi tentang kamu, aku, dan kita.

Aku melihat wajahmu bercahaya, memberikan warna bahagia orang disekitarmu. Aku juga melihat kita tersanding di sana, berdua-bertiga, saling memberi tapi juga saling menerima.

Aku memimpikan masa depan. Tidak ada lagi aku dan kamu, dan kemudian yang kutemukan cuma kita.