Mengunjungi Wakatobi

IMG_0193Berawal dari sapaan iseng ke teman yang sedang ada di Makassar, tiba-tiba dia mengajak untuk traveling bareng. Tadinya tempat yang akan dikunjungi nggak cuma satu tempat, selain Wakatobi juga tadinya akan ke Labengki. Tapi, jika ingin menginjakkan kaki ke Labengki harus mengumpulkan banyak orang untuk menghemat pengeluaran terutama penyebrangan. Sedangkan saat itu yang akan menyebrang cuma saya dan teman, jadilah Labengki harus ditunda terlebih dahulu. Next trip InsyaAllah.

Jumat pagi saya ke Jakarta menggunakan kereta, sampai di Jakarta langsung ke Bandara, Kendari tempat ketemu teman. Karena dia harus kondangan teman SMAnya, sehingga saya pun ke Kendari. Di Kendari menginap satu malam, sebelum menyebrang ke Bau-Bau.

Sabtu pagi jam sepuluh sebenarnya ada kapal langsung menuju Wangi-Wangi (sebagian orang masih mengenalnya dengan Wanci) tapi karena tadinya masih mengharapkan kepastian ke Labengki, melewatkan kapal langsung. Akhirnya menggunakan kapal cepat menuju Bau-Bau jam satu siang. Lima jam di kapal menuju Bau-Bau, sempat hampir turun di Raha, untung saja sempat bertanya ke Ibu-Ibu. Pada akhirnya harus menunggu satu setengah jam lagi menuju Bau-Bau.

Pengeluaran sementara:

Kereta Cirebon – Jakarta (bisnis) : 100.000

Bus Damri Gambir – CGK : 40.000

Makan siang di Bandara : 50.000

Pesawat Jakarta – Kendari : 900.000

Kapal Cepat Kendari – Bau-Bau : 185.000

Total sementara : 1.275.000

Di Pelabuhan Bau-Bau

Di Pelabuhan Bau-Bau

Kapal sampai di Bau-Bau jam 6 sore, ketemu temen. Bertanya ke dia, bagaimana rute yang baik jika ingin ke Wakatobi. Karena bagaimanapun dia pernah ke Wakatobi dan asli Bau-Bau akan sangat membantu. Sambil menikmati kasuami (makanan khas Bau-Bau, Wakatobi, dsk, yang terbuat dari ubi) dan ikan bakar kami mengobrol ringan.

Kasuami dan Ikan Bakar

Kasuami dan Ikan Bakar

Sebenarnya paling enak tujuan pertama adalah pulau terluar, sebenarnya pulau terluar itu Binongko, tapi Binongko kurang peminat dan dikenal sebagai pulau pandai besi, sampai kami terpengaruh. Sehingga pulau pertama itu Tomia, baru kemudian ke Kaledupa, Pulau Hoga, baru terakhir di Wangi-Wangi.

IMG_0142

Tempat Tidur di Kapal

Tadinya kami mencari kapal yang langsung menuju ke Tomia, tapi kapal dari Bau-Bau ke Tomia, ternyata tidak setiap hari ada, dan dalam waktu-waktu tertentu saja. Akhirnya kami memutuskan ke Wangi-Wangi terlebih dahulu, memakai kapal kayu yang menempuh waktu 9 jam perjalanan. Jam sepuluh malam kapal berlayar, jam tujuh pagi sudah tiba di Pelabuhan Wangi-Wangi.

IMG_0198Kami dijemput supir teman, karena teman kami sedang berada di Kendari. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Puncak Tindoi, untuk berfoto latar tulisan ‘Wakatobi’. Baru kemudian ke Pemandian Goa Kontamale, air di sini seperti terisolasi, dan rasanya tawar dan sangat jernih. Digunakan orang sekitar untuk mandi,dan mencuci pakaian. Sayangnya sampah banyak ditemukan, bahkan baju koyak yang menggantung. Selepasnya kami ke rumah teman, untuk mandi dan sarapan, jam sepuluh kami menyebrang ke Tomia.

Kapal Tomia - Wangi-Wangi

Kapal Tomia – Wangi-Wangi

Kapal dari Wangi-Wangi menuju Tomia itu memakan waktu tiga jam perjalanan. Di kapal, teman mengobrol dengan orang-orang yang juga menyebrang, mungkin keberuntungan sedang menyapa, orang yang kami ajak mengobrol ternyata juga bisa menjadi guide di sana. Karena kami tidak tahu seperti apa di Tomia, kami mengiyakan. Namanya Bapak Alimudin, Kepala Desa Temoane, jadi bisa memilih untuk tinggal di guest house, atau di penginapan. Jika di guest house tarif yang ditetapkan 50rb perorang tanpa makan, jika dengan makan menjadi 75rb, sedangan di penginapan rata-rata tarifnya 80rb tanpa makan. Untuk motor dapat disewa perharinya 60rb, kami menyewa motor untuk dua hari. Setelah beristirahat sebentar Pak Ali mengajak kami ke Benteng Patua, hampir sejam kami berkeliling di tempat ini, sambil Pak Ali menceritakan tentang Benteng ini, tempat-tempat yang dikunjungi. Setelah puas berkeliling, kami diajak ke Puncak Tomia untuk menunggu matahari terbenam.

IMG_0296Di Puncak Tomia, ternyata sudah banyak yang juga menunggu senja turun perlahan, banyak muda-mudi, sambil bercengkrama. Ada yang berjualan jagung bakar dan semacamnya tapi kami kebetulan tidak berminat. Bagaimanapun sore itu indah, warna-warna yang ditampilkan di langitpun indah.

IMG_0318Setelahnya kami dibawa ke pasar malam, banyak makanan kecil, manis-asin, juga kasuami pp (kasuami yang dapat bertahan seminggu tanpa bahan pengawet), dan beberapa makanan lainnya. DI Tomia, listrik menyala dari jam lima sore hingga pagi hari, sementara pagi hingga sore beberapa kecamatan bergiliran untuk mati dan nyala.

IMG_0287Sampai ke rumah, kami kelelahan dan tertidur pulas.

Pengeluaran Sementara:

Kasuami + Ikan Bakar + Teh Botol : 40.000

Kapal Bau-Bau — Wangi-Wangi 160.000

Transport di Wangi-Wangi : gratis

Sarapan : gratis

Kapal Wangi-Wangi — Tomia : 150.000

Total Sementara : 350.000

Esok paginya kami menuju tempatĀ sunrise di bukit Temoane, tapi ternyata terhalang bukit dan tidak bagus, lalu lanjut ke tempat yang menyediakan fasilitas diving, dari teman kami, dia menyarankan untuk menghubungi Mas Budianto, pemilik Tandiono Dive Centre. Kami mengobrol masalah harga dan waktu berangkat ke laut, spot untuk diving. Menurut Mas Budi, baru bisa ke spot jam sebelas siang, dan untuk biaya disetujui 500rb perorang, untuk yang tidak memiliki lisensi diving, jika punya akan lebih murah, dan spot yang akan dikunjungi adalah Mari Mabuk.

IMG_0396Maka untuk menunggu diving, kami meminta Pak Ali untuk ke spot snorkling. Maka Pak Ali meminjam alat snorkling ke kantor taman nasional Tomia, biaya peminjaman alat snorkling 25rb perorang. Kami dibawa ke Pantai Hondue, dengan Pak Basri dari Taman Nasional yang menemani. Well, di Pantai Hondue ini banyak sampah di Pantai, katanya karena angin Barat (atau timur ya?) maka ngebawa sampah ke Pantai. Bisa juga karena kebiasaan orang-orang di kapal yang buang sampah sembarangan, hasilnya sampah-sampah mereka sampai di pantai mereka sendiri.

IMG_0358Waktu snorkling airnya sedang surut. airnya jernih, karangnya sudah ada dekat pantai. Kami harus naik perahu kayu hingga ke perpindahan laut dangkal hingga dalam. Dan karangnya berwarna-warni, ikannya banyak, dan kami snorkling puas di Hondue.

Setelah selesai, kami bergegas ke tempat Mas Budi, namun singgah terlebih dahulu untuk makan siang di penjual bakso yang ternyata orang solo. Harga bakso telur di sini 20rb, sementara bakso spesial 25rb. Makan sekarang untuk tenaga diving.

Jam satu, kami baru ke laut, saat Mas Budi mem-briefing saya cuma berusaha menghafal jika saya panik, menggerakkan telapak tangan seperti ombak laut. Karena ini bakal jadi pengalaman diving pertama saya. Saya tidak terlalu pandai berenang. Dan saya takut saya panik, dan semua keindahan bawah laut Wakatobi akan jadi kenangan semata.

This slideshow requires JavaScript.

Teman saya (Kery) turun duluan diving, sementara saya mengobrol sama pengemudi kapal. Katanya dulu spot ini belum memiliki nama, kemudian orang barat yang menamainya mari mabuk. Tidak berasa 45-50 menit berlalu, dan Kery muncul dari dasar laut, jantung saya berdenyut lebih kencang. Mas Budi beristirahat sejenak sebelum akhirnya memasangkan tabung oksigen ke badan saya, mengikat pemberat di perut, saya berusaha membiasakan diri dengan pernafasan mulut, telapak tangan saya basah, jantung mungkin sudah irama ireguler. Dan akhirnya saya masuk ke dalam laut.

IMG_0428Baru beberapa meter masuk ke dalam, telinga saya sungguh kesakitan, saya berusaha melakukan manuver untuk mengurangi rasa sakit, tapi beberapa manuver dan tindakan masih menyisakan rasa sakit. Saya berusaha menepuk Mas Budi, memberikan tanda di telinga, dan dia dengan sabar menunggu. Dan saya merasakan perbedaan tekanan ini beberapa kali, dan Mas Budi sabar sekali.

Kami turun perlahan, dan pemandangan laut Tomia sungguh indah, banyak terumbu karang, koral berwarna-warni, ikan bergerombol kesana-kemari, warna-warni. Saya belum pernah diving ke tempat lain jadi saya tidak bisa membandingkan dengan tempat lain, tapi kata teman saya, Tomia lebih indah dari Bali, Raja Ampat, Karimun.

Untuk diver pemula dan tanpa lisensi biasanya pemandu tidak akan berani melewati angka kedalaman 10 meter, dan kebanyakan 8 meter, tapi Mas Budi membawa saya sampai ke kedalaman 13 meter, dan dia dengan tanggap meminta berpose di bawah laut, untuk diabadikan, dan dia tidak asal memotret.

Dan kata Kery, dia pemandu terbaik, setelah dia tiga kali sebelumnya diving di tiga tempat berbeda Bali, Raja Ampat, dan Karimun Jawa. Terima Kasih Mas Budi.

IMG_0486Sorenya setelah kami kembali ke Puncak Temoane untuk melihat sunset, mataharinya bulat, namun ketika turun, warnanya tidak semenarik kemarin. Malamnya kami disuguhi makanan Tihe, atau bulu babi, bulu babinya disiram dengan air panas, setelah itu, bulu babi dibuka, dibersihkan dan dimakan. Malamnya kami packing untuk besok pagi kembali ke Wangi-Wangi.

Rencana awal adalah kami ke Kaledupa, kemudian ke Pulau Hoga, tapi rencana tinggal rencana karena keterbatasan waktu, kami tidak jadi ke dua tempat itu, dan langsung ke Wangi-Wangi.

Sebelum subuh kami dibawa ke Pantai Huntete, untuk melihat matahari terbit, lagi-lagi pantai ini penuh sampah, perjalanan yang dibutuhkan dari Temoane ke Huntete setengah jam menggunakan sepeda motor, dan jalananannya berliku. Sebelumnya hujan mengguyur Tomia, sehingga matahari malu-malu untuk bersinar. Kami menikmati sejenak matahari, sebelum kembali pulang dan dibawa ke Pelabuhan untuk menyebrang ke Wangi-Wangi.

Pengeluaran Sementara:

Pak Ali mengeluarkan kuitansi biaya yang dihabiskan

Biaya 2 hari 2 malam guest house, motor, makan, peminjaman alat snorkling, guide : 385.000 perorang

Diving : 500.000

Kapal Tomia — Wangi-Wangi : 150.000

total sementara : 1.035.000

DI Wangi-Wangi kami dijamu teman kami, Yasin, kami diajak memutar Wangi-Wangi, lalu ke resort yang dimiliki Bupati Wakatobi, tadinya kami hendak diving di Wangi-Wangi, tapi orang yang memiliki tempat dan lisensi tidak dapat dihubungi, jadilah kami cuma snorkling di Sombu, meminjam alat snorkling di dekat pantai Nirwana, 50rb/orang lalu langsung nyebur ke Sombu. Karangnya banyak yang mati, harus agak jauh dulu, atau ke perbatasan dalam dan dangkal baru lumayan. Tapi suasananya menyenangkan. Dan hujanpun turun deras.

Malamnya sebelum pulang kami dijamu makanan khas Wakatobi, namanya Perangi, ikan karang segar yang dicacah halus, kemudian dicampur dengan jeruk nipis dan bawang. Rasanya jangan ditanya karena sungguh enak, segar, tidak menemukan amis di sana, dan manis sekali. Bikin ketagihan!

IMG_0629Malamnya kami menyebrang ke Bau-Bau, saat naik ke kapal sebenarnya kami ditawari untuk membeli nasi bambu bakar Wakatobi, tapi apadaya perut sudah penuh, dan kami menolaknya. Dan di kapal kami tidur nyenyak sampai Bau-Bau.

IMG_0590Di Bau-Bau kami dijemput teman kami, Syawal. Lalu diajak berkeliling Bau-Bau, di Benteng yang katanya terpanjang di dunia, Benteng Keraton Buton, lalu lanjut di tiang bendera yang terkenal, sebelum langsung ke air terjun Tirta Rimba, dalam waktu singkat, karena saya harus segera berangkat ke Jakarta jam 11.50 WITA. Sebelum ke Bandara kami makan Kambewe, makanan dari jagung yang dihaluskan dan dikukus dengan dicampur gula merah. Lumayan mengganjal perut.IMG_0623Jam 10.50 saya sudah ada di Bandara Bau-Bau, untuk menunggu pesawat ke Jakarta, dengan satu kali transit di Makassar. Jam 15.00 saya sudah sampai di Jakarta, kemudian saya langsung ke Gambir untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Cirebon.

Pengeluaran:

Pinjam alat snorkling : 50.000

Kapal Wangi-Wangi — Bau-Bau : 160.000

Kambewe : 5.000

Tiket Pesawat Bau-Bau — Jakarta : 1.100.000

Makan siang : 50.000

Damri CGK – Gambir : 40.000

Kereta Jakarta – Cirebon (Eksekutif) : 125.000

Total sebagian : 1.530.000

Total: 1.275.000 + 350.000 + 1.035.000 + 1.530.000 = 4.190.000

Untuk lebih menghemat bisa memakai pesawat langsung dari Jakarta menuju ke Wangi-Wangi, harga pesawat berkisar di angka 1,1 – 1, 2 juta untuk rate yang murah. Tapi kalau ingin merasakan lebih lama di laut bisa dicoba. Untuk urusan telekomunikasi, sinyal yang paling bagus tetap Telkomsel, terutama untuk internet. Indosat cuma bisa digunakan untuk sms dan telpon di Wakatobi, sedangkan XL benar-benar hilang sinyal.

Bawalah kamera yang layak pakai, seperti kamera pocket, DSLR, karena akan merasa menyesal seperti saya. Jika ada waktu lebih lama, seminggu kayaknya akan lebih puas menjelajah Wakatobi.

Nomor Penting :

Pak Alimudin (Tomia) : 082193811741 — silakan menghubungi Pak Ali, rencanakan tempat yang mau dikunjungi, dan tempat tinggal di Tomia.

Mas Budianto Tandiano : 085241592923.

[Lombok] Air Terjun Benang Stokel dan Kelambu

Libur bersama mungkin hal yang paling ditunggu dalam satu bulan. Karena biasanya kami terpisah karena mengikuti alur shift. Tidak pernah libur dalam waktu yang sama tidak memungkinkan untuk berlibur bersama. Padahal bisa dibilang jika libur bersama itu lebih menyenangkan dibandingkan … Continue reading