Mengunjungi Wakatobi

IMG_0193Berawal dari sapaan iseng ke teman yang sedang ada di Makassar, tiba-tiba dia mengajak untuk traveling bareng. Tadinya tempat yang akan dikunjungi nggak cuma satu tempat, selain Wakatobi juga tadinya akan ke Labengki. Tapi, jika ingin menginjakkan kaki ke Labengki harus mengumpulkan banyak orang untuk menghemat pengeluaran terutama penyebrangan. Sedangkan saat itu yang akan menyebrang cuma saya dan teman, jadilah Labengki harus ditunda terlebih dahulu. Next trip InsyaAllah.

Jumat pagi saya ke Jakarta menggunakan kereta, sampai di Jakarta langsung ke Bandara, Kendari tempat ketemu teman. Karena dia harus kondangan teman SMAnya, sehingga saya pun ke Kendari. Di Kendari menginap satu malam, sebelum menyebrang ke Bau-Bau.

Sabtu pagi jam sepuluh sebenarnya ada kapal langsung menuju Wangi-Wangi (sebagian orang masih mengenalnya dengan Wanci) tapi karena tadinya masih mengharapkan kepastian ke Labengki, melewatkan kapal langsung. Akhirnya menggunakan kapal cepat menuju Bau-Bau jam satu siang. Lima jam di kapal menuju Bau-Bau, sempat hampir turun di Raha, untung saja sempat bertanya ke Ibu-Ibu. Pada akhirnya harus menunggu satu setengah jam lagi menuju Bau-Bau.

Pengeluaran sementara:

Kereta Cirebon – Jakarta (bisnis) : 100.000

Bus Damri Gambir – CGK : 40.000

Makan siang di Bandara : 50.000

Pesawat Jakarta – Kendari : 900.000

Kapal Cepat Kendari – Bau-Bau : 185.000

Total sementara : 1.275.000

Di Pelabuhan Bau-Bau

Di Pelabuhan Bau-Bau

Kapal sampai di Bau-Bau jam 6 sore, ketemu temen. Bertanya ke dia, bagaimana rute yang baik jika ingin ke Wakatobi. Karena bagaimanapun dia pernah ke Wakatobi dan asli Bau-Bau akan sangat membantu. Sambil menikmati kasuami (makanan khas Bau-Bau, Wakatobi, dsk, yang terbuat dari ubi) dan ikan bakar kami mengobrol ringan.

Kasuami dan Ikan Bakar

Kasuami dan Ikan Bakar

Sebenarnya paling enak tujuan pertama adalah pulau terluar, sebenarnya pulau terluar itu Binongko, tapi Binongko kurang peminat dan dikenal sebagai pulau pandai besi, sampai kami terpengaruh. Sehingga pulau pertama itu Tomia, baru kemudian ke Kaledupa, Pulau Hoga, baru terakhir di Wangi-Wangi.

IMG_0142

Tempat Tidur di Kapal

Tadinya kami mencari kapal yang langsung menuju ke Tomia, tapi kapal dari Bau-Bau ke Tomia, ternyata tidak setiap hari ada, dan dalam waktu-waktu tertentu saja. Akhirnya kami memutuskan ke Wangi-Wangi terlebih dahulu, memakai kapal kayu yang menempuh waktu 9 jam perjalanan. Jam sepuluh malam kapal berlayar, jam tujuh pagi sudah tiba di Pelabuhan Wangi-Wangi.

IMG_0198Kami dijemput supir teman, karena teman kami sedang berada di Kendari. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Puncak Tindoi, untuk berfoto latar tulisan ‘Wakatobi’. Baru kemudian ke Pemandian Goa Kontamale, air di sini seperti terisolasi, dan rasanya tawar dan sangat jernih. Digunakan orang sekitar untuk mandi,dan mencuci pakaian. Sayangnya sampah banyak ditemukan, bahkan baju koyak yang menggantung. Selepasnya kami ke rumah teman, untuk mandi dan sarapan, jam sepuluh kami menyebrang ke Tomia.

Kapal Tomia - Wangi-Wangi

Kapal Tomia – Wangi-Wangi

Kapal dari Wangi-Wangi menuju Tomia itu memakan waktu tiga jam perjalanan. Di kapal, teman mengobrol dengan orang-orang yang juga menyebrang, mungkin keberuntungan sedang menyapa, orang yang kami ajak mengobrol ternyata juga bisa menjadi guide di sana. Karena kami tidak tahu seperti apa di Tomia, kami mengiyakan. Namanya Bapak Alimudin, Kepala Desa Temoane, jadi bisa memilih untuk tinggal di guest house, atau di penginapan. Jika di guest house tarif yang ditetapkan 50rb perorang tanpa makan, jika dengan makan menjadi 75rb, sedangan di penginapan rata-rata tarifnya 80rb tanpa makan. Untuk motor dapat disewa perharinya 60rb, kami menyewa motor untuk dua hari. Setelah beristirahat sebentar Pak Ali mengajak kami ke Benteng Patua, hampir sejam kami berkeliling di tempat ini, sambil Pak Ali menceritakan tentang Benteng ini, tempat-tempat yang dikunjungi. Setelah puas berkeliling, kami diajak ke Puncak Tomia untuk menunggu matahari terbenam.

IMG_0296Di Puncak Tomia, ternyata sudah banyak yang juga menunggu senja turun perlahan, banyak muda-mudi, sambil bercengkrama. Ada yang berjualan jagung bakar dan semacamnya tapi kami kebetulan tidak berminat. Bagaimanapun sore itu indah, warna-warna yang ditampilkan di langitpun indah.

IMG_0318Setelahnya kami dibawa ke pasar malam, banyak makanan kecil, manis-asin, juga kasuami pp (kasuami yang dapat bertahan seminggu tanpa bahan pengawet), dan beberapa makanan lainnya. DI Tomia, listrik menyala dari jam lima sore hingga pagi hari, sementara pagi hingga sore beberapa kecamatan bergiliran untuk mati dan nyala.

IMG_0287Sampai ke rumah, kami kelelahan dan tertidur pulas.

Pengeluaran Sementara:

Kasuami + Ikan Bakar + Teh Botol : 40.000

Kapal Bau-Bau — Wangi-Wangi 160.000

Transport di Wangi-Wangi : gratis

Sarapan : gratis

Kapal Wangi-Wangi — Tomia : 150.000

Total Sementara : 350.000

Esok paginya kami menuju tempat sunrise di bukit Temoane, tapi ternyata terhalang bukit dan tidak bagus, lalu lanjut ke tempat yang menyediakan fasilitas diving, dari teman kami, dia menyarankan untuk menghubungi Mas Budianto, pemilik Tandiono Dive Centre. Kami mengobrol masalah harga dan waktu berangkat ke laut, spot untuk diving. Menurut Mas Budi, baru bisa ke spot jam sebelas siang, dan untuk biaya disetujui 500rb perorang, untuk yang tidak memiliki lisensi diving, jika punya akan lebih murah, dan spot yang akan dikunjungi adalah Mari Mabuk.

IMG_0396Maka untuk menunggu diving, kami meminta Pak Ali untuk ke spot snorkling. Maka Pak Ali meminjam alat snorkling ke kantor taman nasional Tomia, biaya peminjaman alat snorkling 25rb perorang. Kami dibawa ke Pantai Hondue, dengan Pak Basri dari Taman Nasional yang menemani. Well, di Pantai Hondue ini banyak sampah di Pantai, katanya karena angin Barat (atau timur ya?) maka ngebawa sampah ke Pantai. Bisa juga karena kebiasaan orang-orang di kapal yang buang sampah sembarangan, hasilnya sampah-sampah mereka sampai di pantai mereka sendiri.

IMG_0358Waktu snorkling airnya sedang surut. airnya jernih, karangnya sudah ada dekat pantai. Kami harus naik perahu kayu hingga ke perpindahan laut dangkal hingga dalam. Dan karangnya berwarna-warni, ikannya banyak, dan kami snorkling puas di Hondue.

Setelah selesai, kami bergegas ke tempat Mas Budi, namun singgah terlebih dahulu untuk makan siang di penjual bakso yang ternyata orang solo. Harga bakso telur di sini 20rb, sementara bakso spesial 25rb. Makan sekarang untuk tenaga diving.

Jam satu, kami baru ke laut, saat Mas Budi mem-briefing saya cuma berusaha menghafal jika saya panik, menggerakkan telapak tangan seperti ombak laut. Karena ini bakal jadi pengalaman diving pertama saya. Saya tidak terlalu pandai berenang. Dan saya takut saya panik, dan semua keindahan bawah laut Wakatobi akan jadi kenangan semata.

This slideshow requires JavaScript.

Teman saya (Kery) turun duluan diving, sementara saya mengobrol sama pengemudi kapal. Katanya dulu spot ini belum memiliki nama, kemudian orang barat yang menamainya mari mabuk. Tidak berasa 45-50 menit berlalu, dan Kery muncul dari dasar laut, jantung saya berdenyut lebih kencang. Mas Budi beristirahat sejenak sebelum akhirnya memasangkan tabung oksigen ke badan saya, mengikat pemberat di perut, saya berusaha membiasakan diri dengan pernafasan mulut, telapak tangan saya basah, jantung mungkin sudah irama ireguler. Dan akhirnya saya masuk ke dalam laut.

IMG_0428Baru beberapa meter masuk ke dalam, telinga saya sungguh kesakitan, saya berusaha melakukan manuver untuk mengurangi rasa sakit, tapi beberapa manuver dan tindakan masih menyisakan rasa sakit. Saya berusaha menepuk Mas Budi, memberikan tanda di telinga, dan dia dengan sabar menunggu. Dan saya merasakan perbedaan tekanan ini beberapa kali, dan Mas Budi sabar sekali.

Kami turun perlahan, dan pemandangan laut Tomia sungguh indah, banyak terumbu karang, koral berwarna-warni, ikan bergerombol kesana-kemari, warna-warni. Saya belum pernah diving ke tempat lain jadi saya tidak bisa membandingkan dengan tempat lain, tapi kata teman saya, Tomia lebih indah dari Bali, Raja Ampat, Karimun.

Untuk diver pemula dan tanpa lisensi biasanya pemandu tidak akan berani melewati angka kedalaman 10 meter, dan kebanyakan 8 meter, tapi Mas Budi membawa saya sampai ke kedalaman 13 meter, dan dia dengan tanggap meminta berpose di bawah laut, untuk diabadikan, dan dia tidak asal memotret.

Dan kata Kery, dia pemandu terbaik, setelah dia tiga kali sebelumnya diving di tiga tempat berbeda Bali, Raja Ampat, dan Karimun Jawa. Terima Kasih Mas Budi.

IMG_0486Sorenya setelah kami kembali ke Puncak Temoane untuk melihat sunset, mataharinya bulat, namun ketika turun, warnanya tidak semenarik kemarin. Malamnya kami disuguhi makanan Tihe, atau bulu babi, bulu babinya disiram dengan air panas, setelah itu, bulu babi dibuka, dibersihkan dan dimakan. Malamnya kami packing untuk besok pagi kembali ke Wangi-Wangi.

Rencana awal adalah kami ke Kaledupa, kemudian ke Pulau Hoga, tapi rencana tinggal rencana karena keterbatasan waktu, kami tidak jadi ke dua tempat itu, dan langsung ke Wangi-Wangi.

Sebelum subuh kami dibawa ke Pantai Huntete, untuk melihat matahari terbit, lagi-lagi pantai ini penuh sampah, perjalanan yang dibutuhkan dari Temoane ke Huntete setengah jam menggunakan sepeda motor, dan jalananannya berliku. Sebelumnya hujan mengguyur Tomia, sehingga matahari malu-malu untuk bersinar. Kami menikmati sejenak matahari, sebelum kembali pulang dan dibawa ke Pelabuhan untuk menyebrang ke Wangi-Wangi.

Pengeluaran Sementara:

Pak Ali mengeluarkan kuitansi biaya yang dihabiskan

Biaya 2 hari 2 malam guest house, motor, makan, peminjaman alat snorkling, guide : 385.000 perorang

Diving : 500.000

Kapal Tomia — Wangi-Wangi : 150.000

total sementara : 1.035.000

DI Wangi-Wangi kami dijamu teman kami, Yasin, kami diajak memutar Wangi-Wangi, lalu ke resort yang dimiliki Bupati Wakatobi, tadinya kami hendak diving di Wangi-Wangi, tapi orang yang memiliki tempat dan lisensi tidak dapat dihubungi, jadilah kami cuma snorkling di Sombu, meminjam alat snorkling di dekat pantai Nirwana, 50rb/orang lalu langsung nyebur ke Sombu. Karangnya banyak yang mati, harus agak jauh dulu, atau ke perbatasan dalam dan dangkal baru lumayan. Tapi suasananya menyenangkan. Dan hujanpun turun deras.

Malamnya sebelum pulang kami dijamu makanan khas Wakatobi, namanya Perangi, ikan karang segar yang dicacah halus, kemudian dicampur dengan jeruk nipis dan bawang. Rasanya jangan ditanya karena sungguh enak, segar, tidak menemukan amis di sana, dan manis sekali. Bikin ketagihan!

IMG_0629Malamnya kami menyebrang ke Bau-Bau, saat naik ke kapal sebenarnya kami ditawari untuk membeli nasi bambu bakar Wakatobi, tapi apadaya perut sudah penuh, dan kami menolaknya. Dan di kapal kami tidur nyenyak sampai Bau-Bau.

IMG_0590Di Bau-Bau kami dijemput teman kami, Syawal. Lalu diajak berkeliling Bau-Bau, di Benteng yang katanya terpanjang di dunia, Benteng Keraton Buton, lalu lanjut di tiang bendera yang terkenal, sebelum langsung ke air terjun Tirta Rimba, dalam waktu singkat, karena saya harus segera berangkat ke Jakarta jam 11.50 WITA. Sebelum ke Bandara kami makan Kambewe, makanan dari jagung yang dihaluskan dan dikukus dengan dicampur gula merah. Lumayan mengganjal perut.IMG_0623Jam 10.50 saya sudah ada di Bandara Bau-Bau, untuk menunggu pesawat ke Jakarta, dengan satu kali transit di Makassar. Jam 15.00 saya sudah sampai di Jakarta, kemudian saya langsung ke Gambir untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Cirebon.

Pengeluaran:

Pinjam alat snorkling : 50.000

Kapal Wangi-Wangi — Bau-Bau : 160.000

Kambewe : 5.000

Tiket Pesawat Bau-Bau — Jakarta : 1.100.000

Makan siang : 50.000

Damri CGK – Gambir : 40.000

Kereta Jakarta – Cirebon (Eksekutif) : 125.000

Total sebagian : 1.530.000

Total: 1.275.000 + 350.000 + 1.035.000 + 1.530.000 = 4.190.000

Untuk lebih menghemat bisa memakai pesawat langsung dari Jakarta menuju ke Wangi-Wangi, harga pesawat berkisar di angka 1,1 – 1, 2 juta untuk rate yang murah. Tapi kalau ingin merasakan lebih lama di laut bisa dicoba. Untuk urusan telekomunikasi, sinyal yang paling bagus tetap Telkomsel, terutama untuk internet. Indosat cuma bisa digunakan untuk sms dan telpon di Wakatobi, sedangkan XL benar-benar hilang sinyal.

Bawalah kamera yang layak pakai, seperti kamera pocket, DSLR, karena akan merasa menyesal seperti saya. Jika ada waktu lebih lama, seminggu kayaknya akan lebih puas menjelajah Wakatobi.

Nomor Penting :

Pak Alimudin (Tomia) : 082193811741 — silakan menghubungi Pak Ali, rencanakan tempat yang mau dikunjungi, dan tempat tinggal di Tomia.

Mas Budianto Tandiano : 085241592923.

Berkenalan dengan Homeschooling

Sebenarnya ini bukan cerita langsung untuk promo program yang lagi booming di Indonesia. Tapi lebih kepada pengalaman mendampingi (sebagai seorang dokter) untuk siswa-siswa kelas 7 – 12 salah satu homeschooling di Jakarta.

Dapat tawaran untuk menjadi tenaga medis sebenarnya mendadak karena memang lagi jobless lebih karena memang belum berniat memasukkan lamaran pekerjaan di rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Makanya ketika ada tawaran pekerjaan kenapa enggak. Pertama di Jakarta, bisa mengisi waktu luang, dan yang kedua adalah untuk bertemu teman-teman lama.

Sampai di sekolah tepat jam 7 pagi. Saya sudah mulai memerhatikan tingkah laku anak-anak ini. Hal pertama yang saya lihat adalah kebebasan dalam memakai anting-anting, sebenarnya apakah sekolah swasta (juga) memperbolehkan anak didiknya untuk menggunakan perhiasan ini?

Balik lagi, saya lupa menjelaskan kalau kegiatan kemping ini merupakan salah satu bagian dari kurikulum, dimana dimasukkan ke dalam nilai raport mereka. Jadi sangat wajar seharusnya mereka mematuhi tata tertib yang berlaku.

Kedua yang terlihat adalah kebiasaan merokok, menenteng bungkus rokok dengan bebasnya. Baru terlihat mereka merokok dengan bebasnya ketika sudah berada ditempat kemping, guru-gurunya hanya diam melihat. Saya iseng bertanya ke salah satu guru mereka.

‘Memangnya bebas ya, mbak, siswa merokok’

‘Nggak sih, kak, harusnya nggak boleh.’

Belum lagi ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka. Kebanyakan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan ditempat pendidikan. Pun terlebih kepada guru mereka sendiri dunia perhewanan muncul semua. Apa pendidikan di sebuah homeschooling lebih dititikberatkan kepada ilmu pengetahuan dibandingkan tata krama. Bagaimana mereka bersikap?

Tapi akhirnya saya mendapatkan sedikit penjelasan dari entah siapa, karena belum sempat berkenalan.

‘Maklum, Mas, sebagian dari mereka sudah tidak diterima oleh sekolah umum. Karena apa yang telah mereka lakukan’ saya hanya mengangguk pelan, ‘Di sini menjadi semacam penjembatan untuk mereka bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi–universitas’

Saya hanyut mendengarkan Ibuk ini. Jadi mungkin bukan homeschoolingnya yang salah, tapi memang balik lagi ke siswanya sendiri. Tempat ini hanya wadah, untuk mereka belajar. Tapi mereka juga ingin mengubah tata krama siswa dengan denda berkelipatan. Semakin sering mereka melakukannya maka mereka semakin mahal untuk bayar. Tapi semua ini harus ditandatangani oleh muridnya di awal semester.

Hal yang saya baru tahu (juga) adalah bahwa homeschooling nggak hanya berkutat guru dipanggil untuk mengajar di rumah. Tapi ada juga sistem mereka datang ke pusat pendidikan untuk belajar, bedanya adalah waktu. Karena homeschooling tidak seperti sekolah lain yang 5 – 6 hari belajar dalam seminggu tetapi 3 hari beraktivitas, namun hanya 2 hari yang digunakan untuk belajar formal. Dan memadatkan kurikulum.

Salutnya dari homeschooling adalah kita nggak hanya menemukan anak-anak normal dalam suatu komunitas, tapi juga anak-anak berkebutuhan khusus, ternyata pendidikan mereka nggak hanya bisa ditempuh di Sekolah Luar Biasa, tapi juga homeschooling. Saya sempat bertemu dengan anak autisme, dan tuna rungu.

Kadang, kita memerlukan bersentuhan dengan hal-hal yang tidak kita tahu untuk paham. Bukan lagi sekedar tahu, tapi juga mengalami suatu pengalaman menarik untuk dijadikan suatu pembelajaran.

 

–Teguh Rasyid

[Lombok] Menengok Indahnya Pantai Seger dan Batu Payung

Pantai Seger Luar

Pantai Seger Luar

Minggu kemarin (31 April 2013) mungkin sudah waktunya lagi untuk melihat dunia luar, karena biasanya hanya terpaku dengan rutinitas itu-itu saja. Meskipun banyak waktu luang, tanpa hari libur karena senin hingga sabtu tetap masuk pagi. Tapi rasanya malas meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum dijamah oleh kami.

Dengan lima orang yang lain, kami pun menekadkan hati untuk melihat Batu Payung, menurut info yang diberikan akun twitter @infolombok laut menyurut memungkinkan kita bisa menjangkau Batu Payung dengan berjalan kaki.

Dan awalnya mengira Batu Payung terletak di Pantai Seger, jadilah kami menetapkan tempat pertama yang dikunjungi adalah Pantai Seger (untung ke tempat ini, karena saya belum pernah ke sini).

Perjalanan ditempuh kira-kira satu jam dari Gerung. Memang ya, sebenarnya kalau wisata Pantai itu seperti berjudi. Untung-untungan. Mengapa saya sebut untung-untungan? Karena keindahan pantai akan berlipat jika gugusan awan tersusun indah diatas biru langit yang memukau.

Kita nggak akan tahu keindahan tempat itu ketika mendung, atau indahnya akan dibawah standard jika kita tidak menemukan rangkaian awan yang seakan menyambut kita.

Makanya mungkin pantai ini akan lebih indah jika langit lebih semarak dengan banyaknya awan putih. Tapi tetap saja pantai di Lombok tidak ada yang jelek. Pasir putih, langit biru (jika tidak mendung) laut hijau biru yang berpadu padan dengan harmoni.

Selama beberapa saat kami menikmati pantai yang masih terasa kurang pengunjung. Meskipun bagi saya, sedikitnya pengunjung adalah surga bagi yang ingin menikmati pantai dalam keheningan.

Kami memikirkan bagaimana ke Batu Payung, karena tidak ada jalan, bahkan perahu yang bersandar dan (biasanya) menawarkan untuk menyeberang. Dan akhirnya mengecheck ulang, apakah benar letak Batu Payung di Pantai Seger. Tanjung Aan adalah tempat yang seharusnya kami tuju, karena Batu Layar letaknya sebelah timur pantai ini.

Ada jasa penyebrangan menggunakan perahu sebenarnya. Tapi jika keuangan terbatas, atau lebih menyukai berjalan kaki akan lebih menyenangkan soalnya. Bisa parkir di bukit setelah Tanjung Aan. Meskipun tempat itu tidak pantai disebut tempat parkir.

Menuju

Jalanan menuju tempat itu cukup licin, ini karena pantai yang menyusut, bebatuan masih dipenuhi dengan lumut kehijauan. Sehingga menyebabkan sedikit licin untuk ditapaki makanya harus sedikit berhati-hati.

Menapaki Bebatuan

Ada keraguan sebenarnya kenapa tidak sampai-sampai juga, apa benar Batu Payung terletak dibelakang bukit itu? Bahkan ada yang sempat berkomentar apa @infolombok telah menipu kami.

Batu Payung

Kekhawatiran itu seketika lenyap, ketika pada akhirnya kami menemukan batu yang berdiri kokoh sendirian, jika kita lihat dari sisi yang lain akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda.

Di satu sisi tampak lebar, tapi disisi lain begitu tampak ramping. Tempat ini konon sering dijadikan tempat foto pre-wedding, pernah dijadikan tempat iklan, pun tempat syuting.

Kami meluangkan beberapa waktu sejenak untuk menikmati keindahan tempat ini, mengambil beberapa gambar, sebelum kembali ke Gerung, karena rutinitas esok hari sudah menunggu.

Lombok adalah keindahan tiada akhir. #DongAyoKeLombok

Gili Nanggu

This slideshow requires JavaScript.

Gili Nanggu merupakan jajaran Gili yang ada di Lombok, NTB. Mungkin bagi sebagian banyak orang belum cukup mengenalnya dibandingkan dengan Gili T atau Trawangan.

Tidak heran, jika dibandingkan dengan jajaran Trawangan, wisatawan baik domestik maupun wisatawan luar tidak begitu banyak. Pun fasilitas yang disediakan, minim sekali. Lihat saya penginapan yang tersedia di sini cuma ada satu, kemudian tidak adanya penjaja makanan.

Ada untungnya juga sih, karena kita bisa fokus untuk melihat pemandangan, bersnorkling ria. Tapi akan menjadi masalah kalau kita kelaparan, karena harus menyebrang dulu ke Gili Sudak untuk menikmati santap makanan sederhana (Bukan dari segi harga sih) yang tentu saja nggak jauh-jauh dari seafood.

Dan boleh dibilang lebih menyenangkan bagi orang yang lebih menginginkan ketenangan, kesunyian. Tapi jika lebih suka hingar bingar, pesta mungkin pilihan paling tepat ya Gili Trawangan.

Lebih mengasyikkan lagi adalah peminjaman alat-alat snorkling bisa dibilang lebih murah, biasanya sudah ditawarkan pada saat kita hendak menyebrang.

Mengenai tempat snorkling, kalo bagi saya pribadi tidak kalah dengan Gili Trawangan, dan dengan lokasi yang tidak jauh dari pantai memudahkan kita untuk menjelajahi.

Jika Gili Trawangan kita perlu menyewa kapal lagi, maka Gili Nanggu tidak perlu. Kecuali kalo  mau snorkling di Gili Kedis.

Gili Nanggu, surga lain yang ada di Lombok. (Kayaknya Surga lebih apik sih!)

Aku dan Blackberry suka Laut! #BBBaru

Blackberry pertama kali dikenalkan pada tahun 1999 oleh perusahaan RIM (Research in Motion) yang berpusat di Kanada, tapi tahukah jika modal yang untuk membangun perusahaan RIM, Lazardis mendapatkan pinjaman uang dari orang tua temannya setelah dia dikeluarkan oleh Universitas Waterloo, di tempat itu dia belajar Teknik Elektro.

RIM didirikan pada tahun 1984, pada tahun pertamanya RIM mendapatkan penghasilan satu juta dollar dengan 12 orang karyawan (Berryndo.com). Singkat cerita Blackberry masuk kawasan Indonesia pada tahun 2004, pertama kali oleh perusahaan Indosat dan kemudian dua perusahaan besar lainnya salah satunya excelcom (Wikipedia.com). Sejak mulai saat itulah Blackberry menjadi salah satu perangkat elektronik yang memiliki pesona sendiri, terutama dengan kemampuan BBM (BlackBerry Messenger).

*****

‘Guh, beli BB gih, supaya komunikasi antara kita lancar!’ Ujar seorang teman yang mengeluhkan saya tidak memiliki perangkat ini. Karena biasanya mereka ngomongin kemana mereka akan jalan-makan lewat grup BBM.

Dan tebak, saya lebih memilih untuk cara tradisional yaitu sms-ria. Dan saya tidak ada masalah dengan itu, karena menurut saya sms lebih merekatkan, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa kasih (prett).

Pada tahun 2011, setelah saya kelar koass, dan kampus mengharuskan magang pasca koass, tiba-tiba kakak menelpon.

‘Kamu mau BB, gak?’

‘Ya, kalo gratisan siapa sih yang nggak mau?’

Akhirnya dimulailah petualangan per-BlackBerry-an saya. Awal punya, saya pake Storm 2, karena entah kenapa saya sangat suka jenis BB ini. Ada perasaan puas saat mengetik pesan, ber-BBM-an, ada bunyi yang akan selalu saya rindukan.

Rasanya semenjak punya hape ada yang berbeda dari hidup saya, meskipun nggak jauh beda sih. Tiap bangun bukan lagi melihat jam berapa, tapi apakah ada BBM, atau mention-an twitter yang nyangkut, ya selain jam juga sih.

Saya bukan orang yang terpaku sama gadget sih sebenarnya, jadi gak tiap detik ngeliat layar, tapi memang agak berbeda, karena sekarang bisa browsing, chatting, nge-twittfacebook-an dari satu gadget (dulu hape pegangan saya gak berwarna cuy! Apalagi berinternet! haha).

And i do love so much this phone! Apalagi kualitas kamera yang baik, meskipun batre yang sungguh boros karena sehari bisa untuk tiga kali charging. Dan waktu itu ada promo-promo murah dong dari setiap provider tapi memang yang paling murah adalah program 100rb/3bulan yang dikeluarin XL!

Hidup tampak lebih mudah dengan pengontrol dalam genggaman kita. Jika butuh informasi penyakit, obat-obatan tinggal searching! Maklum katrok karena ini adalah hape tercanggih pertama yang saya miliki selama hidup saya (lebay!).

Dan saat pengundian tempat internship ternyata nasib menempatkan saya di Lombok, pulau surga yang dikelilingi oleh alam yang indah, laut yang biru terang, terumbu karang yang terasa menggoda untuk dijamah (Jangan dijamah! nanti rusak!).

Saya mencintai pulau ini, karena keindahannya, kemahsyurannya. Pada minggu pertama saya di Lombok saya dan teman-teman langsung pergi berlibur ke Gili Trawangan!

Ya, Gili Trawangan yang terkenal itu! Meskipun tetap saja tidak akan ramai seperti Bali. Tapi saya sungguh menyukai suasana yang ada di sini. Mengelilingi pulau dengan bersepeda, menanti turunnya senja di bagian barat, atau dengan sabar menunggu terbitnya mentari pagi.

Image

Mentari Pagi di Gili Trawangan (Dok. Pribadi)

 

Saat matahari tepat diatas kepala, mungkin saat yang tepat untuk bersnorkling ria, untuk bercumbu ria dengan ikan, mensyukuri keindahan bawah laut, dan yang terpenting adalah belajar berenang! haha…

Dan, saat nyemplung di Gili Air, saya tanpa sadar tidak memeriksa ulang barang-barang yang masih saya kantongi, mungkin karena terlalu bersemangat jadinya lupa kalo BB masih ada di kantong celana pendek.

Image

saat si Bebe ada dikantong celana, sebelum mata berkaca-kaca (Dok. Pribadi)

Saat keluar dari air, langsung saya keluarkan, coba keringkan, dan menitipkan ke teman sebelum nyemplung lagi di area snorkling berikutnya, meskipun rasa sedih terasa.

‘Udah kaya ya, Guh, BB ikutan snorkling!’

Dan ternyata BB tercinta tidak kembali ROSC (Return of Spontaneus Circulation) hingga saya kirim ke kakak untuk dicoba untuk dibetulkan di Jawa. Hasilnya nihil, sedih rasanya harus kembali menjadi orang yang gaptek kembali, tidak bisa memantau perkembangan twitter, mencari informasi baru, ngeblog. Ah, kenangan lama!

Image

#BBBaru dan Hape lama tercinta (Dok. Pribadi)

Tapi kemudian kakak menawarkan BlackBerry baru yang lebih murah, tidak bisa saya cintai seperti BB yang lama, tapi Stormy memberikan saya pelajaran berarti, jika engkau hendak snorkling, coba lagi cek di kantong celanamu, apakah ada barang yang tertinggal atau tidak.

Karena sesal selalu berada diakhir cerita dan itu semua tidak ada artinya. Dan semoga mengambil hikmah ceritanya ya teman-teman! 🙂