In Memoriam

‘Dok, bisa kasih komentar buku baru saya?’ Ujarnya suatu hari. Beberapa kali kami mengobrol tentang dunia tulis menulis, bagaimana beliau menembus penerbitan mayor, dan berusaha memberikan informasi tentang cuci darah kepada pasien yang lain.

Namanya Lien Auliya, usianya lebih dari 35 tahun. Matanya masih memancarkan semangat yang tidak padam, meski sudah delapan hampir sembilan tahun seminggu dua kali melakukan cuci darah. Sudah ratusan, mungkin ribuan tusukan jarum yang keluar masuk kulitnya. Dia tidak mengeluh. Bahkan berusaha membagikan semangatnya melalui tulisannya.

Saya ingat dalam buku terakhirnya yang belum terbit, satu hal yang belum dapat ia raih dalam kehidupannya adalah menikah. Bagaimana susahnya mencari seorang suami ketika calon istri mereka sakit menahun, setiap minggunya harus merelakan tangannya bercinta dengan jarum besar, kondisi tubuh yang kadang lemah.

Banyak yang mundur, tapi mengendurkan doanya untuk bertemu jodohnya.

Dan Allah menjawab semua itu, beberapa bulan lalu dia dilamar oleh seorang pria yang juga menderita gagal ginjal stadium akhir, (juga) melaksanakan cuci darah rutin. Mereka saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mbak Lien tampak cantik berbalut baju penganting berwarna putih.

Dan ketika semua yang telah diinginkannya tercapai, Allah ternyata lebih mencintainya. Selamat jalan, Mbak Lien Auliya, semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, dan engkau tinggal memetik buah kesabaranmu.

Terima kasih atas semua yang sudah pernah kita bicarakan, ilmu yang tiada habis, dan kebaikan yang tak pernah padam.