Mimpi yang Nyata.

Saya menangis sesenggukan. Dalam tidur.

Hari itu saya memimpikan Ibu yang meninggalkan kami anak-anaknya untuk bertemu Sang Pencipta, hati saya kelu, dulu ketika Bapak pergi, saya tidak menangis selayaknya kakak pertama yang histeris. Tapi entah kenapa saya menangis sesenggukan.

Sebelumnya saya pernah berpikir jika kehidupan ini sungguh membuat Ibu menderita, maka berikanlah hal terbaik untuk Ibu, saya tidak tega melihat Ibu menahan sakit, berusaha terhuyung untuk sekedar berjalan. Berkali-kali jatuh, bekas jahitan dimana-mana.

Tapi di sisi lain, saya belum siap harus berpisah dengan Ibu. Karena tinggal dia yang saya sayangi, dia orang yang sama yang mengandung saya selama sembilan bulan, menemani saya tidur hingga remaja. Kurang tidur saat saya tidak bisa tidur, setia mengganti kompres yang telah kering.

Malam itu saya sesenggukan, mata saya basah, bengkak. Tahu, kalau saya rindu Ibu.

Ibu

Ibu tidak pernah mau jika suatu saat nanti dia akan terkena penyakit Stroke, seperti yang diderita dua adiknya. Bahkan adik bungsunya sudah mendahului Ibu. Cukuplah penyakit Tekanan Darah Tinggi dan Penyakit Jantung sudah mentereng di bagian riwayat penyakit dahulu, dan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan sebagai riwayat penyakit keluarga jika suatu saat nanti ada dokter atau koass yang menganamnesa.

Karena itu pulalah, seseorang yang katanya dokter menutup matanya, membiarkannya abu-abu tak benderang. Bahkan untuk terbersit sejenak saja tidak terpikirkan. Bahkan terkadang aku tidak mengenal istilah Stroke jika berurusan dengan Ibu. Dia tidak pernah mau menyusahkan anak-anaknya, bahkan pernah dia ingin ditinggalkan saja di Panti Jompo.

Ibu pikir dengan Stroke, dia akan bergantung penuh dengan anak-anaknya. Padahal diusianya sekarang tujuh puluh tahun, mungkin sudah saatnya dia menerima keterbatasannya. Menekan rasa egois yang mengatasnamakan usia tua berarti paling tahu, paling benar.

Saatnya membiarkan anak-anaknya mengulurkan tangan, membuatnya berdiri. Memapahnya perlahan, bahkan jika perlu mengajarinya berjalan.

Ibu punya keluhan sulit berjalan, persendiannya kaku. Salah satu kakak pernah berceletuk, jika Ibu terkena stroke ringan, alih-alih mendengarkan saya memarahi kakak.

Dan semuanya berubah, ketika kami membawanya ke Fisioterapi, di sana Ibu divonis stroke, dan aku mulai menemukan benang merah Stroke, Tekanan Darah Tinggi, riwayat Penyakit Jantung yang tidak akan jauh dari Kolesterol dan sekawannya.

Bagaimana rasanya jika engkau seorang dokter, namun jika Ibumu sakit dan engkau tidak dapat berbuat apa-apa?

Pejuang Kini Tak Lagi Muda

Ibu

Kenalkan namanya Juhaenih, janda berusia 69 tahun tepat hari ini. Janda dua belas anak, telah membesarkan anak-anaknya sendiri sejak sebelas tahun lalu.

Mari kita kenal lebih dekat dengan bercerita tentang masa lalunya.

Eni kecil tidak lahir dari keluarga berada, hidup keluarganya cukup rumit, dia anak pertama dari lima bersaudara dengan tiga ibu yang berbeda. Bukan karena ayahnya melakukan poligami, tapi ternyata Tuhan lebih menyayangi kedua ibunya. Ibu kandung dan salah satu Ibu tirinya meninggal dunia.

Adiknya dititipkan ke saudaranya, dia sendiri dipasrahkan ke keluarganya yang lain. Sementara Ayahnya di Jakarta dengan Ibu tiri yang lain.

Tapi, dia diperlakukan seperti laiknya seorang pembantu, bahkan makan pun kadang tidak sempat. Dia tidak mengeluh, sama halnya ketika dia harus menempuh berapa puluh kilo meter untuk sekolah, dengan cuma punya satu buku tulis.

Dia bilang, ‘Dulu setiap kali pelajaran selesai Mimi belajar lagi yang diajarkan guru, kemudian menghapusnya untuk pelajaran hari selanjutnya. Begitu seterusnya.’

Setelah menikah, perjuangannya belum usai. Namun kini tidak lagi menjadi single fighter tapi bersama suaminya, dia siap mengarungi hidup menerjang badai. Berbekal rumah kecil tanpa sekat dia memulai kehidupan berumahtangganya.

Dengan modal pinjaman dia membuka toko kelontong kecil, membangun hubungan yang baik dengan pelanggan-pelanggannya. Menabung sedikit demi sedikit untuk kemudian membeli lahan pertanian. Setiap dua tahun Eni melahirkan anak-anaknya. Dia tidak mengeluh, tidak berhenti bekerja. Dia mengajari, melihat anaknya tersenyum, mengucapkan kata pertama. Dia di sana, sebagai orang pertama yang tahu.

Pagi hari dia dan suami di toko kelontong, kemudian siang hingga sore menjelang mereka berdua di sawah, bercocok tanam, membajak, mengairi, memberinya pupuk, menanam padi-padian satu persatu. Mereka tidak pernah mengeluh mengerjakannya sendiri.

Sementara anak tertua punya tugas menjaga adik-adiknya di rumah. Dia pernah bercerita padaku.

‘Pernah waktu itu Mimi hamil sembilan bulan, tapi masih ikut membantu Bapak untuk panen.’ Ujarnya sambil tersenyum.

Hingga lahannya semakin banyak, kemudian mempekerjakan petani. Semuanya tidak didapatkan secara instan, mudah. Karena butuh keringat, tangis, dan bisa jadi darah.

Dia Ibuku, Ibu yang melahirkanku di usianya yang ke empat puluh tiga tahun, usia yang tidak lagi aman untuk seorang perempuan untuk melahirkan bayi apalagi secara normal.

Dia yang selalu ada disampingku saat aku menangis, saat ada yang mengolokku, atau ketika Ayah memarahiku, memukul untuk menunjukkan kedisiplinan.

Dia yang menangis, kala aku terbaring di atas tempat tidur. Dia tidak tidur, dengan setia mendampingiku, mengganti kompres setiap kali sudah terasa kering.

Tak pernah aku mendengar dia mengeluh, dia menjalaninya dengan senyum, sepenuh hati dan ketulusan hati.

Dia kini tak lagi muda, usianya hendak menginjak usia 70 tahun tahun depan. Dia yang separuh hidupnya telah pergi bersama jasad Ayah yang terkubur sebelas tahun lalu.

Dia yang kini jarang tersenyum, pikirannya telah kemana, menerawang jauh. Mungkin memikirkan Ayah, hidupnya, anak-anaknya.

Ibuk tidak pernah berhenti berdoa, tiap jam tiga pagi dia terbangun, bermunajat kepada Pemilik Hidup, menangis dalam diam.

Ibuk masih menangis ketika berada di makam Ayah, mungkin dia merindukanmu, Yah. Dia sekarang menikmati usia tuanya di rumah, pergi ke pengajian ibu-ibu, berkeliling ke rumah anak-anaknya. Bertemu cucu, cicit.

Buk, terima kasih atas semua yang telah engkau korbankan untukku, waktu, tangis, keringat, dan mungkin darahmu. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu.

Terima kasih telah mendampingiku, membanggakanku, memelukku hangat, terkadang mencium pipiku.

Doaku, semoga hidupmu dipenuhi kebahagiaan, ketenangan, kelegaan, cinta kasih, dan kelak bisa bertemu kembali Ayah, bergandengan tangan, saling bertatap mata, kemudian tersenyum bahagia.

Selamat ulang tahun Ibuk, aku menyayangimu. Selalu.

–Teguh

#PeopleAroundUs #day03 @aMrazing