Tentang Menikah

‘Jadi, kapan kamu menyusul?’ ujar salah satu kerabat. ‘Jadi, mana calonnya?’ yang lain menimpali. Dari tahun ke tahun, pertanyaan ini sepertinya terus aja keluar dari entah siapa. Entah kapan, bukan lagi sebatas saat Lebaran.

Apalagi, dua keponakan perempuan telah dan akan menikah dalam waktu dekat. Biasanya saya cuma tersenyum, atau kalau lagi iseng akan menjawab,’Calonnya belum lahir.’

Menikah bukan perlombaan, mana yang cepat menikah dia akan memenangi sebuah lomba. Dan siapa yang belum menikah padahal usianya cukup, kehidupannya cukup, yang ada malah cibiran.

Ada orang-orang yang kuat, akan tetap bahagia dengan status kesendirian mereka, tapi tidak jarang yang merasakan tekanan. Waktu yang terasa semakin sempit, atau pandangan tetangga atau sekitar. Akhirnya mengubah kepribadian mereka menjadi seseorang yang kurang ramah.

Di sisi lain, setelah menikah apa yang ditanyakan, kapan punya anak? Kapan memberi adik untuk si kakak? Padahal hal-hal semacam itu sudah merupakan garis takdir masing-masing, kita tidak tahu apa yang mereka alami, apa yang mereka usahakan.

Beberapa minggu lalu, seseorang yang saya kenal bahagia karena telat beberapa hari, saat di testpack hasilnya positif, setelah lima tahun menikah, bertemu dokter spesialis kebidanan untuk merencanakan persalinan.

Saya masih ingat bagaimana dia berbagi kebahagiaan di media sosial miliknya. Allah berkehendak lain, esokkannya perutnya terasa sakit, darah keluar dari jalan lahir, setelah di USG dan pemeriksaan lain, ternyata janinnya tidak tumbuh di rahim, harus digugurkan, dioperasi dan indung telurnya harus diangkat satu. Hatinya hancur.

Balik kepada menikah, menikah bukan cuma status. Setelah menikah berarti kita telah laku, menggugurkan kewajiban kita, memenuhi agama kita. Tapi banyak yang setelah menikah masih selingkuh sana-sini. Masih nakal, tidak menetapkan satu hati.

Menikah bukan lagi perlombaan, sebagian besar dari kita menginginkan menikah, meneruskan keturunan, menetapkan hati. Tapi berada dalam alurnya masing-masing, mungkin hari ini, esok, atau beberapa tahun ke depan.

Doakan saja, mereka bertemu jodohnya masing-masing. Dan benar-benar menetapkan hati, karena pernikahan bukan permainan. Jadi, kapan menikah?

Jika Allah berkehendak. Aamiin.

Advertisements

Catatan Kecil

Dari kecil saya termasuk dalam golongan drama king, merasa hidupnya paling menderita. Kalau lagi bertengkar sama kakak, lalu Ibu dan Bapak malah belain kakak, nangislah saya tersedu-sedu. Bahkan pernah terlintas dalam pemikiran saya ketika masih SD, pengin hidup saya berakhir saja, biar hidup orang tua dan kakak lebih bahagia.

Kalau senang, terlalu berlebihan, dan begitupun kalau sedih, rasanya dunia menangis untuk saya (duh!)

Ketika Bapak meninggal tahun 2002, rasanya iri sama orang yang punya keluarga utuh, punya Bapak dan Ibu lengkap, tanpa kekurangan apapun. Kayaknya paling senang melihat keatas, ngeliat hal-hal yang kita nggak punya dibanding apa yang kita punya saat ini.

Beberapa hari lalu sekitar jam 03.30 Ibu sudah bangun dan pengin sesuatu, dan saya nggak segera beranjak untuk ngelakuin permintaannya. Ibu bukannya marah tapi ngeluh, katanya karena dia nggak bisa jalan, jadi permintaan dia nggak bisa segera dilaksanain.

Dan ada keluarga jauh yang meninggal, dia berceletuk, ‘Kalau orang lain meninggal mudah, tapi kalau saya kok lama ya.’

Pagi itu saya agak mengomel ke Ibu, kalo Ibu harusnya bersyukur  dia masih bisa jalan meski dibantu, masih bisa keluar, dibanding orang yang tiap hari di tempat tidur. Paling mudah memang ngomong, padahal melakukan sesuatu sesederhana itupun saya terkadang masih belum bisa melakukannya, masih sering mengeluh.

Kemarin saya bertemu teman, sebelumnya cuma kenalan dari dunia maya. Selama beberapa bulan, kemudian dia ke Cirebon karena adiknya akan menikah dan mendapatkan calon orang Cirebon, jadilah dia ke sini. Katanya untuk merapatkan pernikahan, dan tetek bengeknya.

Singkat cerita dia bilang orang tuanya, Bapak dan Ibunya sudah nggak ada, cuma berselang satu tahun saat akhir SMA dan mulai kuliah. Dan dia cuma berdua dengan adiknya yang akan menikah.

‘Aku bakal bertugas jadi Bapak untuk pernikahan adikku, pas ngunduh mantu-pun, aku yang harus maju,’

Apa ada nada getir dari nadanya? Surprisingly nggak ada, bahkan dari obrolan yang mengalir dia sepertinya sudah menerima takdir yang akhirnya menjadikannya sepi hanya dia dan adiknya. Gimanapun tugas yang nggak mudah untuk jadi kepala rumah tangga, mengambil alih kewajiban untuk bimbing seorang adik.

Saya enak masih punya banyak kakak, waktu Bapak nggak ada, Ibu masih bekerja, membiayai sekolah saya, hidup saya. Dan ketika Ibu sudah tidak bekerja, ada kakak saya yang mau membiayai saya.

Hidup orang lain tampak lebih membahagiakan, tapi kita nggak pernah tahu gimana cara menggapainya. Tapi masih banyak orang yang bisa jadi nggak sebahagia kita saat ini.

Alhamdulillah..

Keluarga Besar

‘Anak keberapa kamu?’

‘Anak keduabelas dari duabelas bersaudara’

‘Enak dong, kalo lebaran rame?’

Punya keluarga besar pasti punya keseruan, dan keribetannya sendiri. Untung memutuskan memiliki keluarga besar adalah hal yang harus dipikirkan matang-matang, nggak cuma karena banyak anak banyak rejeki. Setiap anak memang memiliki rejekinya masing-masing, tapi juga mereka memiliki pemikiran mereka sendiri-sendiri.

Pernah ngebayangin nggak, ada gap yang cukup lebar antara anak pertama dengan adik yang paling akhir, jarak usia yang tidak tanggung-tanggung, pemikiran yang sudah berbeda seperti seorang ayah yang sedang berdiskusi dengan anaknya sendiri.

Pun kedekatan antar masing-masing anak yang nggak semuanya bisa menyatu, karena ada air pun begitu ada minyak yang tidak bisa menyatu, mungkin bisa jika ditambah komponen tertentu seperti sabun.

Saya dan kakak pertama jarak usia 26 tahun, dan keponakan saya justru lebih tua dua tahun dari saya. Saya bukan lagi bermain saat kecil dengan kakak saya, tapi dengan keponakan. Dia memanggil nama bukan lagi om, mang, atau apalah. Pun, saya sering dibuat menangis oleh keponakan saya karena usia saya lebih muda jadi dia merasa lebih superior meskipun dari silsilah keluarga saya lebih tua.

Keluarga besar paling menyenangkan memang saat berkumpul, saat ada acara-acara besar, semuanya berbagi tawa, dengan para keponakan yang berkumpul menjadi satu bertambahlah keriuhan yang terjadi.

Waktu kecil saya paling menunggu adalah hari raya karena setiap kakak biasanya ngasih THR, dan lumayan kan kalau setiap kakak ngasih. Hasil usaha sehari itu biasanya ditabung dan dibelikan sesuatu.

Tapi, keluarga besar itu rentan konflik, karena banyak kepala banyak kepentingan, akhirnya bergesekan satu sama lain. Bukan lagi individu yang melawan individu tetapi terkadang beberapa orang melawan individu, atau kelompok melawan kelompok.

Mereka menginginkan apa yang anggap benar menjadi suatu hal yang solid untuk diperjuangkan, nggak mau kalah. Dan ada juga yang tidak peduli dengan keluarganya, sudah terlalu asik dengan keluarga kecilnya masing-masing.

Tapi apapun yang terjadi didunia ini, keluarga adalah tempat kita kembali, bercerita. :’)

‘Kamu nggak nanya, kenapa dulu orang tua nggak ikut KB?’

‘Kalo ikut KB, saya nggak ada dong, dok?’ Ujar saya polos.

Semoga saya mendapatkan tempat kerja yang kedua. Aamiin.

Ibu dan Keponakan

Keluarga,

adalah tempat kita kembali

Ketika orang lain menganggap kita berbeda,

kemudian mereka menjauh.

Lalu hanya keluarga yang dapat menerima kita kembali.

Utuh.

Ikhlas.

Dan dengan senyuman keikhlasan. 🙂