Review: Cipta Hotel Pancoran

Sebenarnya acara Arisan Film yang biasanya dibikin untuk kumpul teman-teman blog Multiply awalnya tanggal 17 Januari, dan saya sudah mengosongkan jadwal untuk ke Jakarta dan ikut ngumpul. Tapi karena satu dan lain hal diundur jadi tanggal 30 Januari. Sempat ngambek beberapa hari karena tanggal segitu saya ada jadwal jaga. Dan harus me-refund hotel yang sudah terlanjur dipesan.

Selama beberapa hari saya tidak memikirkan AF karena sudah terlanjur jengkel.

Seminggu sebelum AF, setelah saya sudah reda, saya berusaha mencari pengganti jaga tanggal 30, ketika senior dapat menggantikan saya sehari setelahnya saya membooking kereta dan penginapan selama di Jakarta.

Jumat, 29 Januari 2016

Saya sampai di stasiun Jatinegara jam 13, menggunakan gojek menuju hotel pertama Cipta Hotel di Jl. Pasar Minggu, tepat di sebelah Amaris Hotel.

DSCF0057

‘Maaf boleh check in awal?’ karena saya nyampe hotel jam 13.30.

‘Sudah reservasi sebelumnya, Pak? Atas nama siapa?’

‘Sudah, atas nama Teguh.’ lalu dibantu resepsionis laki-laki, ‘Bapak special request double bed ya, berarti kasurnya dua.’

‘Iya, saya pesan double bed. Tapi kalo double bed itu kasurnya queen size kalo twin bed baru dua.’ lalu malah si resepsionis laki-laki ini ngotot, dan sepertinya sudah jengkel.

Kemudian resepsionis perempuan mengulurkan brosur, yang intinya tipe kamar yang saya pesan memang twin bed tidak bisa diganti untuk double bed. Coba dari awal bilang begitu, nggak perlu ada yang merasa dibodohi, tersinggung.

DSCF0060

‘Kami memang fokusnya untuk corporate, Pak!’ ya, kan tapi…

Sampai kamar kesannya sempit, pemandangan dari kamar terhalang oleh Amaris Hotel, dan bantal kecil yang ada di kedua kasur ada bercak-bercak kehitaman, dan seperti bekas iler yang mengeras. Ada karpet, ketel pemanas air dan cuma tersedia teh.

DSCF0059

Besok paginya saya turun ke lantai dua untuk sarapan, variasi makanan kurang, tapi rasa makanannya lumayan. Setelah kelar makan saya masuk ke lift langsung pengin ke kamar, tapi apa yang terjadi? kartu yang saya pakai macet, tidak bisa digunakan. Jadilah saya turun ke lantai satu untuk komplain.

Mas resepsionisnya memasukin kartu ke alas, meng-klik komputer beberapa kali dan setelah dia yakin dia memberi kartunya kembali ke saya. Saya yakin saja kalo kartunya sudah berfungsi dengan baik.

Masuk lift, pintu lift sudah tertutup. Saya menempelkan kartu saya, tapi tidak berespon. Saya membolak-balikkan kartu tetap tidak ada respon. Saya panik karena lift kan tempat sempit dan saya tidak begitu menyukai tempat sempit. Sempat berpikir untuk membunyikan alarm, tapi saya melihat celah di lift. Saya pun membuka paksa lift tersebut kemudian saya kabur ke resepsionis untuk kembali komplen. Setelah resepsionisnya bolak-balik lift-komputer baru bisa digunakan kartunya.

Saya pun naik ke atas, lalu saat di depan kamar saya menempelkan kartu saya di depan sensor untuk membuka pintu. Tapi kartu saya ditolak mentah-mentah. Saya coba bolak-balik mencoba tapi hasilnya nihil. Saya dengan jengkel turun kembali dari lantai sembilan ke lantai dasar, untuk komplen.

Tapi yang saya baru sadari, tidak ada kata maaf dari resepsionisnya, cuma membenarkan, padahal apa yang dialami seorang pelanggan murni kesalahan hotel. Bahkan saat untuk check-out pun saya merasa dijutekin sama resepsionis, tidak ada senyum, bahkan ucapan terima kasih pun tidak ikhlas.

‘Mbak mau check-out,

‘Kamar berapa, Pak?’

‘918.’

‘Oh dari Traveloka. Terima Kasih.’ Tanpa melihat orang yang dihadapinya.

Balik lagi ke Cipta Hotel Pancoran? Tentu tidak.

Advertisements

Buku : Dong Ayok Ke Lombok!

Dong Ayok Ke Lombok!

Judul Buku : Dong Ayok Ke Lombok!

Penulis : Ari Diatmika, dkk.

Halaman : 180 hlm.

Penerbit : Dimensi Publishing

Harga : 40 ribu.

Dengan slogan ‘Cuma Setengah Jam dari Bali’ buku ini dipublikasikan untuk lebih mengenalkan Lombok, pantai Lombok nggak hanya Pantai Senggigi, tapi ada banyak pantai indah yang tersebar diseluruh Lombok.

Di dalam buku ini ada 31 pantai yang ada di 3 bagian Lombok. Lombok Barat, Tengah, dan Timur.

Bagian pertama tentang Kawasan Mandalika Resort. Mandalika dulu dikenal dengan nama ‘Kuta’ tapi karena ingin lepas dari bayang-bayang Bali, maka dirubahlah menjadi Mandalika–bahkan ada kisah rakyat tentang Putri Mandalika, event ‘Bau Nyale’ menangkap cacing laut yang berwarna-warni kemudian menggunakannya untuk bahan makanan.

Pas saya di Lombok, sebenarnya ada sih, tapi karena harus menginap soalnya kegiatan menangkap Nyale itu dilakuin sebelum subuh, akhirnya malas lah saya. Hahaha…

Ditutup dengan bagian enam mengenai Kawasan Senggigi. Kawasan Senggigi aja punya setidaknya enam pantai yang berbeda. Mulai Senggigi, Kerandang, Setangi, Malimbu, Nipah, Sira.

Buku ini disusun secara alphabetikal, mulai dari Kawasan yang digali, penulisnya, mungkin untuk mempermudah. Tapi saya merasa akan lebih tepat untuk menggabungkannya menjadi tiga bagian besar. Lombok Barat, Tengah, dan Timur.

Pantai Lombok memang identik dengan pasir putih, langit biru, pemandangan yang indah. Tapi lagi-lagi semuanya akan sesuai dengan apa yang kalian bayangkan kalau tepat waktunya.

Karena pantai itu tergantung waktu, kalo datang pas musim hujan, mendung, keindahan sebuah pantai akan tergradasi. Kadang harus berulang kali datang ke tempat yang sama untuk menyadari betapa indahnya sebuah objek wisata.

Untuk informasi yang disampaikan di dalam buku cukup lengkap. Ada rute perjalanan, biaya masuk, dan beberapa mencantumkan sejarah mengenai pantai itu sendiri.

Mungkin yang mengganggu saya adalah masalah kertas buku itu sendiri. Keras, tidak seperti buku perjalanan lainnya. Mungkin karena diterbitkan melalui penerbit indie, dengan harga 40 ribu, bisa dibilang lumayanlah. Kalau mau fotonya nampak lebih bagus, akan memperbaiki kertas yang bisa jadi mengakibatkan naiknya ongkos produksi, dan harga 40 ribu mungkin akan meningkat entah jadi berapa.

DSC_0188

Jadi, Dong Ayok Ke Lombok!

Kalo mau memesan buku ini silakan hubungi @ONOFFLombok 🙂

Review : On A Journey

Judul Buku : On A Journey

Penulis : Desi Puspitasari

Penerbit : Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : 262 halaman

Harga : Lupa, tapi dapat diskon beli di TM.

On A Journey

Ini kisah tentang Rubi Tuesday seorang penulis, yang ironinya bukan lahir dihari selasa, kisah patah hati yang bikin Rubi melakukan perjalanan buat melupakan sakit hatinya. Dalam perjalanannya dia belajar banyak.

DSC_0181

Kalau kata penulisnya, enggak perlu menunggu patah hati untuk melakukan perjalanan. Ada benarnya juga, perjalanan dilakukan nggak hanya karena patah hati, tapi kadang adanya keinginan untuk menjernihkan pikiran, melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Tapi patah hati mungkin menjadi titik tolak yang biasanya menjadikannya motivasi kuat untuk melakukan perjalanan.

Seperti halnya Rubi yang melakukan perjalanan karena dia patah hati terhadap sahabatnya sendiri. Melakukan perjalanan dengan  uang seadanya, sepeda butut, dan ransel jeleknya.

Sebenarnya menarik jika membaca buku-buku perjalanan. Karena dari sebuah perjalanan kita bisa kenal, tahu, petik sesuatu yang baru. Kita belajar–dan akan lebih menetap dalam ingatan ketika kita terlibat sendiri.

Saya sangat menyukai bagaimana Mbak Desi memilih diksi yang tidak njelimet tapi terkadang jadi berpikir–kenapa nggak pernah kepikiran pake diksi itu? Seperti tercermin dari cerpen-cerpen yang pernah dia buat.

Oke, mungkin penilaian fair enough untuk novel ini. Karena entah kenapa saya seperti kurang mengenal siapa Rubi, bagaimana perawakannya, karena yang terlintas dalam pikiran saya Rubi Tuesday adalah Desi Puspitasari, tapi Desi menggunakan jilbab, sedang Rubi tidak.

Pun saya merasa saya tidak cukup ditunjukkan bagaimana setting perjalanan Rubi, karena terkesan begitu saja, bla dilanjutkan bla, terus bla, diakhiri dengan titik. Mungkin juga karena saya tipe yang suka detil, makanya sedikit terganggu. Jadi susah membayangkan, ikut terlibat dalam perjalanan Rubi itu sendiri.

Karena sebenarnya hidup itu perjalanan. Dan saya membaca buku ini pada saat memang saya melakukan perjalanan di Yogyakarta, setelah (juga) patah hati. Hahaha… 😀

Buku yang menghibur, seseorang yang sedang patah hati dan juga melakukan perjalanan. Ada beberapa kutipan yang menarik bagi saya.

Kenapa kau tidak pergi keluar sebentar, kenapa tidak mencoba melihat pemandangan lain, melakukan perjalanan?‘ Istanbul oleh Orphan Pamuk –Dalam On A Journey hlm. 8

Rubi menjelaskan kepada Stine mengenai ‘paparan penulis’ dia bilang, ‘Petak rumput, tembok putih, silau matahari, kulit jeruk, wangi vanili, dan… lain-lain. Di tangan seorang penulis, hal-hal biasa seperti itu bisa mereka paparkan dengan bahasa mereka dan entah kenapa terasa begitu hidup…’ hlm. 19

Belajarlah tertawa. Masalahmu tidak lebih besar dan berat dari apa-apa bila akhirnya kau telah berhasil melaluinya’ –hlm. 125